Tampilkan postingan dengan label Pdt. Rudy Pranoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pdt. Rudy Pranoto. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2009

Apakah hidup manusia itu???

Pdt. Rudy Pranoto
05 Juli 2009
Mazmur 8, Kejadian 5:21-32


Ketika kita membaca Kejadian 5, apakah hidup manusia hanya seperti itu. Waktu Allah mencipta, Dia mengatakan bahwa hal itu baik, namun ketika Dia selesai menciptakan manusia Dia mengatakan bahwa hal itu sungguh amat baik. Manusia adalah mahkota ciptaan, mahluk yang dicipta begitu mulia, supaya melalui manusia segala kemulian dikembalikan kepada Allah. Manusia harus menguasai alam untuk memuliakan Allah. Pada ay 1 kita melihat ada doxologi yang dinaikkan, dengan tujuan itulah manusia mengisi hidupnya. Katekismus Westminster pada pertanyaan dan jawaban pertama mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah. Dalam Kej 5 kita melihat tidak ada suatu yang patut dicatat, manusia hanya hidup beranak, dan mati. Kita kadang tidak berpikir, bila kita lihat, apa sebenarnya hidup kita, kita hidup menjadi besar, sekolah, kerja, menikah dan pada akhirnya mati. Hidup kita hanya mengulang siklus seperti itu, bila kita tidak mengerti hidup seperti ini sangat kering dan membosankn. Apa yang dapat di-share-kan (dibagikan) dalam hidup seperti ini??? Namun dalam ay 21-23 ada catatan yang beda dengan yang lain. Henokh bergaul dengan Allah selama 300 tahun, kita melihat suatu yang berbeda, yaitu hal yang sangat penting dalam hidup, yaitu bergaul dengan Allah. Henokh dibanding yang lain justru umurnya paling pendek. Yang paling panjang adalah Metusalah (969).

Bergaul dengan Allah, ini sangat menarik.Henokh adalah keturunan ke 7; 7 adalah angka sempurna, disini kita melihat puncak kesalehan hidup manusia. Ini bukan berarti dia orang baik, surat Ibrani menyatakan bahwa Henokh adalah orang beriman, iman adalah pemberian Alah, dan iman itu menghasilkan buah (Yak 4). Kita melihat Henokh merupakan puncak kesalehan; Lamekh juga merupakan keturunan ke 7 dari Kain, namun dari Lamekh ini justru menjadi puncak kebejatan manuia. (Kej 4). Lamekh adalah orang pertama yang mulai melakukan poligami. Keturunan Henokh menurunkan Nuh. Henokh melairkan Metusalah, pada umur 187 dia memperanakkan Lamekh, sehingga dia hidup 782 tahun lagi setelah memperanakkan Metusalah. Waktu Lamekh melahirkan Nuh, dia berumur 182 tahun. Pada waktu Lamekh melahirkan Nuh umur Metusalah tinggal 600 tahun. Pada akhir hidupnya itulah air bah muncul. Apakah Metusalah mati sebelum atau mati karena banjir??? Kalau dia mati sebelum banjir, berarti dia diselamatkn, namun jika dia mati karena banjir, maka adalah orang yang tidak beriman karena yang beriman hanya 8 orang. Apakah manusia itu??? Ketika orang non Kristen berespon secara baik terhadap wahyu umum, kita orang Kristen bahkan bisa memiliki hidup yang lebih buruk. Ironis sekali bila kita sebagai orang percaya hidup kita berantakan, apakah yang kita pakai untuk mengisi hidup kita??? Henokh umurnya paling pendek dari yang dicatat pada bagian tersebut, namun hidupnya lain, dia dicatat bukan lebih sukses atau kaya, tapi hidupnya bergaul dengan TUHAN.

Dalam Teologi Sukses diajarkan bahwa orang yang diberkati adalah orang yang sukses, yang kaya dsb. padahal hal itu tidak ada dalam Alkitab. Ada kebahayaan disini. Bergaul dengan Allah berati dia akrab dengan Allah. Kalau dia bergaul berarti dia memfokuskan hidupnya untuk Allah, kalau kita hanya arahkan hidup kepada materi, maka hidup kita kecil sekali dan tidak berarti. Kristus adalah contoh, hidup dari makna, bukan dari rentang waktunya. Umurnya hanya 33,5 tahun namun hidupnya berkait senantiasa dengan Bapa yang di sorga. Apakah hidup kita sudah dikaitkan dengan kehendak Bapa yang di sorga??? Ini sangat penting. Kaya tidak salah jika kaya itu bisa dikaitkan dengan kekekalan, dengan kemuliaan Allah. Maka sekaya apapun kita, hidup kita nothing dihadapan Allah. Kita mungkin kaya raya, namun tidak ada artinya. Apa artinya merayakan ulang tahun tiap hari, apa artinya panjang umur bila hidup itu tidak ada bobotnya??? Seandainya kita tahu, kita akan mati pada umur 33 tahun apa yang akan terjadi; kita takut belum menikah, anak masih kecil; pikiran kita hanya takut mati. Kita tidak takut kalau hidup kita tidak punya makna, sebenarnya sepanjang-panjangnya umur, satu hari umur itu akan habis. Musa menyatakan bahwa tahun-tahun umur kita itu pendek, dan hidup itu adalah kesengsaraan (Mzm 90:10). Orang tua seing dihantui dengan ketidak bergunaan dsb. Dalam Ef 5: 15-16 Paulus berbicara mengenai waktu. Waktu berjalan secara linier, bukan sirkular. Waktu, menurut Agustinus seperti tali yang terus dibakar, waktu tidak berulang-ulang. Ada film yang diperankan oleh Michael J Fox mengenai mesin waktu; disana waktu bisa diulang-ulang, di timur juga ada konsep seperti ini. Namun waktu tidak bisa diulang. Kita manusia yang terbatas, hidup kita bukan masalah panjang pendeknya. Musa berkata, Tuhan ajarilah kami menghitung hari kami sedemikian agar kami beroleh hati yang bijaksana. Musa berpikir bahwa ketika waktu-waktu itu lewat, hidup harus makin bijaksana. Mzm 90:11 Musa mengaitkannya dengan murka Allah. Tanpa berkait dengan Allah, hidup kita adalah nothing.

Mengapa kita sulit mempermuliakan Allah??? Karena kita sudah menempatkan diri kita dalam posisi yang tidak tepat. Allah harus senantiasa diatas; manusia menguasai alam untuk memuliakan Allah. Namun manusia seringkali mau diatas Allah namun dibawah alam. Aneh, kadang kita mau mengatasi Allah, namun kita rela dibawah alam. Kita tidak sadar bahwa ketika uang, kesuksesan jadi sasaran kita, berati materi (alam) ada di atas kita; ini ada keterbalikan. Pada waktu kedudukan, kekayaan, pengetahuan, kuasa politik jadi tujan hidup manusia, segala sesuatu yang dalam kesementaraan jadi tujuan hidup kita, maka kita sudah bergeser kebawah, kita dikuasai oleh alam.

Dalam gereja-gereja tertentu, ada orang yang mau mengatur Allah, kita mau mengatasi Allah. Allah seolah bisa disetir oleh kita, berarti kita lebih berkuasa dari Allah. Konsep yang mengatakan bahwa dengan sogokan, upeti (apapun itu: uang, persembahan, pelayanan) Allah bisa kita perintah, adalah konsep agama yang salah. Kita harus membidik sasaran kita, yaitu Allah semata. Kristus adalah sasaran kita, Allah sebagai fokus hidup; kalau bidikan kita meleset, mungkin kita bisa jatuh, namun kalau meleset masih dekat. Jika fokusnya kita tidak tahu, maka segalanya menjadi kacau. Kita hanya pikir apa yang bisa kita nikmati; kita rasa sayang kalau ada orang mati muda, kita hanya mengukur umur orang berdasarkan panjang pendeknya, ini berarti berfokus pada kesementaraan saja. Paulus menyatakan bahwa kita adalah orang yang paling malang bila kita hanya meletakkan pengharapan kita pada kesementaraan (1 Kor 15:19 ). Lebih baik punya hidup yang mungkin tidak panjang namun bermakna; dari pada panjang namun tidak bermakna. Kita tidak bisa memilih kita dilahirkan seperti apa, namun kita bisa mengisi hidup kita untuk mempermuliakan Allah. Kristus mengarahkan seluruh hidup-Nya kepada seluruh kehendak Bapa.

Satu kali ada orang meninggal yang belum percaya namun keluarganya Kristen, dan waktu meninggal dia pakai ayat 2 Tim 4:6-7 di koran. Saya pikir kapan dia menyelesaikan pertandingan dengan baik, dia bahkan mungkin belum percaya, iklan itu cuma slogan belaka. Waktu kita berlari, kita ada tujuan, yaitu memuliakan Allah (1 Kor 9:24-26, Filipi 1:21; 3:13-14). Teman saya berkata kalau Kristus datang pada waktu nonton sinetron dia akan bilang wah sebentar saya habiskan dulu sinetronnya ya Tuhan, karena sinetron ini sungguh menarik. Mana yang kita pikir lebih baik, sekarang pergi ke sorga atau hidup dahulu baru nanti ke sorga. Hizkia ketika diperpanjang umurnya maka kerohaniannya merosot. Bertemu dengan Kristus sangat mulia, namun Paulus rela untuk terus hidup untuk memberi buah. Waktu Tuhan menyuruh Yunus ke Niniwe ada ancaman; ancaman itu terkadang perlu. Ancaman yang keras sering perlu. Ketika mati, kita dapat memilih apa saya tinggalkan, dan kemana saya pergi. Hidup penuh pergumulan, apakah saya sungguh-sungguh percaya pada Tuhan??? Bila bertemu Allah, apakah kita berani datang dengan suka kehadapan-Nya??? Henokh meningalkan catatan keturunan yang baik.Bila kita mati apa yang kita tinggalkan, pabrik, deposito??? Yang ditinggalkan adalah keturunan, anak, menantu. Kita diingatkan bahwa yang paling berharga adalah keturunan kita. Keturunan adalah estafet yang akan meneruskan iman. Saya pernah mendengar mengenai seorang bendahara yang sangat sibuk, dan setiap anaknya yang mau perlu sesuatu harus menulis di kertas dan dia akan memenuhi semua, bolehkah kita berbuat demikian??? Sering kita terlalu sibuk cari uang, uang perlu kita pikirkan, namun bergaul dengan anak-anak kita dan memberikan teladan jauh lebih penting. Henokh meninggalkan keturunan, dari Metusalah ada keturunan yang baik. Ada seorang yang benar-benar berpikir tentang masalah ini, Monica, ibu Agustinus, dalam confessions (Agustinus), Monica adalah ibu yang sangat dikagumi, ibu yang mencucurkan air mata untuk anak-anak. Istri saya ketika akan meninggal terus mau membekali anak-anak saya satu hal, yaitu takut akan Tuhan. Bagaimana kalau anak-anak kita jadi berandal??? Pdt. Stephen Tong bersaksi bagaimana ibunya terus mendoakan dan mendidik anak-anaknya untuk takut akan Allah. Seorang pengkhotbah bertanya pada anak-anaknya, siapa pengkhotbah yang terbaik, semuanya mengatakn: ibu. Ibu itu memiliki peran yang sangat mulia. Setelah anak-anak saya ditinggal mamanya, anak-anak saya sering bercerita tentang mamanya, hal ini menunjukkan bahwa peran ibu sangat penting. Ada 2 tempat dalam Pkh 1:7, rumah pesta dan rumah duka. Pengkhotbah menasihatkan kita bahwa pergi ke rumah duka lebih baik dari pada ke rumah pesta. Ini terbalik dari yang sering kita pikirkan. Mengapa demikian??? Di rumah dukalah ada akhir hidup manusia, disanalah kita diingatkan, suatu hari kita akan meninggalkan dunia ini, bagaimana hidup kita??? Di rumah duka kita diingatkan lagi apa yang ditinggalkan oleh orang yang mati itu. Kita merenung seperti teman David Livingstone yang terus menangis, dia mengingat bahwa mereka berdua dipanggil Tuhan untuk menjadi Hamba Tuhan, namun dia lalai terhadap panggilan tersebut, sementara David Livingstone telah setia sampai akhir hidupnya.

Saya harap kita merenungkan hal ini, apakah hidup kita ini, kemana kita akan pergi dan apa yang kita tinggalkan. Amin.

(Ringkasan khotbah sudah diperiksa oleh pengkhotbah – KK)
GOD be praised!!!

Jumat, 03 Juli 2009

Allah - Yunus, Niniwe, dan kita

Pdt. Rudy Pranoto

28 Juni 2009

Yunus 3:1-10

Dalam bagian yang kita baca, ada suatu perintah yang sama yang diulang kembali seperti yang ada dalam Yunus 1. Pada waktu itu Yunus melarikan diri dari perintah ini, dikatakan disini: “bangunlah, pergilah ke Niniwe.” Apakah waktu itu Yunus sedang dalam perjalanan ke Niniwe, seandainya demikian mengapa ada perintah lagi??? Disini ada penegasan lagi yang serius. Sebenarnya dalam ay 2 Yunus mungkin pergi ke Yerusalem untuk membayar nazar dan pulang ke rumahnya. Setelah itu mungkin terjadilah perintah ini. Disini ada jangka waktu, sehingga mungkin ada berita tentang kejadian Yunus ditelan di dalam perut ikan yang sampai kepada rakyat Niniwe. Yunus dingatkan kembali berita yang dahulu ditolaknya. Pekerjaan seorang hamba Tuhan seperti Yunus adalah menyampaikan apa yang diinginkan oleh Allah, sehingga semestinya dia tidak menentang. Namun Yunus adalah orang yang seringkali beargumen dengan TUHAN. Argumennya adalah bahwa bila Niniwe bertobat maka itu membahayakan Israel. Itu adalah alasan-alasan yang bersifat humanis. Allah pasti sudah mengerti. Ada perkataan bangunlah, namun dalam bahasa Inggris Yunus 1:2 ditulis against (menentang) namun dalam Yunus 3:2, cry unto (berteriak kepadanya) disini ada belas kasihan TUHAN. Ada hati yang mengasihi, kadang TUHAN berbicara keras namun terkadang lembut, disini ada perintah yang jelas. Seorang ayah biasa mewakili keadilan TUHAN, seorang ibu mewakili kelembutan TUHAN. Banyak wanita ingin menjadi pria, emansipasi wanita dsb. sehingga ada pertanyaan bernada tidak terima apakah Allah itu laki-laki, mereka bernyanyi she's got the whole world (lagu aslinya adalah He's got the whole world). Allah bukan monopoli laki-laki, ini adalah rasionalisasi yang keliru. Wanita itu sebagai istri yang lebih lemah namun sebenarnya equal. Orang merumuskan bahwa yang jantan harus itu laki-laki, Golda Meier (mantan PM Israel yang wanita) mengatakan mengapa yang jantan harus laki-laki??? Saya juga jantan, katanya. Ada yang menarik dalam lukisan Rembrant tentang anak yang hilang, tangan Bapa yang merangkul anak yang hilang itu satu tangan laki-laki dan 1 tangan perempuan, Allah itu memiliki kelembutan namun juga ketegasan. Kita harus mengenal Allah secara utuh.

Yunus sudah memberontak namun dia tidak dibuang oleh Allah, ini adalah kasih karunia yang sangat hebat, hal ini seharusnya membuat kita menghargai. Kalau kita bisa melayani bukan karena TUHAN butuh kita, namun itu adalah hak istimewa yang semestinya kita hargai. Ay 3-4 Yunus pergi ke Niniwe sesuai dengan Firman Allah. Mengapa Allah tidak membimbing Yunus langsung dari perahu langsung ke Niniwe, namun dia harus melalui perahu, ikan, baru ke Niniwe??? Ini menunjukkan bahwa bila Allah mau memakai maka Allah akan terus mendapatkan kita. Terkadang saya merasa mengapa begitu banyak tugas, ini adalah dosa karena bila kita bisa bertugas itu adalah anugerah TUHAN. Kesadaran anugrah adalah hal yang sangat perlu.

Niniwe adalah kota yang sangat besar. Mengapa orang-orang yang sangat jahat terus ditolong oleh Allah??? bandingkan Mzm 8:4-6, kita melihat siapa sebenarnya kita ini; Allah tidak butuh kita, ini semestinya menyadarkan kita bahwa kita adalah orang-orang yang mulia. Kota itu 3 hari perjalanan luas nya, lalu Yunus berjalan sehari perjalanan jauhnya, ada orang yang menafsirkan bahwa dia kurang serius, namun ada yang bilang itu serius karena pengalaman dalam perut ikan itu menyadarkannya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi itu untuk membuat kita bisa refleksi diri, apa yang mesti saya lakukan. Disini Yunus tidak takut lagi menghadapi Niniwe; makin orang merasakan kebahagiaan Allah, seharusnya dia makin berani melaksanakan tugas pelayanannya. Mereka bisa mengerti bahasa Yunus, bukankah Yunus orang Ibrani??? Yes 36:11-13 mereka mengerti apa yang dikatakan Yunus meski Yunus bukan orang Niniwe. Dalam pemberitaannya Yunus berkata bahwa 40 hari lagi Niniwe akan ditunggang balikkan. Bagaimana mungkin berita yang singkat itu bisa mempertobatkan Niniwe??? Kata menunggang balikkan itu pernah juga dipakai untuk Sodom dan Gomora, itu adalah khotbah yang sangat keras. Dalam khotbah yang keras ada kasih Allah yang ingin dinyatakan. Unsur kasih sering kita lihat hanya dalam satu segi saja, yaitu pemberian, padahal kasih itu mengajar dan menyatakan keadilan TUHAN. Kata-kata ini dikatakan untuk Sodom juga, disini mereka mengenal bahwa Sodom telah dimusnahkan, apakah pengertian seperti ini penting??? Waktu Musa membicarakan hikmat; hati yang bijaksana dihubungkan dengan murka TUHAN (Mzm 90). Bila kita bijaksana kita perlu mengerti murka Allah. Itu dikatakan kepada orang-orang Niniwe seolah seperti ancaman, namun ancaman itu perlu. Ada orang yang terus menolak Injil, dan ketika di neraka dia akan berkata mengapa kamu tidak paksa atau mengancam saya supaya saya percaya Tuhan??? Kita kadang sungkan untuk mengancam, padahal memang ada suatu hal yang menakutkan yang harus kita sampaikan. Hal ini mengingatkan kita, pernahkan kita menginjili teman-teman kita, bahkan “mengancam” mereka. Ancaman kematian merupakan orang tua dalam kehidupan. Disini ada sifat paradoks, dalam ancaman ada stimulan. Jangan segan untuk mengancam dia agar dia terus berpikir. Ketika orang yang kita Injili ada di neraka maka mereka sudah tidak ada alasan untuk menuntut lagi. Hal ini unik dalam pemberitaan sedemikian Niniwe bertobat.

Ketika mereka bertobat tidak ada jaminan pengampunan, mereka hanya berharap: siapa tahu Allah mengampuni (ay 9). Bagaimana dengan kita yang sudah mendapatkan jaminan akan pengampunan dosa tersebut??? ini sangat ironis, seorang yang tidak ada jaminan tetap mau bertobat, bahkan sampai semua diikut sertakan. Ada penafsir yang mengatakan bahwa binatang yang tidak berakal disuruh untuk mengerti mengenai hukuman Allah melalui rasa lapar; ini bukan kecerobohan raja, mungkin ini adalah kesadaran yang samar akan murka Allah. Orang-orang Niniwe percaya bahwa teriakan binatang yang lapar itu akan didengar oleh Allah dan hal itu nanti dikonfirmasi bahwa Allah menyertakan binatang ternak sebagai alasan pengampunannya (4:11). Pertobatan raja dan penduduk Niniwe itu menunjukkan bahwa penggungaan kain kabung tidak terbatas pada Israel saja (Yeh 26:16). Dalam 8b mereka bukan hanya melakukan hal-hal lahiriah, namun mereka benar-benar bertobat dari dosa-dosa mereka. Calvin menyatakan bahwa puasa, kain kabung, bila tidak disertai hati maka hal itu justru bisa membangkitkan murka TUHAN. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka bertobat, ini adalah suatu refleksi bagi kita, kita sidah tahu jaminan pengampunan, namun kita tetap tidak mau bertobat. Raja pun bertobat, bagaimana dengan kita. Ada yang berkata, ada orang ingin bertobat, namun tidak mau meninggalkan hal-hal lahiriah kebesaran, kenikmatan dsb. disini sang raja memakai kain kabung, dia tidak memakai kain ungu (pakaian kebesarannya). Sang raja menanggalkan kedudukannya dan mau merendahkan diri, karena dia takut kepada Allah yang adalah Raja diatas segala raja. Bila hal itu bisa terjadi, maka hal itu adalah karena Allah sudah memberikan benih iman kepada mereka. Kita harus merenungkan hal ini, mereka bertobat meski tidak ada jaminan pengampunan. Yoel 2:14 kalau mereka hanya medengar ancaman dan mereka bertobat, namun kita yang ada jaminan, kita jauh lebih berengsek dari pada Niniwe, biarlah ini menjadi perenungan buat kita. Niniwe ini dijadikan pembanding oleh Tuhan Yesus, ini adalah suatu hal yang penting sehingga Tuhan membandingkannya. Mat 12:41, khotbah Yesus ini membandingkan orang-orang pada zaman-Nya dengan Niniwe, Yesus lebih besar dari Yunus namun banyak yang tidak bertobat, padahal pada waktu Yunus berkhotbah, Niniwe bertobat. Kita mempercayai kedaulatan TUHAN, namun Alkitab juga mengajarkan mengenai tanggung jawab manusia. Maunsia melakukan berdasarkan tanggung jawabnya; siapa yang bersalah akan dihukum, kita tidak dapat mempersalahkan TUHAN. Pertobatan Niniwe dipakai untuk menunjukkan ketegar tengkukan bangsa Israel yang tetap tidak mau bertobat. Ini sangatlah ironis dan mengingatkan kita semua. Abraham yang tidak ada Firman (Alkitab seperti kita), dia taat tiap perkataan TUHAN, TUHAN berfirman sekali dan dia taat; namun kita yang sudah memiliki Alkitab, Dia berkata banyak kali namun kita tidak taat. Orang Israel tidak bertobat, pertanyaannya pertobatan Niniwe itu sejati atau bukan??? Tidak mungkin seluruh kota bertobat, karena segera kota itu bermusuhan dengan Israel dan Yehuda; namun ada yang bertobat juga dengan sungguh-sungguh sebab bila tidak bagaimana mungkin Yesus berkata bahwa mereka bertobat. Niniwe akhirnya memang jatuh lagi kedalam dosa, Niniwe dihancurkan oleh Cyaxares dan sekutunya pada tahun 606 SM.

Ay 10, menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya, dan Dia tidak jadi melakukannya. Menyesal bukan berarti Allah salah. Hal ini jelas menyatakan belas kasihan Tuhan. Dari menghukum menjadi tidak menghukum, disini ada satu dinamika yang merupakan keunikan dalam diri Allah. Dari apa yang kita sudah baca ini, kita melihat Allah menubuatkan kehancuran Niniwe. Secara esensi, Allah tidak berubah, namun dalam dinamikanya dia berubah. Apakah Allah mengampuni Niniwe karena pertobatan mereka??? Pertobatan mereka adalah karena iman (5), iman ini diperlihatkan dengan perbuatan pertobatan mereka, iman tanpa prbuatan adalah mati. Perbuatan bukan melengkapi iman yang belum cukup, namun iman itu ditunjukkan melalui perbuatan. Ini adalah renungan bagi kita semua untuk melihat diri kita agar kita belajar untuk mengenal Tuhan; bila Dia masih berbelas kasihan, janganlah kita bermain-main, namun serius.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah -KK)

GOD be praised!!!

Selasa, 30 Juni 2009

Sabda Bahagia

Pdt. Rudy Pranoto
28 Juni 2009
Matius 5: 1-12

Khotbah di bukit sudah sangat terkenal bahkan perikop ini juga terkenal di kalangan orang non Kristen, Mahatma Gandhi sering membaca khotbah ini, dia adalah orang yang punya cinta kasih persaudaraan yang sangat dalam dan sangat dipengaruhi oleh khotbah ini. Namun banyak orang yang mengerti kebenaran itu baru ada dalam ruang lingkup wahyu umum. Nilai-nilai Alkitab lebih dari itu, bila kita tidak dilahir barukan, sampai kapan pun kita tidak akan mengerti. Gandhi waktu membaca bagian ini memang dipengaruhi namun dia tetap tidak bisa menjadi Kristen karena dia kecewa dengan orang Kristen. Dalam suatu perjalanan dia direndahkan oleh orang Inggris yang Kristen. Paulus berkata bahwa kita adalah surat terbuka, karena itu kita harus menjadi teladan agar orang melihat kemuliaan Allah. Orang Kristen disebut Kristen justru oleh orang kafir yang melihat suatu perbedaan dalam diri orang Kristen, setiap mereka bertanya mereka diberi tahu bahwa mereka adalah pengikut Yesus Kristus. Kemarin di Persekutuan Wanita dikatakan bahwa hidup kita dikontrol pikiran, namun kita harus tahu bahwa pikiran kita harus dikendalikan oleh Firman. Dalam bukunya, Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa rasio bukan penentu, rasio harus tunduk kepada kebenaran Firman

Banyak yang berkata bahwa khotbah di bukit itu adalah inti khotbah Yesus. Injil Matius sangat sarat dengan tema Kerajaan Allah. Yesus Kristus memanggil murid-murid-Nya, ini adalah persiapan untuk membangun Kerajaan Allah. Tuhan memanggil mereka untuk mendirikan Kerajaan itu. Mat 4 Yesus mengajar, memberitakan Injil (peresmian Kerajaan Allah), lalu Mat 5 ini ada 8 sabda bahagia. Kalimat yang pertama, datanglah murid-murid kepada-Nya. Yang mendengar adalah orang banyak dan para murid. Matius mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang kepada-Nya. Dalam mengajar Yesus membangun relasi dahulu dengan murid-murid, setelah orang-orang itu memiliki hati yang mau belajar barulah dia mengajar. Hal in menekankan bahwa ini seolah bersifat eksklusif. Bukankah eksklusifitas sering diserang??? Suatu hari ada orang yang beragama lain datang ke gereja saya, dulunya dia biasa-biasa saja, lalu sekarang dia ikut STRIS. Dia memikirkan kata eksklusif, jika ada orang sungguh memberitakan Injil, berpuasa, orang tersebut sering dikatakan eksklusif. Kita bukan mengeksklusifkan diri kita, namun Tuhan Yesus yang memisahkan kita. Kita ini dibedakan dari yang lain, itulah yang disebut Qados (kudus), yaitu dibedakan/dikhususkan dari yang lain. Kita sering tidak sadar siapa kita dihadapan Tuhan. Ada gejala yang tidak baik diantara orang Kristen, sering kali kita tidak sadar hal yang basic (dasar), kita sering mengajak orang untuk berdoa untuk melayani, namun sebelumnya orang yang diajak itu harus sadar bahwa dia menerima anugerah, dia diangkat menjadi anak, bila dia sadar hal ini maka dia akan menghargai anugerah Tuhan, bila dia tetap tidak menghargai anugerah tersebut berarti dia adalah orang bebal dan mungkin dia belum menerima anugerah Tuhan. Orang yang banyak diampuni adalah orang akan banyak berbuat kasih, sebenarnya setiap orang Kristen adalah orang banyak diampuni, kita harus sadar bahwa kita sudah banyak diampuni, hal in harusnya memicu hidup kita untuk semakin mengasihi dan memuliakan Tuhan.

Dalam perumpamaan tentang menabur benih, ada orang yang takjub namun benih Firman itu mati dan tidak bertumbuh, bila kita mengatakan bahwa suatu khotbah itu bagus, namun hal itu tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam hidup; sebenarnya mungkin memang bukan orang Kristen sejati (Ibrani 6). DalamYoh 2:24 dikatakan bahwa Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena mereka cuma mau mujizat, mau apa yang keluar dari Tuhan, namun bukan Tuhan sendiri, bukan sang Pemberi namun pemberiannya. Dalam pelayanan kadang kita mengalami pergumulan, dan kita harus mengerti dan memiliki interaksi dengan orang yang kita layani. Saya berkata pada orang yang saya layani bahwa setiap masalah yang terjadi dalam hidup kita adalah ujian iman, seringkali Tuhan menguji orang yang dikasihi-Nya. Hidup ini adalah proses pergumulan yang panjang.

Ay 2, Yesus mulai mengajar, disini ada satu yang harus didengar. Lidah itu berbahaya, bisa membangun dan bisa merusak juga. Yang dikatakan Yesus adalah sesuatu yang sangat penting. Kita terlalu sering berbasa-basi, tanya apa kabar dan lalu menjawab baik. Suatu hari ada orang bertanya apa kabar, dan saya jawab ada baik ada buruk, dan dia kaget karena terlalu sering mengeluarkan kata-kata klise dan mendengar jawaban basa basi. Apa yang kita katakan harus menjadi message. Richard Baxter berkata bahwa setiap dia berbicara, dia berbicara seolah saya sekarat dan berkhotbah kepada orang yang sekarat yang mungkin tidak akan bisa bertemu lagi dengan dia. Setiap kita berkhotbah kita harus serius, apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus bukan sekedar basa-basi, namun itu menjadi berita (message). Waktu membaca ayat 8 sabda bahagia ini kita berpikir bahwa ini adalah ideal yang kita tidak bisa lakukan. Yang kedua berpikir bahwa ini adalah sangat praktis dan gampang dilakukan, namun keduanya salah. Hal tersebut sulit namun bukan tidak bisa dilakukan.

Tuhan Yesus memulai dengan kata berbahagialah. Kita harus belajar spirit paradoks, suatu hal yang seolah bertentangan. Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, yang miskin di dalam roh. Terlebih lagi kata berbahagialah orang yang berduka cita, ini adalah paradoks. Dalam Mzm 51:18,19 dikatakan bahwaTuhan tidak suka dengan korban, Tuhan tidak menerima pelayanan namun dia berkenan pada hati yang hancur. Bila orang rajin pelayanan justru membuatnya congkak, maka dia akan dibuang Tuhan. Saya terkadang ingin marah bila pengurus-pengurus tidak memberikan teladan, namun disisi yang lain saya bersedih hati dan berdoa untuk mereka semua. Saya belajar terus, pelayanan itu berani memperhadapkan diri di hadapan Tuhan apa adanya. Saya tidak punya andil atau jasa, namun anugerah Tuhan itu sangat besar. Karena itu kalimat pertama adalah berbahagialah orang yang merasa rendah, tidak cinta Tuhan, bobrok, dan rapuh. Pengakuan dan kesadaran bukan sekedar sadar dan tahu namun ada langkah lanjutnya. Pada orang yang berzinah Tuhan berkata: “Akupun tidak menghukum kamu, tetapi jangan berbuat dosa lagi”. Bila saya tahu anugerah Tuhan itu besar, maka saya tidak bisa mempermainkannya. Bila Tuhan mau memakai itu adalah anugerah. Karena itu berbahagialah orang yang tidak mempunyai apa-apa, ini memakai kata ptochos, ptochos diartikan orang yang benar-benar tidak punya apa-apa, seperta janda miskin yang yang cuma memiliki 2 peser dan ketika dimasukkan uang itu maka dia sudah tidak punya apa-apa lagi, inilah arti miskin disini. Kebangunan rohani yang sejati selalu dimulai dengan hancur hati; kita tidak dipanggil untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita perlu memiliki kesadaran akan kemiskinan diri kita sendiri. Jemaat Laodikia merasa kaya, namun Tuhan mengatakan bahwa mereka miskin. Kita perlu untuk memiliki kesadaran akan hal ini. Waktu saya masih muda ada seorang coach (pelatih) dari luar negri yang berkata bahwa sepakbola Indonesia tidak bisa menjadi juara dunia karena tidak mengerti basic nya. Mat 7 mengatakan sama-sama bangunan namun beda basic, akhirnya yang dibangun diatas pasir akan roboh. Ini adalah basic, tidak ada yang kita bisa berikan kepada Allah, dan bila kita sekarang bisa melayani, itu hanyalah anugerah Allah. Orang Farisi berdoa membanggakan diri, menganggap diri benar dan mengganggap rendah yang lain, kontras dengan pemungut cukai yang memohon belas kasihan Tuhan. J.M Boyce menyatakan bahwa dia sudah melihat mengenai darah yang dipercikkan - kata hilastheti adalah bentuk kata kerja dari perkataan “tutup pendamaian” yang terdapat diatas tabut perjanjian TUHAN di dalam kemah (hilasterion) . Abraham belum tahu bahwa Kristus mati, namun dia memiliki iman yang melihat jauh, ini adalah iman penebusan (Allah yang menghidupkan orang mati) (Rm 4:17), padahal Abraham hanya tahu bahwa Allah adalah Pencipta (menjadikan dengan Firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada), dia memiliki iman yang menerobos. Pemungut cukai itu memiliki kesadaran akan penebusan itu, bila kita bisa baik maka hal itu adalah anugerah Tuhan.

Ay 4 berbahagialah orang-orang yang berduka cita karena mereka akan dihibur. orang yang merasa bahwa dia tidak bisa mengandalkan apapun dari dirinya, maka dia berduka cita. Taurat seharusnya menyadarkan bahwa kita tidak mampu melakukan Taurat itu dan memohon belas kasihan Tuhan. Namun sebaliknya orang-orang Israel justru sombong karena itu mereka dibuang Tuhan. Orang Kristen harus berduka cita karena kita tidak selalu berada dalam kondisi rohani yang baik. Pergumulan semacam ini sangat indah. Dalam kasus Ayub, Tuhan ingin supaya Ayub semakin mengenal Dia, bukan sekedar melalui kesaksian orang lain. Kta senang mendengarkan kesaksian orang lain, namun kita perlu untuk mengalami sendiri. Saya harap siapapun kita, kita memiliki pergumulan yang jelas, disitu iman kita benar-benar ditempa oleh Tuhan. Ini bukan suatu hal yang gampang. Bahagia itu tidak identik dengan senang-senang, bahagia itu bukan berarti tidak ada kesulitan. Pemimpin pujian sering salah dengan mengatakan bahwa kita harus bersuka cita, hal ini hanya pembiusan diri. Bila ada diantara kita yang menderita, saya menghargai pergumulan. Biarlah dengan hati yang apa adanya kita persembahkan diri kita dihadapan Tuhan. Biarlah kita bergumul. Mungkinkah seorang yang berduka cita berbahagia??? Dunia menjawab tidak, namun Tuhan menganggap kita berbahagia. Biarlah segala sesuatu yang bersifat dasar ini kita mengerti, dengan hati yang hancur kita bergumul, biarlah kita dipakai Tuhan demi kemuliaan-Nya. Amin.
(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – KK)

GOD be praised!!!

Kamis, 25 Juni 2009

Bercermin melalui Lot

Pdt. Rudy Pranoto

21 Juni 2009

Kejadian 13:5-13


Ketika kita berbicara mengenai Lot maka hal itu menjadi suatu cermin bagi kita. Waktu Abraham meninggalkan Urkasdim dia membawa Lot, keponakannya. Abraham dan Lot punya harta yang sangat banyak. Waktu itu terjadi pertengkaran antara hamba-hamba mereka karena banyaknya ternak mereka. Abraham mengambil solusi untuk berpisah dan Abraham memberi kesempatan untuk memilih bagi Lot. Ada kebesaran hati Abarham yang kontras dengan Lot. Abraham adalah orang tua yang mestinya lebih berotoritas namun dia memberi kepada Lot, tetapi Lot yang lebih muda dan mengikuti Abraham menunjukkan sikap ketidak tahuan dirinya. Masalah budi pekerti ini kurang diperhatikn orang, bahkan sampai pada zaman sekarang. Banyak orang berkata bahwa sekarang manusia diajar untuk makin pintar, namun sayangnya sangat kurang dalam hal sopan santun. Biasa kalau saudara bertamu paling tidak kita berkata kepada orang yang lebih tua: “Selamat pagi pak, apakah saya bisa bertemu dengan Joni???”. Namun ada orang yang mengeluh pada saya, karena setiap ada teman anaknya yang datang langsung berkata tanpa sopan santun : “Joni ada??? Benar-benar tidak tahu sopan santun.

Ay 11 (sangat mengagetkan saya), Lot tidak bertanya apa boleh saya mengambil tempat ini, dia juga tidak membiarkan Abraham, pamannya untuk memilih terlebih dahulu karena Abraham yang lebih tua. Masalah ini bukanlah hal yang baku, ini adalah masalah etika. Lot benar-benar tidak tahu diri. Dia bisa menjadi kaya juga karena belas kasihan Abraham, namun dia tidak sungkan untuk memilih tempat yang terlihat lebih subur. Kita tidak mendapat contoh disini, sebab Lot menempatkan harta sebagai hal yang utama. Harta memang perlu, namun kalau itu dijadikan orientasi, maka hal itu akan membawa kecelakaan. 1 Tim 6:10 mengatakan bahwa orang yang cinta uang akan menyiksa dirinya sndiri. Jangan kita hanya berpikir mengenai kesementaraan. Lot sangat mementingkan kekayaan dan itu menjadi orientasi hidupnya. Dengan demikian dia berani mengorbankan segala hal hanya untuk kekayaan. Lot berkemah di dekat Sodom, dan Alkitab langsung memberikan catatan bahwa Sodom telah sangat jahat dan berdosa. Tapi bagi Lot hal itu tidak masalah, yang penting baginya adalah itu wilayah yang paling makmur. Lot bukan menjauhkan diri dari Sodom yang jahat, namun pada pasal 14 dia malah pindah ke sana. Apakah Lot tidak tahu bahwa itu kota yang penuh dengan kejahatan??? Dia tahu karena dia pergi mendekat kesana sedikit demi sedikit. Dia bukan tertarik kepada dosa-dosa orang Sodom namun pada kemakmurannya. Lot dikatakan oleh surat Petrus (2 Ptr 2:8) bahwa dia adalah orang benar, karena itu hal ini menjadi cermin bagi kita.

Kata Sodom menjadi akar dari kata sodomi (sebuah hubungan seksual yang abnormal). Pada Kej 19 kita membaca mengenai orang-orang Sodom yang berkata mengenai tamu-tamu Lot, kata “memakai” itu berarti mereka mau memerkosa. Semua pria di kota itu mau “memakai”, tidak peduli orang tua, dewasa ataupun anak-anak, disini kita melihat kebejatan yang begitu jahat. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Lot, bagi dia, bagaimana dia mendapatkan sesuatu adalah hal yang lebih penting . Kita melihat solusi Lot kepada orang-orang itu yang sangat tidak etis, dia menawarkan anak-anaknya sendiri yang masih perawan untuk “dipakai” mereka. Disini kita melihat kerusakan yang begitu susah untuk dimengerti. Orang yang hanya melampiaskan seks benar-benar mirip binatang. Di dalam persetubuhan sebenarnya ada saling keterbukaan dan menikmati keindahan ciptaan yang paling indah, yaitu manusia, dalam hubungan suami istri yang kudus. Dlm Kej 19:34 kita melihat incest, seorang anak yang memperkosa ayahnya untuk mencari solusi mengenai keturunan. Dalam dua malam kakak dan adik memperkosa satu ayah, ini sungguh sangat bejat, disini kita bisa melihat pengaruh Sodom terhadap keluarga Lot, yaitu anak-anaknya sendiri. Kita hidup dalam dunia yang sudah bejat. Kota Sodom sudah begitu bejat, ini membuat Tuhan tidak bisa mentolerir. Lot tahu semua itu namun dia tetap mengejar harta. Dlm Yeh 16:49 kita melihat bahwa kota ini sangat kaya, ini sangat menarik hati Lot. Lot sudah kaya, namun dia terus hanya ingin memperkaya diri. Bila kita seperti ini, kita harus bertobat. Pada 1996 saya berhenti bekerja, saya berhentikan perusahaan saya karena saya mau merawat isteri saya. Disini ada pergumulan dan pertanggung jawaban dihadapan Tuhan, saya tidak mau hanya mengejar kekayaan. Lot sangat kontras dengan Abraham. Ketika dia sudah mapan, namun Tuhan memanggilnya, maka dia meninggalkannya semua kemapanan hidupnya, pergi ke tempat yang dia tidak tahu. Pada Kej 14, Lot semestinya memiliki kesempatan untuk meninggalkan kota itu, namun dalam Kej 19 kita melihat bahwa dia tetap kembali ke Sodom. Kenikmatan dunia bisa membuat orang lupa diri.

Lot adalah orang yang tidak punya kesaksian hidup. Kej 19:14 mengisahkan Lot yang ketika memperingatkan kedua bakal menantunya dia dianggap berolok-olok (bercanda) saja. Dlm 19:15 dikatakan bawha kedua malaikat itu mendesak Lot, dan ketika dia berlambat-lambat maka melaikat-malaikat itu menarik Lot sekeluarga. Lot berlambat-lambat dalam mengikut melaikat tersebut, ini sangat ironis. Dia sengaja berlambat-lambat, kalau bisa dia tidak meninggalkan kota tersebut. Kalau dia sendiri tidak berniat meninggalkan, wajar bila dia tidak didengar oleh para bakal menantunya, sebab hidupnya tidak menjadi kesaksian. Bila kita tidak menjadi kesaksian bagi anak-anak kita, kita hanya akan dilihat sebagai orang yang becanda saja. Kemarin, waktu memberikan konseling pra nikah, orang bertanya kepada saya mengenai cara mendidik anak, hal itu sebenarnya simpel, tentu itu adalah anugrah Tuhan, dan kita harus menjadi teladan hidup. Kita melihat pada akhirnya istri Lot menjadi tiang garam karena dia menoleh kebelakang. Hatinya ada di Sodom sehingga akhirnya dia menjadi binasa, menjadi tiang garam.

Lot adalah orang benar, namun dia tidak menularkan imannya kepada istri dan menantu-menantunya. Kej 19:26 dikutip oleh Lukas 17:32 sebagai peringatan untuk mengingat isteri Lot. Dalam kedatangan Yesus yang ke 2 kali, kita disuruh untuk mengingat isteri Lot yang begitu mencintai apa yang dimiliki di dunia ini. ini sangat kontras dengan Tuhan Yesus yang berkata apa gunanya memiliki seluruh dunia tetapi kita kehilangan nyawa kita.

Setelah mereka keluar dari kota tersebut, maka kita melihat dosa lain, yaitu anak-anaknya memperkosa dia. Kita melihat dia gagal mendidik isterinya (yang menjadi tiang garam) dan anak-anaknya (yang memperkosa dia). Lot tidak memiliki hidup doa yang baik, waktu Tuhan berkata bahwa kota itu akan ditunggang balikkan dia justru berlambat-lambat, berbeda dengan Abraham yang berdoa bagi kota tersebut. Abraham tidak sekedar berdoa untuk Lot (keluarganya), namun untuk kota tersebut. Abraham tidak sekedar family interest. Abraham berdoa untuk satu kota tersebut, Abraham tahu sekali seperti apa murka Allah itu. Abraham tidak berkepentingan dengan Sodom, dia tidak tinggal disana, namun dia tetap berdoa untuk kota yang bejat tersebut. Inilah orang yang sudah bertumbuh di dalam Tuhan, inilah hidup yang berkelimpahan sehingga serius bergumul dihadapan Tuhan. Kontras sekali dengan Lot yang benar-benar tinggal disana namun tidak pernah berdoa bagi kota tersebut. Kehidupan doa biasa dibagi berbagai macam, syukur, permohonan, pengakuan dosa, dsb. Namun dalam berdoa, kita sering hanya seperti kaset yang diulang-ulang, tidak ada pergumulan di dalamnya. Lot adalah seorang percaya yang meninggalkan warisan yang sangat jelek. Mana yang kita pilih, mendapatkan warisan dari orang tua kita, harta yang melimpah atau teladan yang baik. Bila kita hanya mendapatkan uang yang banyak maka celakalah kita. . Warisan rohani apa yang kita tinggalkan bagi keturunan-keturunan kita??? Kiranya kisah Lot ini menjadi ceriman bagi kita untuk kita belajar untuk terus bergumul. Amin.

GOD be praised!!!

Jumat, 05 Juni 2009

Pentakosta

Pdt. Rudy Pranoto

31 Mei 2009

Kisah Para Rasul 1:1-14

Dalam dunia ini banyak hal yang kurang dimengerti oleh murid-murid, bahkan merekapun tidak menyangka bahwa Kristus akan bangkit. Tuhan sudah berulang kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya namun mereka terus gagal menangkap. Seringkali kita mendengar Firman, namun kita sudah memiliki pengertian dan kepentingan sendiri. Mereka pikir Tuhan gagal, Dia telah mati namun Tuhan memakai wanita (yang kurang dihargai) untuk menjadi saksi kebangkitan. Hal ini membuktikan Tuhan berdaulat, dan Dia berhak untuk memakai siapapun yang Dia mau, ketika Dia mau memakai kita jangan kita take it for granted (memandang sepele); jangan menyia-nyiakan, belum tentu Dia mau terus memakai kita. Kita harus belajar untuk menghargai anugerah Tuhan. Mungkin Petrus dan Yohanes tidak iri kepada Maria, namun mereka tidak percaya ketika Maria mengatakan bahwa dia telah melihat Tuhan (yang sudah bangkit), mereka tidak percaya sebab mungkin mereka pikir mereka itu eksklusif, mereka adalah murid-murid terdekat Tuhan Yesus semestinya mereka yang menyaksikan lebih dahulu bila Dia bangkit. Thomas bahkan perlu bukti dahulu sebelum dia percaya, dia ragu terlebih dahulu dan bergumul sebelum akhirnya menjadi percaya, orang seperti ini tidak dibuang oleh Tuhan. Namun ada jenis keraguan kedua, keraguan yang berbeda dengan keraguan Thomas, yaitu keraguan yang semakin membawa orang kepada ketidak percayaan, ketika mereka ragu, mereka sudah memutuskan untuk tidak percaya, orang seperti ini dibuang oleh Tuhan. Dalam Mrk 9:24 ada kalimat yang unik, “aku percaya tolonglah aku yang tidak percaya ini”. Dia mau untuk percaya tetapi dia tidak sanggup untuk percaya, mereka adalah orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati tahu bahwa dirinya tidak bisa percaya. Yang menggerakkan orang untuk percaya adalah Tuhan. Roh Kudus berperan sangat penting. Ada 2 ekstrem dalam gereja, yang pertama mengatakan bahwa Roh Kudus hanya datang sekali dalam sejarah, yang kedua, tiap Petnakosta meminta untuk Roh Kudus turun lagi; mereka meminta jemaat untuk membersihkan hati, karena jika hati kurang bersih maka Roh Kudus tidak mau turun dan masuk dalam diri kita.

Keduanya salah, peristiwa Petnakosta hanya terjadi sekali, namun hal itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu bergumul untuk dipenuhi Roh Kudus. Tuhan sering mengajar mengenai konsep kerajaan Allah yang nda dimengerti oleh orang-orang Yahudi. Ketika Dia datang, Dia merepresentasikan (mawakili atau menggambarkan) kehadiran Allah yang sempurna, Dia juga merepresentasikan manusia yang taat sempurna kepada Allah. Dan hal itu memberikan gambaran yang utuh mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kita sebagai hamba-hamba-Nya taat kepada Bapa sorgawi. Kerajaan Allah berbicara mengenai ketaatan yang penuh. Disini kita melihat paham transendensi. Kalau Dia Raja maka kita adalah hamba. Hal ini bukan berbicara bahwa bila Dia Raja maka kita adalah anak Raja. Yang pertama (Dia Raja dan kita adalah hamba), berbicara mengenai kewajiban, namun yang kedua (Dia Raja dan kita anak Raja) terus menuntut hak. Bagi orang yang mengerti, mereka akan menunt diri untuk bekerja dan taat bagi Tuannya. Sama-sama mengaku Yesus adalah Raja bisa memiliki 2 konsep yang sangat berbeda.

Disini dikatakan mengenai dibaptis dalam Roh Kudus. Waktu Yohanes Pembaptis mengatakan mengenai hal ini, dia berbicara mengenai kapak dan api, hal ini adalah mengenai penghakiman. Banyak gereja yang tidak suka berbicara mengenai penghakiman, mereka takut kehilangan jemaat. Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat tajam dalam menegur, namun hatinya sangat rindu untuk menaati Allah. Berbicara mengenai kapak, berarti berbicara mengenai pemisahan. Api dimaksudkan sebagai penghukuman, namun juga berarti sebagai pemurnian iman. Kita perlu untuk mengalami banyak sengsara dalam pendewasaan iman untuk mendapatkan kemurnian. Berlian hanyalah karbon, yaitu karbon yang ditekan dengan kekuatan yang sangat besar sehingga bisa berkilau. Proses pemurnian ini sangat penting, bukan sekedar jalan keluar atau hasil akhirnya. Setiap saat Tuhan membentuk kita dan saat pembentukan itu adalah saat yang indah. 1 Kor 10:13 sangat indah, pencobaan mungkin tidak hilang, namun kita diberikan kekuatan untuk menanggungnya.

Roh Kudus yang bisa membuat kita menjadi orang-orang yang penuh kemenangan. Kita tidak menanti Roh Kudus turun lagi, namun kita menantkan kepenuhan Roh Kudus. Waktu kita mengalami banyak pencobaan, kita mungkin bisa lelah, dalam kondisi seperti ini kita belajar untuk menanti dan belajar untuk menjadi semakin tekun. Mananti memiliki pengertian mengasihi. Orang yang tidak menanti Kristus berati tidak mengasihi Dia. Pekerjaan Roh Kudus adalah membaptis dan memberikan kuasa yang besar. Tanpa Dia pelayanan kita hanya akan menjadi pelayanan yang sangat kering.

Murid bertanya maukah Tuhan memulihkan Israel, namun bagi Tuhan yang penting bukan mengetahui kapan waktunya, namun yang diperlukan adalah bagaimana menunggu. Banyak orang Kristen ingin mengetahui masa dan waktu, banyak orang ingin mencari kehendak Tuhan hanya karena semangat egois yang takut salah. Namun Tuhan menekankan mengenai ketekunan untuk menunggu. Kepenuhan kuasa dikaitkan dengan bersaksi. DL Moody dalam buku Secret Power mengakhiri dengan witnessing in power. Agar berita dan kesaksian kita powerful kita perlu untuk dipenuhi Allah Roh Kudus. Kesaksian itu keluar, menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Gayanya bukan centrifugal (kedalam) namun centripetal (keluar). Mari kita menggumulkan hal ini dengan serius, Allah Roh Kudus turun agar kita menjadi saksi keluar, dan kita menantikan seluruh orang percaya benar-benar genap dikumpulkan, dan Tuhan Yesus akan datang kembali. Tugas bagi kita sementara kita menyongsong adalah terus memberitakn Injil.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – KK)

GOD be praised!!!

Sabtu, 30 Mei 2009

Hal Kerajaan Sorga - Perumpamaan tentang Talenta

Pdt. Rudy Pranoto

Matius 25:14-35; Lukas 17:20,21

24 Mei 2009


Perikop yang kita baca ini berhubungan dengan perikop sebelum dan sesudahnya. Dalam kitab Injil, kita percaya penulis memiliki alur tertentu, kita tidak harus mengertinya secara kronologis; penulis Injil meletakkan susunannya secara berbeda-beda, jadi yang penting adalah bagaimana mereka menyusun alurnya. Perikop ini merupakan bagian dalam khotbah tentang akhir zaman. Ketika kita berbicara mengenai perumpamaan, Tuhan Yesus tidak memberikan definisi, tanda-tanda lahiriah, keterangan lokasi dsb. namun Dia menjelaskan pengertian didalam perumpamaan. Yesus berkata pada waktu mereka mendengar orang percaya akan makin paham dan sebaliknya bagi orang yang tidak percaya akan semakin tidak mengerti, disini ada penggenapan dari nubuat Yesaya. Orang yang melihat namun tidak melihat, mendengar namun tidak mengerti. (Yes 6: 9-10). Yang mengerti hanyalah gereja Tuhan, tubuh Kristus yang sejati. Bagi kita, perumpamaan semakin membuat kita mengerti. Kerajaan Allah memberikan definisi dalam hidup kita bukan kita mendefinisikan kerajaan Allah.

Disini sang tuan memanggil hamba-hambanya dan dipercayakan kepada mereka 5 talenta, 2 talenta, dan 1 talenta. Mengapa berbeda-beda, sepertinya Tuhan kurang adil, namun dalam ayat 15 kita melihat bahwa mereka diberi masing-masing menurut kesanggupannya. Tuhan bukan tidak adil, namun Dia mengetahui takaran yang tepat bagi seseorang. Dalam pelayanan, kita harus mengerti bahwa Tuhan mengerti takaran kita, dan kita juga harus mengerti takaran kita sendiri, sehingga kita tidak iri atau minder. Pemikiran bahwa Tuhan tidak adil membuat hamba ini merasa iri.

Komentar terpanjang justru diberikan oleh hamba yang ke 3. Hamba ke 3 hanya diberi komentar apa sebabnya dia melakukan sedemikian. Yaitu karena ada satu konsep pengenalan yang salah akan Tuhan. Tuan adalah tuan yang kejam, kata hamba yang ke 3. Kita perlu untuk memiliki pengenalan akan Tuhan yang benar. Dalam 2 Korintus Paul berkata mengenai Yesus yang lain, dalam Galatia dia berkata mengenai Injil yang lain, seringkali kita membaca Injil namun salah. Itulah sebabnya hamba ke 3 ini tidak sanggup menerima keberadaan diri yang hanya menerima 1 talenta, dia menjadi malas-malasan (sebuah dosa yang berbahaya), dan memendam talentanya. Inilah sebabnya pengajaran yang benar sangatlah penting, pengertian yang salah akan Allah sangat bahaya, semakin giat semakin jauh kita dari Tuhan. Seorang yang punya kuda yang sangat kuat lalu pergi ke arah yang salah, maka dia akan semakin jauh dari tempat yang semestinya. Dengan pengertian yang salah akan Allah, maka semakin giat semakin berbahayalah kita, sebaliknya orang yang punya pengertian yang benar semestinya tidak loyo, namun makin giat; namun sekarang semuanya terbalik. Orang-orang saksi Yehuwa, orang-orang Mormon sangat giat, sementara orang-orang yang doktrinnya benar, tidak bekerja giat bagi Allah. Padahal pengertian yang benar itu menjadi penggerak dalam pelayanan yang benar. Paulus sangat giat, ketika dia belum bertobat dia menganiaya orang Kristen dan dia merasa bahwa dia berbakti kepada Allah. Semakin giat semakin dia jauh dari Tuhan, dan secara ironis ternyata dia tidak mengenal Allah sehingga harus bertanya “siapakah Engkau Tuhan???”. Pengenalannya yang benar terus dibentuk Allah, sehingga dia berkata “Aku tau siapa yang kupercaya.” ketika dia mengenal Allah yang benar, diapun bekerja giat bagi kemuliaan Allah. Pengenalan yang benar akan Allah sangatlah penting. Ada lagu berkata trust and obey (percaya dan taat), selain itu kita juga perlu pengenalan (understanding) yang benar. Hamba ke 3 berpikir bahwa Allah mau mencari untung, dia merasa bahwa dirinya akan dieksploitasi oleh Tuhan, sesungguhnya ketika kita bisa pelayanan bukan Tuhan mengeksploitasi kita, namun sebaliknya itu adalah anugrah yang besar bagi kita. Dia takut diperalat, takut rugi. Dia takut tersisih, takut tidak mendapat pengakuan dan dia pikir bahwa tuannya tidak akan segera datang sehingga dia juga tidak merasa perlu untuk giat bekerja. Dalam 1 Yoh 4 dikatakan bahwa adanaya ketakutan menunjukkan bahwa dia tidak mengasihi Allah. Hamba pertama dan kedua bekerja dengan setia dalam mengelola talenta yang dipercayakan, karena mereka memiliki pengenalan yang benar akan tuannya. Hal itu mempengaruhi etos kerja seseorang. Pengertian yang benar akan membawa pengaruh dlm hidup kita sehari-hari.

Tuan itu sebenrnya sangup bekerja sendiri, namun hamba ke 3 (secara salah) mengerti bahwa sang tuan mau mengeksploitasi dirinya. Ketika Tuhan mempercayakan suatu hal kepada kita, hal itu justru menunjukkan keagungan Tuhan. Yang maha kuasa mempercayakan kepada kita yang tidak layak untuk dipercayai. Ketika mempercayai manusia, Tuhan meresikokan Diri dan pekerjaan-Nya kepada manusia yang tidak layak. Kita susah untuk mempercayakan hal yang penting kepada pembantu yang sulit untuk dipercaya, atau yang cenderung untuk gagal. Kalau kita memberi kepercayaan kepada orang yang sangat bodoh, hal ini justru merupakan kepercayaan bukan eksploitasi, ini adalah anugrah bukan pemerasan. Kita memiliki resiko yang sangat besar untuk gagal namun Tuhan tetap mempercayakan ini adalah anugrah yang besar. Hamba pertama dan kedua menyadari hal itu adalah hak istimewa, inilah yang membedakan ke 2 jenis hamba ini. Pdt. Stephen Tong sering menyatakan no one comes to help, no one comes to contribute, but everybody comes to learn and to serve (tidak ada yang datang untuk menolong atau untuk berkontribusi, namun semua datang untuk belajar dan melayani). Dlm ay 16 kita meliaht ada kata “segera”, mereka menangkap itu sebagai anugerah yang luar biasa, disini ada urgensi ada suatu perasaan yang mendesak, dan ketika ini dikaitkan dengan konteks akhir zaman, kita memahami bahwa waktu tidak banyak lagi. Artinya kita akan mengerjakan bagian kita dengan setia.

Pengharapan akan akhir zaman, membuat kita semakin hati-hati dan giat dalam hidup ini, waktu yang didalamnya kita hidup tidak pernah berulang, orang yang sadar bahwa hidup cepat berlalu, secara tidak langsung akan termotivasi untuk mengerjakan sebaik mungkin talenta yang dipercayakan. Karena itulah Paulus berkata, tebuslah waktumu. Ada orang membagi tahap-tahap dalam hidup sedemikian: bermain, bersekolah, bekerja, berkarir, dan tahap pelayanan kita letakkan paling belakang. Kalau bisa 15 menit sebelum meninggal baru kita bertobat, kita melihat biasa orang menjadi lebih religius waktu mau mati. Ada seorang yang mau besuk ke orang sakit lalu mencari buku untuk diberi kepada orang yang sakit itu, tukang buku menyatakan buku rohani saja, buku rohani dipakai untuk orang-orang yang mau mati saja. Jangan sampai kita terlambat, waktu kita singkat, penyesalan di dalam neraka sama sekali tidak berguna. Banyak hamba Tuhan terus melayani sampai tua karena adanya kesadaran eskatologis. Orang yang masih muda sering suka untuk menunda, ketika kesadaran eskatologis datang, kita akan mengecap relatifitas waktu. Ay 19. lama setelah itu. Namun kedua hamba yang pertama menganggap itu singkat, karena itu mereka segera pergi dan menjalankan talenta tersebut. Orang yang mengerti me-manage waktu, hidupnya akan berbeda. Apa yang kita lakukan ketika diketahui bahwa hidup kita tinggal 1 hari, apa yang akan kita lakukan??? Makan minum dan manfaatkan hari terakhir ini??? Atau kita akan penginjilan, pelayanan segiat mungkin??? Kalau mau pelayanan segiat mungkin, apa alasan kita??? karena selama ini tidak pernah pelayanan??? Agustinus mengatakan kalau Tuhan akan datang besok, dia mengatakan bahwa dia tetap akan menanam jagung, dia tidak mendadak bertobat, karena setiap hari dia jalani dengan sangat serius, dia memiliki kesadaran eskatologis.

Ada kontras dari komentar sang tuan terhadap hamba 1, 2 dan yang ke 3. Baik kontras jahat, dan setia dikontraskan dengan malas. Orang yang tidak setia tidak tentu menghujat Tuhan, namun dia malas. Ketidak setiaan menyatakan diri dalam bentuk malas; ketika kita tidak maksimal untuk Tuhan, kita tidak setia. Hamba ketiga ini tidak boros seperti anak yang hilang, 1 talenta itu 6000 dinar, upah sehari kerja itu adalah 1 dinar, jadi 1 talenta adalah jumlah yang sangat besar.

Dia berdiam diri, takut salah, tidak beriman dan tidak mengasihi; waktu Tuannya kembali dia dgn percaya diri mengembalikannya. Disini kita melihat stagnasi/ keberhentian rohani, ini sangat berbahaya, tidak bertumbuh dalam pengenalan, dalam kerendahan hati, dalam kesetiaan. Kita harus bertumbuh dan berubah makin seperti Kristus. Kita perlu mengenal talenta yang diberikan kepada kita dan kita perlu bertanggung jawab dan mengerti tempat kita. Kalau kita tidak tahu tempat kita, kita cenderung akan sangat suka mengritik orang laen, bukan untuk membangun namun sebagai kompensasi karena dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Siapapun kita, sudah diberi talenta oleh Allah, minimal 1 talenta, mari kita kenal diri kita, mengerti apa yang harus kita lakukan.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah-KK)

GOD be praised!!!

Rabu, 20 Mei 2009

Wahyu 2:8-11

Pdt. Rudy Pranoto
26 Oktober 2008
Wahyu 2:8-11

Smirna adalah suatu kota yang sangat unik. Kota ini terletak di sebuah gunung yang sangat tinggi. Penduduk kota Smirna sangat setia kepada Roma. Jemaat disini dikatakan untuk setia karena secara kehidupan sehari-hari mereka setia pada Roma dan bangga sebagai sekutu Roma karena Roma merupakan suatu kekaisaran yang super power. Namun jemaat ini dikatakan segaai jemaat yang menderita, mengapa demikian???

Penderitaan sangatlah penting, kita telah mendengar khotbah mengenai pencobaan, dan kita mengerti bahwa pencobaan itu harus ada. Ada yang bisa kita dapatkan dari penderitaan. Kita tidak bangga karena penderitaan, penderitaan belum tentu menjadikan kita lebih matang, bahkan terkadang kita bisa goncang iman karena penderitaan. Penderitaan bahkan bisa membuat orang menjadi apatis. Teologi penderitaan berbicara mengenai menderita karena nama Tuhan. Ini jenis penderitaan yang berbeda dari penderitaan yang lain, jadi yang membuat kita bersuka cita adalah bahwa melalui penderitaan itu kita dibentuk untuk menjadi serupa dengan Kristus. Inilah tujuan utama manusia. Hidup yang menjadi berkat, hidup yang mengasihi dsb. menuju kepada penyempurnaan untuk menjadikan diri kita menjadi seperti Kristus. Penderitaan yang dibahas disini adalah jenis penderitaan yangn sangat berbeda, penderitaan disini adalah penderitaan karena salib. Dlm Kis 14:22 dikatakan bahwa kita tidak bisa meluputkan diri dari penderitaan. Sejenis ajaran dispensasi mengatakan bahwa pada akhir zaman orang baik akan diangkat pada zaman penganiayaan besar (great tribulation) di akhir zaman. Namun sebenarnya iman seseorang justru dimurnikan melalui penderitaan. Iman seorang akan dimurnikan melalui penderitaan, dan kasih karunia yang dari pada Tuhan adalah cukup bagi setiap kita yang mengalami penderitaan. Tuhan tahu benar takaran kita.

Dalam jemaat Smirna, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Alfa dan Omega, Yesus adalah Dia yang memegang kendali. Kita cukup menjalani hidup kita dengan normal, dan bila kita harus menderita karena kebenaran, maka kita harus setia. Pada waktu revolusi kebudayaan pada zaman Mao Zedong, banyak orang Kristen ditindas, namun dengan demikian kekristenan justru bertumbuh. Bila gereja tidak diberikan hak istimewa untuk menderita, maka gereja tersebut sangat berbahaya. Bila kita banyak mendapatkan penderitaan, maka kita harus bersyukur sebab itu adalah cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Gereja di Eropa tidak ada pendritaan sehingga mereka terus menurun. Penderitaan bukan sekedar fisik, namun bisa juga mental dan spiritual. Bila kita tidak pernah mengalami penderitaan, bisa-bisa kita sedang berkompromi. Bila kita banyak kompromi, maka kita tidak merasakan perjuangan. Tidak benar bila kita baik-baik maka tidak ada hambatan yang menghalangi kita. Seringkali bila kita menegakkan kebenaran justru kita akan dibenci. Semangat humanis adalah semua orang saling menerima apa adanya. Yesus mengatakan bahwa Dia telah menang, Dia juga pernah menderita dan Dia telah bangkit dan menang. Pada ayat 9 ada penghiburan bagi orang yang menderita, yaitu perkataan Tuhan bahwa Dia tahu. Inilah penghiburan dari Tuhan, yaitu bahwa Dia mengetahui penderitaan tersebut. Bila kita menderita dan tidak ada yang tahu penderitaan kita, maka hal tersebut sangatlah berat. Kristus menyatakan bahwa Dia tahu dan pekerjaan mereka diakui oleh Tuhan. Diakui oleh Tuhan adalah hal yang sangat dan paling penting; kita sering mencari pengakuan dari manusia namun kita lupa mencari pengakuan dari Tuhan. Bila kita sadar bahwa Tuhan tahu, hal tersebut adalah penghiburan yang sangat luar biasa bagi kita.

Tuhan mengetahui penderitaan mereka berarti penderitaan mereka berada didalam kontrol Tuhan. Jemaat Smirna sangatlah miskin, secara finansial mereka sangat tidak mudah. Bila mereka bekerja didalam kekaisaran, lalu mereka menolak untuk menyembah kaisar mereka bisa dipecat. Dalam keadaan sepeti ini, mereka justru belajar untuk bergantung kepada Tuhan secara total. Penderitaan jemaat ini sangat mungkin jauh lebih berat dari pada penderitaan kita. Namun Tuhan mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut sebab mereka kaya dimata Tuhan. Kita boleh miskin, susah dan menderita namun Tuhan mengatakan “berbahagialah kamu”, ini sangat paradoks, disini kita mengalami sukacita yang sangat penuh. Jemaat Smirna memang berbahagia, mereka menderita karena goncangan iblis, mereka miskin dan dianggap sedang mengalami kutukan Tuhan. Jemaat palsu memfitnah dan menuduh mereka, hal ini merupakan pekerjaan setan. Saya heran kalau ada hamba Tuhan yang senang bila ada hamba Tuhan jatuh, ini sangatlah mengerikan. Jemaat iblis terus menggoncang jemaat Smirna ini dengan menyatakan bahwa mereka sedang dikutuk Tuhan.

Jemaat Smirna adalah jemaat yang tidak ditegur oleh Tuhan, ini adalah jemaat yang baik, namun dalam kenyataannya mereka kelihatan sangat menderita. Kita harus berhati-hati dengan tuduhan-tuduhan, termasuk tuduhan diri kita terhadap diri sendiri. Tuhan telah menerima kita dan kita tidak berhak untuk tidak menerima diri, demikian juga dengan orang lain. Kita harus belajar dari jemaat Smirna ini. Jemaat Smirna didorong terus untuk belajar setia, setia didalam penderitaan sangat tidak mudah. Mother Theressa mengatakan bahwa dia dipanggil untuk setia kepada Tuhan, bukan untuk menjadi sukses. Kita harus setia dengan iman yang benar, jemaat Smirna diminta untuk terus setia sebagai hasil dari hidup yang beriman. Setia ini bukan sembarang setia, setia yang dimaksud adalah setia dalam iman yang benar. Iman yang benar adalah iman ynag berasal dari Firman. (Rm 10:17). Iman berbeda dengan keyakinan, iman berlandas kepada iman. Yesus meminta jemaat Smirna mengenal Diri-Nya, yang telah menderita dan menang. Yesus mau setiap orang yang mengikuti-Nya mengenal siapa Pribadi-Nya bukan sekedar apa yang telah diperbuat-Nya. Janji Tuhan bagi mereka yang setia adalah mahkota kehidupan, yaitu kehidupan yang melampaui apapun. Mereka boleh kehilangan nyawa karena kesetiaan mereka, namun mereka harus terus setia dan kemuliaan yang akan datang tidak bisa dibandingkan dengan penderitaan yang telah mereka alami. Penderitaan tersebut bukan penderitaan yang mudah. Polycarpus dalam masa tuanya ketika dia diperhadapkan pada pilihan antara kematian dengan dibakar atau menyangkali imannya dia mengucapkan kalimat: “sepanjang umurku aku mengikuti Tuhan dan Dia tidak pernah mengecewakan aku, akupun tidak mau mengecewakan-Nya”, dan diapun mati dibakar. Kita ingat bahwa Kristus telah menang, Dialah Alfa dan Omega dan didalam Kristus kita bisa menang dalam menanggung segala hal termasuk penderitaan yang paling dahsyat sekalipun.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah - KK)
GOD be Praised!!!

Paskah 2009

Pdt Rudy Pranoto
12 April 2009
Yohanes 20:1-18; Lukas 24:1-12

Pada peristiwa Paskah, ketika malaikat telah menggulingkan batu dan mayat Yesus tiba-tiba tidak ada lagi, maka semuanya telah berubah. Paskah berarti semuanya telah berubah. Hidup ini bukanlah hidup yang menjanjikan segala macam kenikmatan, namun karena Kristus sudah bangkit maka kita berani melangkah kedepan. Jika Kristus tidak bangkit sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14). Saya teringat ketika anak saya masih kecil, dia pernah sakit parah pada pencernaannya, dia mengalami salit yang begitu menyiksa selama 3.5 tahun, dia selalu kesakitan, hal itu membuat kami putus asa. Pada suatu hari Paskah, Tuhan menyembuhkan dia, namun hal ini adalah pengalaman yang bukanlah ukuran kebenaran. Tuhan itu tidak bisa kita bakukan dalam suatu sistem atau rumusan tertentu. Namun memang seharusnya semua hal berubah ketika Paskah.

Dalam Yoh 20:11-18, Maria Magdalena adalah orang pertama yang diberikan hak istimewa untuk pertama kali mendengar berita kebangkitan Yesus. Hal itu adalah anugerah; pelayanan adalah anugerah Tuhan, bukan kita yang berkontribusi, namun kita bersyukur karena diberikan hak untuk melayani Tuhan. Maria bukanlah orang yang penting, dia hanya seorang perempuan - yang mana pada waktu itu kurang dihargai dibandingkan laki-laki. Namun Tuhan tidak memilih Petrus,Yakobus, ataupun Yohanes, murid-murid terdekat Tuhan Yesus; Tuhan justru memilih orang yang diremehkan kedudukannya. Kita meliaht hal tersebut sebagai kedaulatan Allah, dan anugerah yang besar.

Maria bukanlah orang yang diberi hak untuk sekedar menjadi saksi kebangkitan, namun dia bahkan juga diberi hak untuk menjadi saksi sengsara dan kematian Yesus. Dia adalah pengikut yang setia. Dia masih teringat akan kengerian peristiwa salib sehingga ketika malaikat menanyainya dia tidak sadar, dia tidak mengerti bahwa Yesus telah bangkit, bahkan ketika Yesus sendiri menanyainya dia masih tidak sadar. Sering kali ketika kita dalam kondisi yang begitu susah, kita gagal dalam melihat karya Allah dalam hidup kita.

Pada pertanyaan yang kedua, Yesus bertanya “siapa” yang kamu cari. Pada pertanyaan kedua sudah ada indikasi kebangkitan yaitu bahwa “siapa” yang dicari. “Siapa” sudah mengidikasikan bahwa yang dicari adalah manusia yang hidup. Kita berurusan dengan satu pribadi yang hidup. Maria berorientasi kepada”apa” yaitu mayat Yesus; kita seringkali juga hanya berorientasi kepada “apa” (pemberian) bukan “Siapa” (Pribadi/Pemberi).

Pertanyaan Yesus ditanggapi dengan yang lain. Dia menganggap Yesus sebagai tukang kebun, dan dia masih mencari “mayat” Yesus dan Yesus menjawabnya dengan memanggil namanya: “Maria”. Sapaan ini mengingatkan kita bahwa Dia adalah Gembala yang baik, Tuhan memanggil kita per pribadi. Ketika Tuhan Yesus memanggilnya, dia langsung teringat akan suara Tuhan dan langsung mengerti. Tuhan memanggil kita secara pribadi agar kita percaya akan fakta kebangkitan yang objektif ini. Ada orang yang berkata bahwa Yesus sebenarnya tidak dibangkitkan, namun diraibkan, Dia digantikan oleh Yudas. Hal ini sangat tidaklah mungkin, dari mulut Yudas yang jahat tidak mungkin mengeluarkan kalimat pengampunan. Dalam kalimat pengampunan Yesus, Dia menutupi orang yang di doa-Nya. “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, doa ini menunjukkan bahwa Dia menutupi ( cover) orang yang berdosa, hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Yudas.

Kebenaran bersifat Pribadi. Berita kebangkitan berhubungan dengan pribadi. Luther menyatakan bahwa dia tidak mau memikirkan kebangkitan yang tidak berhubungan dengan dirinya. Kebangkitan bukan sekedar berita objektif, namun juga bersifat pribadi bagi kita.
Dalam sukacita yang besar, Maria ingin menahan (hold) Yesus Kristus. Namun Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia harus pergi kepada Bapa-nya dan juga Bapa setiap orang percaya. Kalimat ini juga pernah diucapkan oleh Rut ketika dia mau terus mengikut Naomi :”...Allahmulah Allahku...” (Rut 1:16), hal ini menunjukkan bahwa Rut yang adalah orang non Israel juga telah percaya kepada Allah yang sejati; dalam Matius 1:5 bahkan nama Rut masuk dalam silsilah Yesus Kristus meskipun dia adalah orang kafir. Allah adalah Bapa dari Tuhan Yesus dan Bapa setiap orang percaya juga. Pada bagian Injil yang lain, kita melihat ketidak percayaan para murid. Ketika kita memberitakan Injil, kita sering kali ditolak, hal ini bukan hal yang aneh. Para murid pun pada awalnya sangat sulit untuk percaya. Thomas yang paling sulit untuk percaya. Dia pernah meminta untuk ditunjukkan jalan kepada Bapa, sebuah pertanyaan yang berfokus pada proses bukan sekedar pada tujuan, dan Yesus menjawabnya bahwa Yesuslah jalan. Namun dalam hidupnya yang fluktuatif (mengalami gejolak naik turun) itu Thomas yang paling sulit untuk percaya akan berita kebangkitan Yesus. Namun akhirnya dia sadar bahwaYesus benar-benar telah bangkit, dan dia berkata : “ya Tuhanku, dan Allahku”. Setelah peristiwa kebangkitan kita melihat bahwa murid-murid yang tidak percaya menjadi rasul yang dengan berani terus melayani Tuhan, memberitakan Injil. Menurut tradisi Thomas pergi memberitakan Injil hingga ke India, Petrus menjadi martir dengan disalibkan secara terbalik karena dia merasa tidak layak disalibkan sepeti Tuhan Yesus.
Paskah semestinya memberikan sebuah perubahan yang besar bagi kita. Bagaimana kuasa Paskah ini dalam diri kita??? Polycarpus memilih untuk dibakar ketimbang menyangkali Tuhannya, Jan Hus mengalami ketakutan dalam menghadapi kematian, ketika dia akan dibakar. Pada malam harinya dia menaruh tangannya pada lilin dan dia sangat ketakutan karena rasa panas yang begitu menyakitkan. Namun ketika hari eksekusi esoknya, dia menuju tempat pembakaran tersebut dengan begitu tenang. Bahkan ketika kita harus mati dibakar kita harus mengerti bahwa hal tersebut adalah anugerah Allah. Berita Paskah, harus merubah diri kita untuk menjadi orang yang menyenangkan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah - KK)
GOD be Praised!!!

Gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis bodoh

Pdt. Rudy Pranoto

3 Mei 2009

Mat 25:1-13


Injil Matius banyak membahas mengenai kerajaan Sorga. Dalam teks yang kita baca, kerajaan sorga dikaitkan dengan akhir zaman. Ini merupakan satu poin yang penting, yaitu hendaklah kamu berjaga-jaga. Perumpamaan ini didahului dengan perumpamaan mengenai hamba yang setia dan hamba yang jahat, dan diikuti dengan perumpamaan mengenai talenta dan penghakiman terakhir. Perumpamaan-perumpamaan ini memiliki tekanan yang semakin memuncak. Pertama, Yesus memperingatkan orang-orang yang berbiuat jahat, artinya mereka digambarkan sebagai orang-orang yang melampiaskan nafsunya. Pada waktu melakukannya, mereka menantang orang lain dan menolak nasehat, orang-orang seperti ini akan dibinasakn. Mereka terang-teranganan melakukan kejahatan ini, dan mereka akan dibuat senasib dengan orang-orang munafik. Meski mereka tidak munafik, mereka tetap dihukum atas kejahatan mereka. Hypocrites sebenrnya memiliki pengertian yang positif. Dalam dunia film, orang yang memerankan sebuah peran orang lain dalam sebuah skenario disbut hypocrites. Makin dengan baik dia memerankan peran orang lain, dia akan mendapatkan penghargaan (Oscar dsb.) Namun ketika hal itu diterapkan dalam hidup sehari-hari dimana mereka berpura-pura mereka menjadi orang lain, menampilkan yang berbeda dengan dirinya sendiri, maka hal itu menjadi negatif. Orang-orang yang digambrkan dalam perumpamaan hamba yang jahat ini tidak munafik, mereka terang-terangan melakukn kejahatannya.

Hukuman dalam perumpamaan yang kita baca hari ini adalah diberikan kepada mereka yang tidak mempersiapkan diri. Keliatannya mereka “hanya” tidak mempersiapkan diri dengan baik; mereka tidak berlaku jahat, seperti pada perumpamaan hamba yang jahat. Seolah kesalahan mereka kecil sekali; mereka sekedar terlambat. Lalu pada perumpamaan talenta, hamba yang ke 3 ini binasa, padahal dia sungguh pakai perhitungan, dan dia jujur, mengembalikan seluruhnya yang diberikan. Dia dihukum karena dia tidak berbuat apa-apa, dan Firman Tuhan menyebutnya sebagai hamba yang jahat, dalam Yakobus 4:17 dikatakan bahwa orang seperti itu telah melakukan dosa, yaitu dosa pasif. Kita harus melihat secara utuh, ada hal yang kita anggap biasa, padahal hal tersbut bisa mendatangkn kebinasaan. Pada penghakiman terakhir, ada orang yang dihakimi karena tidak mengasihi sesamanya. Kita melihat ada peningkatan, dari kejahatan yang paling jahat hingga yang paling remeh, namun dihadapan Tuhan dosa tersebut tetap dihakimi oleh Tuhan. Sekecil apapun dosa dihadapan Tuhan, dia membutuhkan pengampunan Allah. Siapa gadis-gadis yang digambarkn disini??? Kita melihat orang-orang Kristen secara fenomenal (gereja yang kelihatan). orang-orang Kristen yang pergi ke gereja, sudah dibaptis, melayani dsb. Namun ternyata tidak semua mereka adalah Kristen sejati. Alkitab menekankan adanya lalang dan gandum; kambing dan domba. Dalam membaca perumpan, kita harus melihat inti cerita. Gadis-gadis disini adalah hamba, karena mereka memanggil mempelai sebagai tuan. Tuhan bukan menghina orang yang kurang dalam kecerdasan (bodoh), dan menghargai orang yang memiliki IQ tinggi, semua ini (bodoh atau pandai) bukan masalah dihadapanTuhan. Dihadapan Allah, setiap orang yang tidak menghargai Firman Tuhan adalah orang bodoh, inilah bodoh yang dimaksud disini. Bodoh berarti sikap yang tidak mau diajar oleh Firman Tuhan, sementara bijaksana adalah orang yang belajar dan melakukan Firman. Dalam perumpamaan ini, bodoh berarti tidak mempersiapkan diri dengan baik; bodoh bukan berati pengetahuannya sedikit, bijaksana bukan berarti banyak sekali pengetahuan, namun mereka mempersiapkan diri dgn baik. Kita melihat disini ketekunan orang-orang kudus. Setiap orang yang dipilih Tuhan sebenarnya mereka dipilih untuk disempurnakan seperti Kristus, mereka akan terus disucikan.

Apa artinya pelita dan minyak??? Ada yang menafsirkan ini Roh Kudus, namun sesungguhnya minyak adalah minyak. Kita tidak perlu mengartikan setiap detail dalam perumpamaan ini, baik angka-angka dsb. Agar kita tidak jatuh dalam penafsirkan alegoris yang salah (Contoh: Orang bongkok dilihat sebagai orang yang tidak pernah meliat keatas, sehingga diartikan tidak melihat Allah dsb). Tuan ini terlambat datang, hal ini bukan berarti Tuhan terlambat. Kita sering menafsirkan Tuhan berdasarkan kacamata dunia, seolah-olah Dia akan datang pada jam ini, tanggal ini dsb. Ketika Tuhan datang, itulah saat Tuhan mengakhiri waktu. Ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak akan datang menurut waktu yang kita pikirkan sebab Dia itu tidak dikurung (supra) waktu. Kalau terkadang kita mengerti Tuhan datang terlambat, berarti Tuhan dikurung oleh waktu. Bahaya sekali kalau kita mereka-rekakan Tuhan seperti pikiran kita dan itu kita anggap sebagai Tuhan yang sesungguhnya sehingga kita menyembah tuhan yang salah. Paulus ketika bertemu Tuhan bertanya siapakah engkau Tuhan??? dia gagal mengerti Tuhan yang asli. Seringkali muncul bentuk Tuhan tertentu dalam benak kita, Tuhan yang menolong, Tuhan yang seperti kehendak kita. Namun Tuhan itu adalah Tuhan yang berdaulat. Tuhan yang berdaulat ini mendatangkan yang baik, bukan menurut versi kita namun menurut versi Tuhan sendiri. Tuhan tidak perlu mencocokkan waktu-Nya dengan manusia. Seolah Dia datang terlambat; minggu lalu saya berkhotbah bahwa Yesus sengaja datang seolah-olah “terlambat”, namun dalam kondisi demikian Dia justru menunjukkan bahwa Dialah Tuhan yang mengatasi waktu. Ay 13 mengatakan bahwa kita harus berjaga. (Lazarus dibangkitkan, Yoh 11)

Ketika pengantin itu terlambat, mereka berdua melakukan hal yang sama, mereka keduanya tertidur. Secara fenomenal kita tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak percaya; kita juga mengalami sakit, lapar, lelah dsb. Namun kita sudah dipisahkan. Namun meski sama-sama tertidur, mereka sama sekali berbeda. Ketika mempelai datang, mereka juga sama-sama bangun dan membereskan pelita masing-masing, sampai disini mereka masih sama. Naumn pada ay 8 dan 9 kita melihat perbedaannya; para gadis bodoh tidak siap. Namun gadis bodoh meminta kepada gadis-gadis yang bijaksana dan gadis bijaksana menolaknya; apakah ini berarti mereka pelit dan egois??? Bukan, disini berarti bahwa setiap orang secara pribadi harus bertanggung jawab dihadapan Tuhan, tanggung jawab ini tidak bisa dipindah tangankan kepada orang lain. Bila kita terus menopang dan membantu orang lain dalam segala hal, hal tersebut justru akan melumpuhkan orang yang kita bantu, selain itu tidak ada orang yang mampu untuk menanggung segala tanggung jawab semua orang. Gadis-gadis bodoh itu pergi untuk mempersiapkan minyak, dan pada saat itulah mempelai datang. Mereka tidak siap. Banyak orang berpikir bahwa masih senantiasa ada waktu untuk bertobat. Yang lebih konyol adalah mereka merasa mengenal tuannya. Tuannya berkata bahwa dia tidak mengenal mereka. Celaka bila kita berpikir bahwa kita mengenal Tuhan tetapi sesungguhnya Tuhan tidak mengenal kita. Kalau kita diberi angket, siapa Tuhan menurut kita, apa jawaban kita??? Penolong kita, pemberi jodoh, atau siapa??? Seringkali yang dipikirkan hanyalah kepentingan diri sendiri. Dalam 1 Kor 15:19 dikatakan bahwa kita adalah orang yang paling malang bila kita hanya mengenal-Nya sebagai penolong dalam hidup saat ini. Seberapa utuh kita mengenal Tuhan kita??? Firman Tuhan tidak memberi tahu kapan Tuhan akan datang kedua kali, kapan hidup kita akan berakhir. Dengan tidak mengetahui saatnya kita perlu untuk senantiasa berjaga-jaga menyongsong kedatangan-Nya. Pada waktu kedatangan-Nya yang kedua kali Dia akan datang sebagai Hakim. Tuhan Yesus sudah datang pertama kali, dan kita menanti kedatangan-Nya yang kedua, ada tugas yang menanti kita; dan ketika dia datang kedua kali Dia akan datang menghakimi kita semua. Amin!!!

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh Pengkhotbah-KK)

GOD be praised!!!

Lazarus dibangkitkan

Pdt. Rudy Pranoto
Yoh 11:25-26

Ada dua versi yang muncul ketikan Lazarus sakit. Pertama adalah versi Marta, dia berharap Yesus menyembuhkannya. Namun versi kedua adalah versi Yesus, Dia menundanya 2 hari hingga Lazarus mati, tapi setelah itu Dia membangkitkan Lazarus. Ketika dalam masalah, manusia datang kepada Tuhan dan ingin Tuhan menolong. Namun disini Tuhan menunda, meski akhirnya Dia membangkitkan Lazarus. Mana yang lebih kita sukai??? Allah menyingkirkan masalah, atau Allah memberikan pertolongan dalam pergumulan kita. Kita senang dengan produk (hasil), sementara Alah suka pada prosesnya. Melalui proses kita belajar untuk mengenal diri dan mengenal Allah. Mengapa Yesus menunda dua hari??? Yesus melakukan banyak mujizat namun tidak semuanya dicatat, Yohanes menulis 7 mujizat saja. 7 adalah angka kesempurnaan. Perjamuan kawin, menyembuhkan anak pegawai istana, menyembuhkan org lumpuh, lima roti dan dua ikan, berjalan di air, mencelikkan mata org buta, dan terakhir membangkitkan Lazarus. Yohanes banyak menggunakan angka 7, dia ingin menyempaikan bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah. Mujizat membangkitkan Lazarus ini diletakkan sebagai puncak dan final untuk menutup pelayanan Yesus di depan publik. Setelah itu dia menarik Diri, dan mempersiapkan murid-murid-Nya sebab sebentar lagi Yesus akan meninggalkan mereka.

Makin besar tantangan yang dihadapi, makin kita perlu untuk mengenal Allah. Bila Yesus hanya menyembuhkan Lazarus dalam sakitnya seperti versi Marta, maka mungkin hal itu menjadi hal yang lebih kecil karena Yesus sudah sering melakukannya. Pengenalan akan Tuhan tidak terbatas pada tindakanYesus. Disinilah muncul pernyataan:”Akulah kebangkitan dan hidup”, berarti bahwa Dia adalah Tuhan dari kehidupan dan Dia telah mengalahkan maut. Murid-murid tidak mengerti bahwa dalam kebangkitan-Nya dia benar-benar telah mengalahkan maut. Lazarus sudah mati selama 4 hari, ini berarti dia sudah mengalami pembusukan. Menurut tradisi Yahudi dalam 3 hari roh orang mati masih mengenali wajahnya, namun setelah itu tubuhnya akan membusuk. Itu adalah mitos, namun tradisi mereka percaya bahwa selama 3 hari masih mungkin mayat itu untuk bangkit, namun pada hari keempat seluruh pengharapan akan si mati hidup lagi sudah benar-benar pupus, dan dalam kondisi ini Tuhan membangkitkan Lazarus. Ini adalah cara Tuhan yang sering kali lain dengan pikiran kita. Sukacita mereka menjadi sangat besar ketika Tuhan menulong justru dalam kondisi yang sudah tidak lagi berpengharapan. Maut telah menguasai secara penuh, dan dalam kondisi tersebut justru Yesus mematahkan kuasa maut tersebut, semestinya orang-orang disana memperhatikan momen itu. Kita melihat dengan jelas bahwa Yesus adalah penakluk maut. Yesus berkata “Akulah Kebangkitan dan hidup”; setelah itu baru Dia membuktikannya. Seringkali kita terbalik, meminta bukti terlebih dahulu baru kemudian percaya. Kita dituntut untuk beriman dahulu, dan kemuliaan akan mengikuti, ini adalah tantangan iman. Yesus berkata berbahagialah orang yang percaya meskipun tidak melihat/belum ada bukti (Yoh 20:29 ). Iman kita sungguh dangkal bila kita hanya bisa percaya setelah mendapatkan bukti.

Kita sering mendengar: “bila kita meminta dengan sungguh-sungguh maka Tuhan akan menyembuhkan”, ini terbalik, dalam kalimat itu kita menjadi penyebab dan Tuhan menurut. Sebenarnya Tuhanlah Penyebab bukan kita. Kebangkitan Lazarus adalah akibat dari Yesus yang adalah Kebangkitan dan Hidup, Yesus adalah sang Sumber, bukan akibat dari permintaan Marta atau Maria. Yesus sendiri adalah Kebangkitan, sehingga Dia memberikan perintah pada Lazarus yang sudah mati; Yesus tidak memohon dalam nama TUHAN namun Dia memerintah Lazarus untuk bangkit, sebab Dia sendirilah Kebangkitan itu. Apa maksudnya bahwa mereka yang percaya tidak akan mati lagi??? Hal ini tidak berarti bahwa yang mati dalam Tuhan tidak akan mati namun ini berbicara mengenai hidup kekal, dan inilah tujuan Yohanes menuliskan Injilnya. Yohanes memakai bahasa fenomenal untuk menunjukkan hal yang esensi yaitu hal yang rohani. Yohanes mencatat ketika bercakap-cakap dengan perempuan Samaria, Yesus menyaakan bahwa Diri-Nya adalah Air hidup; waktu Dia berjumpa dengan orang perempuan berdosa yang hidup dalam gelap, Dia berkata, Akulah terang dunia; kepada orang buta yang disembuhkan muncul perkataan Yesus Akulah terang dunia. Pada peristwa 5 roti dan 2 ikan, Tuhan Yesus berkata: “Akulah roti hidup”, disini Yohanes ingin menyatakan bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup mereka.

Manusia di dalam dosa bukan sekedar berjalan hidup berjalan menuju kematian, namun manusia sudah berada dalam kematian dan menuju kepada kematian yang kekal. Dlm Why 20:14, kita melihat bahwa kematian jasmani dialami oleh manusia dan hal tersebut dilanjutkan kematian yang kekal. Mati rohani adalah hidup tanpa Allah, orang seperti itu mungkin bisa beragama, namun mengabdi pada allah yang salah. Pada kematian kekal, manusia secara penuh dipisahkan dari Allah. Bagi orang yang tidak percaya, maut sebenarnya sudah dicicipi dalam hidup di dunia ini. Di Jepang ada sebuah buku yang pernah menjadi best seller, buku yang mengajarkan cara terbaik untuk bunuh diri. Banyak orang di dunia ini yang mengalami jalan buntu. Pada awal pemerintahan Clinton, ada pejabatnya yang bunuh diri, padahal posisi yang ditempatinya adalah tempat yang sangat diidam-idamkan orang; seorang yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi, sedang berada dalam puncak karir nya namun merasa mengalami jalan buntu.
Sesulit apapun hidup kita, ada Kristus yang hidup. Bila kita memiliki pengenalan yang jelas akan Allah, kita tidak semestinya patah pengharapan. Seringkali kesulitan dalam hidup ini membuat kita goncang, namun kita memiliki pengharapan yang membuat kita untuk terus bertahan. Itulah sebabnya Horatio Spafford yang mengarang lagu Nyamanlah Jiwaku. Dalam kondisi yang sangat merana (istrinya mati tenggelam) lagu It is well ditulis. Cerita ini mengajak kita untuk merenung, mengapa Tuhan menunda hingga 4 hari??? Untuk kita belajar. Marta berpikir bahwa kedatangan Yesus adalah percuma, segalanya sudah terlambat. Namun dalam Yesus Kristus tidak ada jalan buntu, melainkan senantiasa ada harapan. Bersama Dia tidak ada terlambat, dan tidak ada hilang harapan. Pengharapan bahwa Dia adalah Kebangkitan dan Hidup membuat kita yakin bahwa hari esok itu ada. Kristus bertanya, percayakah engkau??? Tuhan hanya meminta kita untuk percaya (trust), mempercayakan diri kepada-Nya bukan sekedar believe. Percaya berarti menaruh diri secara penuh kedalam tangan Kristus. Yesus berkata bahwa Aku datang supaya engkau hidup dan memilikinya dalam kelimpahan. Kesulitan tidak semestinya menghalangi kita untuk menikmati hidup. Sebab Dia hidup, ada hari esok. Amin.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh Pengkhotbah-KK)
GOD be Praised!!!