Tampilkan postingan dengan label KK White. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KK White. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Juni 2009

Kisah Injil Paulus (kita???)

Sdr. Eko Aria

21 Juni 2009

Galatia 2:1-10


Tidak disangsikan lagi, tema mengenai Injil menjadi warna yang sangat mencolok dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini. Kita akan melihat beberapa hal dari bagian surat ini. Paulus telah dengan begitu berani menyatakan identitas kerasulannya dengan otoritas dari Tuhan sendiri, sehingga berita keotentikan yang disertai dengan otoritas Injilnya juga tidak boleh ditinggalkan. Hal tersebut dilakukannya untuk memberikan penekanan sehingga dia mengeluarkan kata kutukan untuk “injil lain”. Kita akan melihat betapa pentingnya Injil tersebut, dan bagaimana Paulus menyusun rangkaian argumen dalam suratnya ini untuk memberikan penegasan pada berita Injil tersebut. Dalam bagian yang kita baca, kita melihat bagaimana Paulus seolah menceritakan hal yang biasa. Apa berbeda dari kisah Paulus ini dengan kisah-kisah yang lain, apa bedanya penuturan ini dengan apa yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul misalnya??? Kita percaya bahwa setiap penulis menyusun suatu kisah untuk membangun sebuah argumen tertentu. Sebuah kisah tidak pernah atau setidaknya sangat jarang yang berhenti hanya pada kisah tersebut sendiri, kisah memiliki makna yang memang dengan sengaja (meski tidak senantiasa disadari) diberikan oleh sang pemberi kisah. Kita lihat bahwa hidup kita dipenuhi dengan kisah, bahkan hidup kita ini adalah kisah. Dalam pembicaraan-pembicaraan kita, sangat sering kita berkisah, entah itu adalah kisah mengenai anak, pacar, suami, teman atau musuh-musuh kita. Waktu kita bercerita bahwa anak kita tadi bertanya jawab dengan gurunya, kita bukan hanya sedang ingin membuat orang lain tahu akan kisah tersebut namun kita (secara sadar atau tidak) sebenarnya ingin menyampaikan sebuah pesan saja, yaitu anakku itu pintar. Cukup mudah mengecek hal tersebut, seandainya orang bereaksi dan menjawab kita dengan penuh perhatian dan kata-kata yang tulus: wah anakmu itu susah menangkap pembicaraan yah sampai-sampai dia perlu untuk terus bertanya, mungkin IQ nya rendah, atau mungkin dia ada kelainan, coba deh periksakan ke dokter, saya kenal seorang dokter anak yang pintar. Kita mungkin akan buru-buru meluruskan “maksud” dari kisah kita: oh bukan begitu, anak saya itu sangat kritis sampai gurunya pun kewalahan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang sudah sangat tajam untuk anak sebayanya. Kisah tidak netral, kisah memiliki maksud dan tujuan. Hidup kita dibentuk dan membentuk kisah, dalam pembicaraan hidup kita, semuanya diwarnai oleh kisah. Mari kita berhati-hati dengan setiap kisah kita, termasuk kisah-kisah yang kita ucapkan. 10 pengintai memberikan sebuah kisah, kisah yang bukan menipu, kisah yang nyata, kisah mengenai penduduk Kanaan yang begitu besar dan kuat, kisah tersebut memiliki power yang begitu kuat sehingga membawa tawar hati bagi bangsa Israel dan membuat bangsa Israel ditimpa murka Allah yang besar (Bil 13:32), Husai memberikan gambar berwarna dalam kisahnya mengenai Daud yang bagai beruang yang kehilangan anak di padang, kekuatan kisahnya membuat Absalom mempercayainya dan meninggalkan nasihat Ahitofel (2 Sam 7:8), kisah mengenai kepahlawanan Daud oleh Husai bukan sekedar cerita tanpa maksud, namun dia bermaksud untuk menggagalkan nasihat Ahitofel. Dari cerita mengenai anak, mengenai restoran, sekolah, sampai gosip-gosip, kita sedang menceritakan “sesuatu” yang sering kali bukan sekedar rangkaian fakta yang kita ceritakan tersebut. Pemilihan kisah yang kita ceritakan pun sudah memiliki tujuan tertentu; dalam hidup kita ada banyak kejadian, namun kita memilih sebagian kejadian dari banyak kejadian yang kita ingat untuk menyampaikan sesuatu. Kisah memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk kehidupan manusia, sebaliknya kisah tersebut juga dibentuk oleh manusia. Perhatikan kisah-kisah yang kita tuturkan baik dalam kata maupun perbuatan kita, hal tersebut mencerminkan diri kita, komunitas kita, serta arah tujuan kita. Dalam keluarga, dalam gereja, dalam masyarakat, kisah apa yang kita kisahkan dan hidupi??? Apakah kisah bahwa uang banyak akan membawa kedamaian, ataukah kisah cinta dan kebesaran Allah??? Apakah kita mengajarkan anak kita untuk belajar giat agar besok menjadi orang sukses yang banyak uang, apakah kita sering ribut di rumah ketika dagang sedang kurang sukses??? apakah kita sering berselisih pandang dan bertengkar karena uang??? Hati-hati dengan kisah hidup kita, sekali lagi kita akan membangun hidup kita, anak-anak kita, komunitas kita dengan rangkaian kisah yang kita ceritakan baik secara verbal (dengan perkataan lisan) ataupun non verbal (dalam tindak tanduk kita).

Paulus menyajikan kisah dalam bagian ini untuk membawa pesan Injilnya. Sekali lagi dinyatakan disini bahwa dia pergi oleh suatu penyataan (2). 14 tahun in banyak dipercayai sebagai rentang waktu dari pertobatannya. Sebuah waktu yang cukup lama, hal in menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak perlu mengkonformasi Injilnya, sebab dia telah mendapatkannya dari Tuhan sendiri. Kita harus jelas untuk membedakan hal dengan fenomena orang-orang yang mengaku pergi naik turun sorga dan membawa sebuah berita yang diakui dari Tuhan Yesus sendiri, sementara pemberitaan yang dibawa sering kali berbenturan dengan Alkitab. Pada zaman Paulus tersebut, kanon Alkitab belum lengkap sementara kita sekarang sudah, ini menjadi pembeda yang sangat signifikan. Pada zaman sekarang Alkitab telah lengkap, dan segala hal yang kita perlu ketahui mengenai Allah dan karya-Nya sudah tertera di dalam Alkitab, jadi kita harus membubuhkan tanda tanya yang besar ketika ada orang mengaku lagi mendapatkan “penyataan dari Allah” terlebih lagi bila beritanya bertabrakan dengan Injil. Selanjutnya kita sekali lagi melihat bahwa Paulus tidak berhenti pada pengukuhan berita Injilnya. Dia menyampaikan bahwa Injilnya adalah benar, berasal dari Tuhan sendiri, namun dia juga siap untuk mengkonfirmasikannya dengan ajaran para rasul yang lain. Paulus pergi ke Yerusalem, sangat mungkin ini bukan kunjungannya ketika diadakan sidang di Yerusalem (Kis 15) sebab dikatakan disini bahwa dia mengadakan percakapan tersendiri. “Mereka yang terpandang”, merujuk pada kredibilitas rasuli orang-orang yang ditemui Paulus dimana dihadapan mereka Paulus memaparkan Injilnya. Hal in menjadi sebuah konfirmasi bagi orang-orang yang meragukan kerasulan Paulus dan berita Injil yang dibawanya. Paulus menambahkan cerita mengenai bagaimana Titus yang adalah orang Yunani tidak perlu disunat. Sekali lagi kita melihat bagaimana Paulus mengambil kisah tersebut untuk memberitakan Injilnya. Paulus tidak memasukkan berita mengenai Timotius yang disunatkan, ini bukan menjadi inkonsistensi dalam diri Paulus namun dia sengaja memasukkan bagian tidak disunatnya Titus untuk menunjukkan bahwa Injil sesungguhnya bukan masalah menjadi Yahudi secara etnis. Menerima Kristus sebagai Mesias bukan berarti harus “menjadi Yahudi” dahulu dengan disunat, hal itu dikatakan Paulus hanya akan memperhambakan kita.

Injil merupakan “kabar baik”, Injil memiliki latar belakang, baik dalam budaya Yahudi maupun Yunani. Orang-orang Yahudi menantikan berita baik, seorang pembebas yang akan membawa kelepasan bagi mereka, sementara dalam latar belakang Yunani Injil berarti berita kemenangan, dimana hal sering dimengerti sebagai kelahiran atau kenaikan seorang penguasa. Dalam kedua budaya ini, kata Injil tetap memiliki nuansa sebagai berita baik. Hingga masa kini Injil juga tetap merupakan kabar yang baik; Injil tidak dikurung hanya berita mengenai nanti kita akan pergi ke sorga, sebuah tempat yang non historis, dan bersifat non materi. Injil adalah berita kemenangan, Injil adalah berita akan datangnya sang penguasa, sang pembebas. Injil berbicara mengenai kelepasan dari satu perbudakan menuju kepada kemerdekaan dibawah penguasa baru. Dengan demikian kata Injil meliputi juga invasi; kemerdekaan bukan berarti bebas tanpa kekangan, pembebasan ini berarti pembebasan dibawah penguasa baru yang telah melepaskan kita dari penguasa yang lama. Injil yang diberitakan menyodorkan kemenangan TUHAN dan penobatan sang raja, yaitu Yesus dimana hal ini berarti juga kekalahan allah-allah asing dan penundukan diri yang sepenuhnya kepada Allah. Namun kemenangan apa yang didapatkan, Raja itu akan membebaskan kita dari apa??? dalam bagian salam surat ini (1:4) Paulus menyatakan bahwa Dia melepaskan kita dari dunia jahat. Melepaskan bukan berarti kita akan dipanggil keluar dari dunia ini, melainkan kita dibebaskan dari tirani kejahatan yang telah lama memperbudak kita. Ini adalah berita baik. Apakah kita sungguh merasakan bahwa ini adalah kabar baik??? Sungguh ironis, kita telah sangat menganggap remeh dosa, kejahatan semakin lama menjadi hal yang semakin biasa, seiring dengan maraknya dosa, kita mulai beradaptasi dengan dosa dan tidak merasa janggal ketika kita berdosa. Karena itu tidak heran bila ita tidak merasakan dorongan yang sangat kuat untuk memberitakan Injil, sebab kita sendiri tidak merasa bahwa kelepasan dari dosa dan kejahatan adalah suatu kabar baik. Jauh lebih mudah mengidentikkan kabar baik (Injil) dengan “sorga” yang di dalmnya penuh dengan kesejukan dan kemudahan ketimbang mengidentikkannya dengan kelepasan dari dosa. Ini satu hal yang sangat mengkhawatirkan. Surat Galatia ini tidak berbicara mengenai “sorga” yang non material dan non historis, sorga yang hanya diisi oleh “jiwa-jiwa”, sorga yang dipenuhi dengan warna putih, plus malaikat yang bermain harpa. Injil berbicara mengenai pembebasan, kelepasan dari tirani kejahatan. Inilah berita baik, dan mari kita sadari natur sukacita dari berita ini. Sering kali ketika memberitakan Injil, kita sudah keder sendiri, ketakutan, mood kita sangat berhati-hati takut menyinggung perasaan dan lain sebagainya. Injil adalah berita baik, berita sukacita. Sukacita seperti ini mestinya bisa kita beritakan dengan gairah yang lebih besar dari pada seorang anak kecil yang dengan sangat ceria bercerita mengenai mainan barunya. Tentu ada sifat konfrontasi dari Injil ini, namun Injil tetaplah berita sukacita.

Paulus menceritakan bahwa berita Injilnya sejalan dengan pengajaran rasuli, yaitu mereka yang terpandang itu. Paulus menambahkan kembali bahwa dia tidak memandang “keterpandangan” para rasul yang lain sebagai kredit yang besar kecuali panggilan Tuhan sendiri. Ini menjadi kekuatan yang sangat besar dalam pelayanan, yaitu ketika kita tahu bahwa Allah yang memiliki pekerjaan, dan Allah yang mengutus. Paulus menyadari panggilannya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang dengan latar belakang non Yahudi (tidak bersunat), seperti halnya Petrus untuk orang-orang bersunat. Ada bagian, ada porsi yang memang telah diberikan Tuhan kepadanya. Ini adalah suatu dasar pelayanan yang sangat penting, setiap kita dipercayakan bagian tertentu oleh Tuhan, tugas kita adalah dengan setia menjalankannya. Mereka, yaitu Yakobus, Kefas, dan Yohanes berjabat tangan dengan Paulus sebagai tanda persekutuan. Mereka bekerja untuk Tuhan yang sama, untuk tugas yang telah dipercayakan masing-masing bagiannya oleh Tuhan. Mereka sama sekali tidak beroposisi dengan Paulus mengenai berita Injilnya, mereka mengingatkan Paulus untuk memperhatikan orang-orang miskin, sebuah hal yang Paulus pun sudah berkomitmen untuk melakukannya. Sangat menarik bahwa dalam pertemuan yang tersendiri (2), ketika Paulus memberikan pertanggung jawaban Injil, sebuah berita yang begitu penting - yang membuatnya berani mengusung kata kutukan yang begitu tajam (1:8-9), dan tidak sungkan-sungkan memasukkan sebuah kisah perseteruannya dengan Petrus (1:11-14) - ada nasihat untuk memperhatikan orang-orang miskin, dan Pauluspun memasukkan hal ini di dalam bagian suratnya ini. Hal ini terlihat seolah sebagai satu hal yang sangat minor dan kurang terlalu perlu dalam rangka untuk mengokohkan berita Injil, namun Paulus menuliskannya bagi pembaca Galatia. Pelayanan gereja, berbicara mengenai kemurnian Injil, tidak pernah terlepas dengan kehidupan sehari-hari. Injil bukan sekedar “nanti” pergi ke sorga, Injil adalah mengenai dominasi Allah yang dinyatakan, dan pada saat yang bersamaan pengguguran allah-allah asing yang disembah secara tidak sah, dan hal tersebut meliputi segala hal hingga elemen sehari-hari, elemen yang terkecil dalam hidup kita. Inilah kisah yang dituturkan oleh Paulus, yaitu betapa dia berpadanan dengan berita rasuli (nanti kita akan melihat bagaimana dia berkonfrontasi dengan Petrus, salah satu orang yang dikatakan terpandang), dan kisah tersebut dituturkannya untuk menjaga iman yang benar, untuk kemurnian berita sukacita yang diembannya.

Setiap kita dibentuk dan membentuk kisah. Dan setiap kita sudah diberikan peran yang jelas, setiap kita menyandang nama Kristus, sebagai Kristen, dan setiap kita dipangil untuk membawakan berita tersebut. Berita yang berisi seruan bahwa Kristus sudah datang, masa penjajahan telah usai. Kristus bukan nama keluarga atau nama alias dari Yesus, namun Kristus sudah dinantikan sebagai sang Pembebas. Kepenguasaan Yesus sebagai Kristus yang sudah datang, invasi dan dominasi-Nya harus diproklamirkan. Paulus dipanggil untuk memberitakannya kepada orang-orang tak bersunat, Petrus untuk orang-orang bersunat, mereka melakukannya dengan memberitakan Injil di tempat-tempat ibadah orang Yahudi, di tempat-tempat yang lain dengan jalan berkhotbah, berdebat dan lain sebagainya. Kita dipanggil untuk memberitakan berita yang sama, kepada zaman dan orang-orang yang berbeda, dengan cara yang mungkin sama dan mungkin berbeda, mungkin dengan berkhotbah, berdialog, bekerja, namun biarlah kisah kita nyata dibaca orang. Sebuah kisah berbahagia mengenai kebebasan yang sejati dari belenggu kejahatan, sebuah kebebasan dibawah perintah Yesus sang Kristus. Ini adalah kisah suka, biarlah kita beritakan kesukaan besar ini dengan gairah cinta Tuhan sang Pembebas kita.


GOD be praised!!!




Sabtu, 13 Juni 2009

Pentakosta

Sdr. Eko Aria

07 Juni 2009

Kisah Para Rasul 2:1-47; 7-8:1a


Kita akan melihat khotbah yang dicatat Lukas berkaitan dengan peristiwa Pentakosta untuk kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai peristiwa fenomenal ini. Pertama kita akan lebih terfokus pada khotbah Petrus. Khotbah ini dicatat sebagai bagian yang menjelaskan peristiwa fenomenal tersebut. Alkitab tidak membiarkan kita berhenti pada pertanyaan-pertanyaan yang akan bergulir liar dengan membiarkan peristiwa fenomenal tersebut tanpa tafsiran. Ada beberapa jenis respon terhadap peristiwa besar tersebut. Ada yang tercengang heran, namun ada juga yang mencibir dan mengatakan bahwa mereka sedang mabuk oleh anggur. Ketika berhadapan dengan sebuah peristiwa kita akan melihat bahwa kita bisa meresponinya dengan sikap yang berbeda. Ada orang yang memang tidak percaya dan memutuskan untuk tidak percaya, namun ada mereka yang memang dikaruniakan Tuhan untuk mencari kebenaran. Disini kita melihat bahwa peristiwa spektakuler ataupun mujizat-mujizat besar tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk bertobat. Ev. Inawati Tedy menyatakan bahwa mujizat-mujizat yang diberikan sering kali tidak membuat manusia bertobat. Dan hal tersebut kita lihat konfirmasi secara jelas dalam bagian ini, setelah khotbah Petrus kita melihat bahwa banyak diantara mereka yang menjadi percaya, kalimat itu (bahwa banyak yang menjadi percaya pada ay 41) muncul bukan setelah mujizat besar tersebut terjadi melainkan setelah Petrus selesai memberikan khotbahnya. Iman muncul dari Firman. Iman yang tidak didasarkan pada Firman adalah iman yang salah. Apa yang kita imani, apa yang menjadi dasar iman kita??? Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah yang dimaksudkan bahwa iman kita berdasarkan Firman. Apakah kita pikir bahwa bila dalam otak kita ada beberapa proposisi ortodoks atau seperangkat kalimat Kristen seperti :”Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat; Tuhan Yesus mati disalib dan dibangkitkandsb. itu berarti kita sudah beriman sesuai dengan Firman??? Ketika ada rangkaian kalimat dalam kepala kita apakah itu berarti bahwa kita sudah beriman berdasarkan Firman tersebut??? Saya percaya tidak, apa yang terjadi dalam orang-orang yang menerima khotbah Petrus bukanlah demikian.

Kembali kepada peristiwa besar yang tadi. Kita mungkin banyak mendengar mengenai peristiwa Pentakosta selalu dihubungkan dengan lidah-lidah api yang menyala, bahasa-bahsa lidah (bahasa-bahasa) sebagai hal yang menyertai peristiwa Pentakosta. Namun Alkitab tidak berhenti hanya sampai disana, peristiwa itu dilanjutkan dengan perwartaan berita mengenai Kristus. Disini kita melihat bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus berkaitan langsung dengan direbut kembalinya penafsiran kitab suci yang benar. Ada ortodoksi yang dipulihkan, ada pewartaan Firman yang benar. Mujizat besar yang terjadi di sini adalah untuk memberikan konfirmarsi terhadap berita Injil yang selanjutnya diberitakan. Peristiwa tersebut mengkonfirmasi Firman, bukan sebaliknya, Firman berfokus kepada peristiwa besar. Dalam zaman kita sering terjadi keanehan yang luar biasa besar, yaitu bahwa Pentakosta lebih sering dikaitkan dengan lidah api, sementara khotbah dan Firman yang muncul dari mulut Petrus yang menjelaskan peristiwa itu justru disingkirkan. Ini sangat aneh namun tidak mengherankan. Kita memang hidup dalam zaman yang menggandrungi hal-hal yang spektakuler dan yang tidak biasa, dari iklan, model rambut, gaya berpakaian, group-group band, semuanya aneh, dan tidak heran di dalam gereja pun gejala keanehan juga sangat digemari. Pendeta memakai anting, khotbah yang aneh, pola kesembuhan yang aneh, tertawa, jatuh, bergetar-getar, kejang bahkan bersuara-suara seperti binatang, hal-hal aneh tersebut kita jumpai dalam gereja.

Khotbah Petrus mengarah kepada Yesus orang Nazaret yang telah melakukan banyak mujizat yang menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan, ternyata justru diapakukan oleh mereka. Manusia mengharapkan Mesias seturut dengan harapan manusia, ketika sang Mesias datang, dan itu tidak seturut dengan harapan mereka, maka Ia pun disalibkan. Ini sungguh ironis. Kita bilang bahwa kita merindukan Tuhan, kita ingin mengenal kehendak Dia, namun sesungguhnya kita lebih merindukan si tua berjenggot (sinterklas) ketimbang Mesias (yang dalam gambar sering juga berjenggot). Dalam hal ini kita mirip dengan orang-orang yang menyalibkan Yesus. Waktu berkata aku merindukan Tuhan, aku mengasihi Tuhan, sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah sinterklas yang akan membuat kaus kaki yang kita gantung menjadi menjadi kantong Doraemon yang bisa mengeluarkan apa saja seturut dengan apa yang kita mau. Karena itu ketika Tuhan datang, dan Ia menyatakan banyak hal yang kita tidak sukai maka kita cenderung untuk memakukan-Nya di atas kayu salib, kita marah kepada Tuhan. Mujizat ditujukan untuk menunjukkan siapa Dia sebenarnya, dan kita tidak suka akan hal tersebut. Kita menyukai mujizat hanya dalam nuansa bila mujizat itu mampu mengeluarkan apa yang kita mau. Ketika kita melihat orang yang kita tidak suka, yang telah melukai hati kita, dan orang tersebut menerima mujizat Tuhan, sehingga memiliki keadaan yang sangat baik, sementara kondisi kita seolah berada dibawah dia, kita tidak menjadi senang, karena mujizat itu bukan ditujukan untuk menyenangkan hati kita. Ini kecelakaan yang besar, kita salah menilai mujizat. Yunus mendapatkan mujizat Tuhan, pohon jarak atas perkenanan Tuhan tumbuh, dan akhirnya mati, bangsa Asyur yang sangat jahat kepada bangsanya (Israel) menerima mujizat Tuhan (yaitu mereka bertobat), dan hal tersebut adalah mujizat yang mengesalkan hati, karena hal itu tidak mengenakkan dia sebagai bangsa Israel yang sudah sangat kesal kepada orang-orang Asyur.

Dalam kedegilan hati mereka menyingkirkan Tuhan dengn hasrat yang jahat, namun Yesus tidak dibiarkan untuk terus mati, tidak mungkin hal tersebut terjadi. Yesus pun dibangkitkan. Sekali lagi kita melihat bahwa Petrus dengan jeli menggambarkan Perjanjian Lama dalam hal ini Kristus Yesus menggenapkan apa yang ditulis dalam PL. Untuk hal tersebut mereka adalah saksi. Inilah yang menjadi hal utama ketika Dia akan naik ke sorga, bagi Yesus murid-murid tidak perlu untuk mengetahui saat ataupun waktunya, yang terpenting adalah Roh Kudus akan memberi kuasa untuk menjadi saksi??? Reaksi dari khotbah Pentakosta ini sungguh luar biasa. Merka sangat remuk hati. Mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan. Inilah pekerjaan Roh Kudus, yaitu ketika kita dipulihkan, kita menjadi tremble (bergemetar) terhadap berita kematian dan kebangkitan Yesus, yang setiap Minggu telah kita lafalkan dengan latah (Pengakuan Iman Rasuli). Kita harus bertobat, sebab kita sudah menganggap sangat biasa berita besar ini, ini adalah berita klasik Kristen, bukan berita kuno yang bisa kita lafalkan secara sembarangan, Roh Kudus membuat kita bergetar ketika memandang kepada salib Kristus!!! Sebuah lagu American Negro Spiritual oleh JR Johnson & JW Johnson menggambarkan nuansa itu dengan sangat baik. Hadirkah kau waktu Tuhan disalib... oh itu membuatku gentar, gentar, gentar...

Efek khotbah Petrus ini berlanjut dengan kehidupan sehari-hari. Sekali lagi kita sering terjebak pada spektekularisme, dan menganggap sepi hal yang tidak spektakuler. Namun Pentakosta ini tidak berhenti pada kejadian-kejadian besar, namun berdampak pada hidup sehari-hari yang bersifat “biasa”. Semestinya hal ini membuat kita sadar akan tiap hal kecil yang adalah pemeliaraan Tuhan. Ketika kita melihat diri kita sedang dipelihara oleh Tuhan, setiap oksigen yang masuk ke paru-paru kita, yang mengalir di dalam darah dan masuk ke otak kita yang membuat kita bisa berpikir dengan baik, setiap butir nasi yang bisa diuraikan menjadi kalori, setiap sesapan susu yang masuk ke dalam tubuh bayi dan membuatnya bertumbuh, semua adalah hal yang biasa dan terjadi setiap hari, namun itu adalah pekerjaan Tuhan yang harus terus membangkitkan sense of awe, mendorong kita untuk terus terpesona pada karya pemeliharaan-Nya. Namun kita terbiasa melihat kontras, kita terbiasa melihat hal yang spektakuler, kita terbiasa melihat “hidup yang lebih hidup”, sehingga hal yang “biasa” membuat kita susah mensyukuri berkat Tuhan dalam hati kita.

Sekarang kita melihat lagi dalam diri kita, ketika tiap tahun merayakan Pentakosta, ingatkah kita bahwa Allah Roh Kudus memberi kuasa dan kita pun menjadi saksi. Bukan sekedar dalam bersaksi secara linguistik, namun dalam seluruh keberadaan diri kita. Calvin menyatakan bahwa dalam Injil itulah kita melihat penyajian Kristus yang benar. Pentakosta, peristiwa pencurahan Roh Kudus, hari yang mengkonfirmasi jati diri gereja Tuhan, sebagai komunitas yang merangsek ke dalam dunia ini dengan berita Injil dan pada saat yang bersamaan hal itu berarti menyajikan Kristus yang sejati. Hal itu terlihat dengan jelas dalam peristiwa sehari-hari yang sangat biasa. Khotbah Petrus pada bagian ini langsung disambung dengan kondisi jemaat, kehidupan sehari-hari mereka. Dan satu hal yang mencengangkan adalah bagaimana Lukas mencatat cara hidup jemaat, dimana mereka bersehati bertekun pada ajaran yang sehat, dan juga dalam praktek hidup yang sehat. Inilah penyertaan Allah Roh Kudus, merombak kehidupan orang untuk hidup seturut dengan apa yang dikehendaki oleh Allah sebagai komunitas umat Tuhan. Semestinya hal itu akan menggelisahkan diri kita, membuat kita berani menantang diri kita untuk melihat kedalam, merenungkan jati diri kita sebagai gereja Tuhan, yang dalam setiap segi hidupnya menjadi message (pesan) Injil, mempresentasikan Kristus, sehingga membuat gemetar dan heran orang-orang yang belum kenal Tuhan. Apakah hal tersebut ada dalam hidup kita, apakah hidup kita sudah menjadi deklarasi, menjadi pesan Injil (baik dalam kata-kata ataupun segala aspek hidup yang lain) yang mempresentasikan Kristus, sang Benar, sang Suci, sang Penebus, ataukah hidup kita benar-benar serupa dengan orang yang tidak kenal Kristus, dengan dibedakan hanya pada berbagai aktifitas khas agama, yaitu pergi ke gedung gereja setiap hari Minggu dan persekutuan pada hari-hari tertentu saja???

Inilah Pentakosta, didalamnya kita mendapati ada sebuah perombakan pola pikir, perombakan doktrin, ada penyajian Kristus yang asli, perubahan hidup; itulah yang menyenangkan Tuhan, itulah kedatangan Allah Roh Kudus, menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:8). Hal tersebut dikonfirmasi dengan tindakan Allah yang terus menambahkan jumlah orang yang bertobat dihadapan-Nya. Fokus dari kedatangan Allah Roh Kudus membawa orang untuk melihat kemuliaan Allah, mengabdi pada-Nya, dan hal tersebut dikonformasi sendiri oleh Tuhan, dengan cara konfirmasi yang berbeda-beda. Dalam Petrus, Tuhan menambahkan jumlah orang, namun kita melihat bahwa dalam khotbah Stefanus yang begitu berfokus kepada Kristus, konfirmasi Tuhan diberikan melalui reaksi negatif orang-orang yang mendengarkan khotbahnya.

Kisah Para Rasul 7:1-53 menjadi semacam trailer yang begitu indah dari karya penebusan Tuhan Allah. Disini kita melihat Stefanus sebagai orang yang sangat disertai oleh Tuhan, sehingga khotbahnya begitu jitu dalam memberikan highlight terhadap peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama sampai penggenapan-Nya pada Kristus Yesus. Sebelum khotbahnya, dicatat hal yang menarik mengenai Stefanus, yaitu bahwa dia adalah orang yang penuh dengan Roh Kudus, dan dikonfirmasi dengan berbagai tanda dan mujizat. Lukas (banyak dipercaya sebagai penulis Kisah Para Rasul) bahkan mencatat bahwa orang-orang melihatnya seperti malaikat. Namun hal tersebut tidak membuat mereka percaya kepadanya, bahkan sebaliknya mereka bahkan menghasut banyak orang untuk menyerahkan Stefanus ke hadapan Mahkamah agama dan disanalah Stefanus dituduh telah melakukan penghinaan terhadap bait suci serta hukum Taurat serta adat istiadat orang Yahudi. Sebuah trik memalukan dari orang-orang yang menjunjung tinggi agama, namun juga sebuah kesempatan pelayanan yang begitu berharga ketika kondisi tersebut justru memberi Stefanus ruang untuk menyampaikan khotbah fenomenal, sebuah khotbah yang benar-benar mewartakan Kristus dengan begitu jelas, sebuah khotbah oleh seorang diaken yang dicatat dalam Alkitab dan akan terus menerus dibaca orang. Mengapa mereka yang telah melihat Stefanus seperti malaikat tidak menjadi takut dan bertobat??? Hal tersebut telah memaparkan bahwa mereka sama sekali bukan sedang mencari Tuhan namun mencari kepentingan pribadi. Gairah yang besar dalam menaati Tuhan sudah sangat dipengaruhi oleh kepentingan politis manusia, setiap kita memiliki agenda-agenda tertentu dan kita berharap tidak siapa pun juga mengusik, dan tidak juga Tuhan.

Tuduhan yang dialamatkan secara sembarangan kepada Stefanus merupakan tuduhan yang begitu berat. Berkaitan dengan jantung religi mereka, yaitu mengenai bait suci dan taurat. Tentu orang-orang Yahudi masih mengingat pahitnya pembuangan di Babel, serta perihnya hati ketika Bait Suci yang dibangun Salomo, kebanggaan religi dan identitas bangsa mereka harus luluh lantak. Demikianlah tuduhan bahwa Stefanus memberitakan bahwa Yesus akan merubuhkan bait suci tersebut merupakan suatu tuduhan yang begitu berat, yang membangkitkan kembali luka yang masih belum sembuh dari bangsa Yahudi.

Stefanus memulai khotbahnya dengan memaparkan tidakan Allah terhadap Abraham dan bagaiana keturunannya kemudian. Bagaimana bangsa itu kemudian diperbudak oleh Mesir. Dan dengan tangan yang teracung Tuhan menuntun umat-nya keluar dari Mesir, namun selanjutnya umat Tuhan justru berdosa dan menyembah berhala. Perjalanan hidup kita seringkali mencatat kegagalan kita berbakti kepada Tuhan, sebuah ironi besar yang harus disetujui oleh mahkamah agama, karena dalam poin ini dia belum bertentangan dengan Stefanus, sebuah berita yang semestinya membawa manusia melihat kedalam dirinya, dengan segala kebangkrutannya yang seharusnya membawanya kepada penyesalandan permohonan belas kasihan. Namun sungguh ironis, ketika Stefanus menyatakan bahwa mereka telah mendengar berita tersebut namun menolaknya. Ketika kebenaran datang dan menelanjangi segala keboborakan diri, alih-alih bertobat mereka justru marah dan membunuh Stefanus. Manusia tidak mengharapkan kebesaran Tuhan dinyatakan, manusia hanya berharap sesuatu yang baik menurut definisi sendiri datang. Seberapa sering ketika anugerah Tuhan datang kepada kita dengan dinyatakannya kesalahan kita, kita justru menjadi marah besar. Bangsa Israel merupakan bangsa yang mengecap berkat Tuhan yang luar biasa besar; TUHAN, Allah semesta alam berkenan untuk menjadi Allah mereka. Namun ironis, ketika Allah menyatakan diri kepada manusia melalui para nabi (Ibr 1:2) yang menegur, menyatakan kesalahan, menyerukan pertobatan, para nabi tadi justru banyak yang disiksa bahkan dibunuh. Puncaknya adalah Kristus Yesus, sang Allah sendiri yang datang dan mewartakan Injil juga dibunuh.

Sangat tertusuk hati mereka (ay 54). Berita Injil yang diberitakan dengan benar akan menelanjangi segala kebobrokan kita. Membongkar segala kepalsuan, terutama di dalam memanipulasi Tuhan. Stefanus menikmati satu bahagia puncak ketika Dia diperkenankan untuk melihat Tuhan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah Bapa, satu hal yang dirindu-rindukan oleh orang-orang saleh (adakah kita mendambakan Allah???). Kerinduan terhadap Allah inilah yang mendorong Musa untuk berdoa supaya diperkenankan untuk melihat kemuliaan Tuhan (Kel 33:18). Betapa bahagianya Stefanus yang dalam masa hidupnya di bumi sudah diperkenankan untuk melihat sendiri KristusYesus yang telah dibangkitkan dan naik ke sorga. Dalam khotbah Petrus kita melihat kuasa Allah Roh Kudus yang begitu besar di dalam memulihkan kondisi orang Kristen sehingga banyak orang bertobat. Sekarang kita melihat karya dari Alah Roh Kudus yang sama, yaitu bekerja secara luar biasa dalam khotbah Stefanus. Namun hasil yang diraih seolah sangat berbeda. Ketika Petrus berkhotbah, ada 3000 orang yang bertobat, namun ketika Stefanus berkhotbah, dia mendapatkan konfirmasi Allah dengan kegeraman yang memuncak dengan diiringi lemparan batu yang menghancurkan badannya sampai dia mati. Sesungguhnya hasil dari kedua khotbah tadi (khotbah Petrus dan khotbah Stefanus) adalah sama, yaitu nama Tuhan dipermuliakan, Dia disenangkan. Inilah yang semestinya menjadi segenap cita-cita kita, yaitu dalam seluruh hidup kita, kita membawa Injil Tuhan, dan Diapun disenangkan melalui kesetiaan kita.

Para saksi meletakkan jubah Stefanus di depan Saulus, dan pada 8:1a kita melihat bahwa Saulus juga Stefanus mati dibunuh. Saulus yang dinyatakan sebagai seorang muda, telah menjadi saksi sebuah pembunuhan yang begitu kejam. Kekejaman yang dilegitimasi oleh semangatnya dalam membela agama (yang salah). Namun di sisi yang lain, kia melihat bahwa Paulus pun nantinya menjadi seorang yang begitu kukuh dalam memperjuangkan iman dan diapun beroleh kehormatan untuk mati sebagai martir, sebagai saksi Kristus. Satu hal yang telah dia saksikan dalam diri Stefanus, sang diaken, yang penuh dengan Roh Kudus, yang menggenapkan kehendak Allah, membawa berita Injil Tuhan, mempresentasikan Kristus, menyatakan dengan gamblang identitas gereja, menyenangkan Tuhan diatas segala-galanya. (KK)


GOD be praised!!!







Rabu, 20 Mei 2009

Nyanyian Hati


9 Mei 2009
Mzm 42

Mazmur ini merupakan sebuah nyanyian pengajaran. Ini adalah hal yang unik. Dalam gereja kita, kita banyak berbicara mengenai doktrin, mengenai rumusan-rumusan teologis yang dibuat setepat mungkin, namun kita kehilangan atau setidaknya kurang memberikan ruang bagi nyanyian atau puisi yang memberikan suatu pendekatan lain, yaitu melalui aspek estetis di dalam pergumulan kerohanian kita. Kita benyak berbicara mengenai pertumbuhan rohani melalui banyak pembelajaran, banyak doktrin dan teori, tentu hal tersebut sangatlah baik; namun ada aspek pendekatan lain ketika kita berbicara mengenai pertumbuhan kerohanian kita, yaitu aspek estetis, dan saat ini kita berbicara mengenai sebuah lagu sebuah puisi. Sebuah syair lagu mungkin tidak memiliki ketepatan seperti yang dimiliki oleh kalimat-kalimat atau proposisi atau rumusan yang dibuat setepat mungkin, namun syair lagu memberikan sebuah nuansa lain yang mungkin tidak bisa didapatkan melalui rumusan pengajaran tertentu. Kita bisa berkata bahwa Tuhan itu baik, Tuhan itu memelihara kita, namun kita akan mendapatkan nuansa yang berbeda ketika kita berkata: “Tuhan adalah gembalaku... sekalipunaku berjalan dalam lembah kekelaman... aku tidak takut kan bahaya...”. Mazmur 42 ini merupakan nyanyian pengajaran bani Korah (dari suku Lewi yang bertugas di bidang puji-pujian). Besar kemungkinan Mazmur 42 ini merupakan bagian dari liturgi sebuah ibadah. Lagu dalam liturgi sebuah ibadah merupakan hal yang sangat penting. Betapa kita sangat meremehkan peranan lagu ini dalam ibadah kita. Martin Luther, sang Reformator memiliki daya dobrak yang begitu besar di dalam lagu-lagunya, bahkan dikatakan bahwa musuh-musuhnya lebih takut kepada lagu-lagunya daripada kepada khotbah-khotbahnya. Kita melihat bahwa lagu memiliki peran yang sangat penting, lagu bisa menggerakkan seseorang. Manusia bisa mendapatkan dorongan bukan hanya melalui pemikiran, namun juga melalui dorongan emosi (dalam hal ini melalui lagu). Sering kali dalam sebuah ibadah kita sangat meremehkan lagu, kita hanya berfokus pada khotbah; kita tidak merasa terlambat keika kita datang ibadah sebelum khotbah, dan kita tidak merasa kurang ketika kita pulang sebelum doa berkat. Ketika kita pulang, kita hanya mengingat isi khotbah (bahkan terkadang khotbahnya pun kita tidak ingat), kita tidak pernah mengingat pokok-pokok doa, bahkan setelah berdoapun terkadang kita sudah lupa doa apa yang baru saja kita doakan, terlebih lagi Firman yang berbicara kepada kita melalui lagu-lagu yang kita nyanyikan; kita sudah mengesampingkan sama sekali. Ini merupakan sebuah kehilangan yang besar dalam ibadah kita saat ini.

Mazmur ini merupakan nyanyian ratapan, sebuah lagu yang melukiskan hasrat yang mendambakan kehadiran Allah sendiri. Rindu akan Allah bukan merupakan hal yang lazim pada zaman kita saat ini, saya percaya kita perlu bergumul untuk rindu pada kerinduan semacam ini. Kerinduan dan hasrat hati kita sudah ditarik kepada segalam macam hal, kita rindu pada kekayaan, kesehatan, kemakmuran, anak yang pandai dan sehat, rindu pada kemenangan dsb. Namun kita tidak pernah lagi merindukan pribadi Tuhan yang sejati. Ada waktu dalam pergulatan hidup orang percaya, seolah-olah Tuhan seperti absen dan tidak hadir, adakah kita merindukan Dia, ataukah kita rindu hanya kepada gejala keberadaan Allah semata, yaitu kemenangan dan kemakmuran??? Orang Kristen sejati memiliki kerinduan yang dalam akan kehadiran Allah dalam setiap saat kehidupannya. Inilah yang disebut kerohanian Kristen. Pada zaman ini, kita dibanjiri oleh berbagai macam praktek kerohanian/spiritualitas; orang-orang “Barat” yang mulai lelah akan panasnya perputaran dunia modern mulai mencari alternatif lain, mereka mulai merenungkan mengenai makna hidup, mereka mulai mancari praktek-praktek meditasi yang banyak ragamnya terutama di Asia. Namun kerohanian Kristen bukanlah model “siraman” rohani di waktu kita merasa penat. Hal ini merupakan satu ekstrem yang sangat mereduksi makna kerohanian. Seringkali yang kita sebut rohani adalah sebuah masa dimana kita merasa “hati” kita bergetar, perasaan kita “disentuh” dsb. sesungguhnya ini hanyalah reduksi terhadap pengertian akan kerohanian. Dengan pandangan seperti itu kita akan cenderung senang mendengarkan khotbah yang sepertinya mampu “menyentuh” perasaan (sentimentil/emosional), membaca buku atau artikel atau mendengarkan lagu-lagu yang bernada sentimentil juga; tentu hal itu tidak salah, hal itu adalah bagian dari kehidupan manusia, namun kerohanian bukan sekedar diukur dari “bergetarnya” perasaan. Tidak jarang kita menangis ketika mendengarkan sebuah khotbah,terharu ketika membaca sebuah buku, namun setelah itu kehidupan kita sama saja dan tidak mengalami perubahan apa-apa. Itulah kerohanian “siraman”. Untuk mendapatkan hal demikian kita tidak perlu menjadi Kristen, kita cukup membeli buku “Chicken soup for the Soul”, atau buku-buku meditatif lainnya. Namun kerohanian bukanlah satu momen kita di”siram”, kerohanian yang sejati adalah setiap saat kita hidup dan memperhadapkan diri di hadapan Tuhan yang senantiasa hadir.

Selanjutnya kita melihat tekanan yang begitu berat dalam syair Mazmur ini. Pemazmur mengalami tekanan yang begitu berat dari musuh-musuhnya. Kita tidak mengetahui secara pasti tekanan apa yang sedang dihadapi, namun kita melihat bahwa pemazmur begitu tertekan akan cemoohan musuh yang mempertanyakan keberadaan Allah. Pdt. Billy pernah mengatakan bahwa bagi orang percaya, ketidak hadiran Allah adalah tekanan yang sangat besar. Kondisi itulah yang digambarkan dalam Mazmur ini. Dia merasa sangat tertekan, dia merasa gundah gulana ketika orang mempertanyakan keberadaan Allah bagi dirinya. Apakah yang menjadi tekanan dan cemoohan besar dalam diri kita??? Apakah ketika kita kalah, ataukah ketika kita miskin, ataukah ketika anak kita tinggal kelas, ataukah ejekan, ataukah hinaan??? Orang Kristen sejati mengalami tekanan yang besar ketika dia merasa bahwa Allah meninggalkannya. Bukankah seringkali kita terbalik total, kita mudah sekali tersinggung bila kita merasa harga diri kita disentuh, kita mudah marah dan dendam ketika kita merasa kurang dihargai, dianggap sepi, namun kita tidak merasa apa-apa ketika kita berbuat dosa, dan kita berlari meninggalkan Tuhan. Kita persis seperti orang Israel yang tidak sadar ketika Tuhan meninggalkan mereka, mereka tidak sadar akan kebangkrutan rohani mereka, ketika terpukul oleh orang Filistin mereka tidak sadar bahwa Tuhan menghukum mereka, mereka hanya peduli menang atau kalah; kekalahan tidak membuat mereka bartobat, bahkan mereka tidak menyadari Tuhan meninggalkan mereka, secara ironis justru seorang janda (istri Pinehas) yang dengan tepat menafsirkan keadaan mereka yaitu bahwa Tuhan meninggalkan mereka, telah lenyap kemuliaan dari Israel. (1 Sam 4:21-22). Mari kita menyadari dan menghidupi hidup rohani yang benar, yaitu senantiasa memperhadapkan diri dihadapan Allah yang maha hadir, senantiasa mendambakan kehadiran-Nya yang mengoreksi, menegur, dan memberikan kekuatan pada kita. Ketika Musa mengalami tekanan yang begitu hebat, ketika bangsa Israel yang dipercayakan Tuhan untuk dipimpin keluar dari Mesir melakukan dosa yang sangat mengerikan dengan menyembah patung lembu emas dan pada hari itu ada 3000 orang Israel harus mati dibunuh, yang menjadi doa Musa adalah penyertaan dan kehadiran Tuhan. Allah berjanji untuk memberikan malaikat-Nya memimpin, menjadi jaminan bahwa perjalanan tersebut akan sukses, namun Musa menolaknya. Musa meminta satu hal yang paling penting, yaitu kehadiran Allah sendiri, Musa bahkan meminta untuk dapat melihat Allah. Inilah kerinduan umat Allah yang sejati, mendambakan Allah, dan bukan kemenangan, kejayaan, atau keberhasilan, namun Diri Allah sendiri.

Dia mendengarkan cemoohan orang yang mempertanyakan kehadiran Allah. Hal ini juga menunjukkan kepada kita bagaimana pemazmur memperhadapkan setiap hidupnya dihadapan Allah. Cemoohan adalah dari musuh, dan hal tersebut menjadi sebuah masalah. Kita mungkin bertanya, mengapa perkataan musuh harus kita dengar??? Kita sering mendengar bahwa kita tidak boleh mencari perkenanan manusia, kita jangan terlalu mendengarkan kata orang, kita tidak boleh berusaha untuk menyenangkan orang, kita harus menyenangkan Tuhan. Tentu ada kebenaran dalam perkataan-perkataan tersebut. Namun disisi yang lain kita juga harus mengingat bahwa Tuhan juga memakai orang lain untuk berbicara kepada kita. Ada kecenderungan dalam diri kita bahwa kita tidak suka untuk mendengarkan orang berbicara kepada kita, terutama hal yang tidak menyenangkan diri kita. Untuk membuat diri kita terlihat saleh, terkadang kita suka memberikan kritik pada diri sendiri, dan pada umumnya kita mendapatkan jawaban yang menghibur dari teman bicara kita. Kita berkata: “saya ini memang lemah, saya berdosa, terkadang saya emosi”, lalu teman bicara kita berkata: “ah tidak, semua orang itu punya kelemahan, kamu baik kok”, sering kali kita sudah tau tipe-tipe jawaban basa basi yang akan kita dengar dari teman bicara kita, dan kita senang dengan hal itu. Namun mungkin akan sangat lain ceritanya ketika teman bicara kita menjawab demikian :”memang benar, kamu memang menyebalkan, emosimu memang meledak-ledak, saya tidak tahu ada masalah apa denganmu mengapa kamu bisa serusak ini...” mungkin kita akan langsung marah karena kita tidak mendapatkan jawaban seperti yang kita mau. Kita tidak suka mendengarkan orang lain, kita suka mendengarkan diri sendiri, dan kita ingin mendengarkan diri sendiri juga dalam jawaban yang disampaikan oleh orang lain, ini sebuah keanehan yang sangat mengherankan. Ketika kita bertanya:”menurutmu bagaimana saya ini???” Sebenarnya kita hanya mau mendengarkan apa yang kita mau, kita bukan benar-benar ingin mendapatkan jawaban yang jujur, kita hanya ingin mendengarkan diri kita sendiri ketika kita meminta orang lain untuk berbicara tentang diri kita. Dengan cara sedemikian sesungguhnya kita tidak menghargai karya Tuhan di dalam diri orang lain. Daud tidak berani membunuh Simei ketika dia dikutuki olehnya karena dia berpikir bahwa mungkin Tuhan yang menyuruh Simei untuk mengutukinya, memang akhirnya terbukti bahwa Simei bukan disuruh Tuhan, namun kita belajar bahwa Daud melihat bahwa Tuhan bisa bekerja melalui siapa saja. Kita perlu untuk belajar keluasan hati, melihat karya Allah yang maha agung dan dahsyat bahkan di dalam diri orang yang mungkin kita sangat tidak suka.

Ay 5. Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. Ayat ini sangat menarik, kita melihat bahwa ketika mengalami depresi spiritual yang dalam, maka tempat pelarian yang memberikan ketenangan adalah dalam kumpulan jemaat. Rumah Allah, tempat orang mengadakan perayaan, disanalah sejatinya tempat orang beriman lari dan akan berria-ria dalam penghiburan dan nyanyian sorak sorai. Betapa kita sudah sangat kehilangan bagian ini dalam kehidupan bergereja kita. Adakah diantara kita yang ketika mengalami tekanan yang hebat maka kita sangat merindukan untuk berlari kedalam kumpulan jemaat (dalam konteks kita, ibadah raya kita di hari Minggu), apakah kumpulan tubuh Kristus ini sudah menjadi tempat dimana kita bisa mencurahkan pergumulan kita yang dahsyat dan kita mendapatkan kekuatan darinya. Ataukah sebaliknya ibadah kita dipenuhi dengan tatapan sinis, terutama bagi orang-orang yang sudah terkenal “menyebalkan”. Kita lebih sering mendengar cerita bahwa seorang pindah gereja karena sakit hati dengan sesama saudaranya di dalam gereja ketimbang bahwa seorang yang mengalami sakit hati dan depresi hebat mendapatkan penghiburan dan dikuatkan dalam ibadah raya, serta dorongan dan kekuatan dari rekan gereja. Bila ada orang yang berbuat dosa besar dan dikenakan disiplin gereja, sangat mungkin dia akan pindah gereja, bukan karena bertobat tapi karena sakit hati. Berapa banyak diantara kita yang setelah pulang dari ibadah,kita mendapatkan penghiburan dan kekuatan, kita mendapatkan kedamaian dan sukacita yang sejati??? Mungkin sangat jarang, yang ada adalah kita menjalankan “kewajiban” kita beribadah di hari Minggu, ketika pulang, kita merasa senang karena khotbah yang membosankan sudah usai, dan waktu untuk berlibur telah tiba. Kita kehilangan sukacita, kedamaian, kekuatan, teguran, cinta dalam ibadah kita. Sebaliknya tempat pelarian kita bukanlah kepada Allah di dalam kumpulan jemaat-Nya, namun mungkin tempat hiburan, game, pacar, atau bahkan rokok atau narkoba.

Selanjutnya apakah yang dilakukan ketika tekanan menghampiri??? Pemazmur mengajar dirinya sendiri untuk berharap kepada Allah. Di satu sisi dia melihat bahwa tekanan yang dihadapi sangatlah dahsyat, namun ketika dia berharap kepada Allah, dia bisa bertanya kepada jiwanya mengapa dia tertekan. Ini merupakan hal yang sangat unik, ketika tekanan datang, musuh mempertanyakan dimana Allah, ini sebuah kondisi yang begitu memilukan. Namun ketika berharap kepada Allah, kita justru bertanya, mengapa jiwa harus tertekan??? Kepercayaan yang benar akan menjadi kokoh ketika kita tahu kemana kita menggantungkannya, yaitu hanya kepada Allah. Pengharapan kepada Allah menghasilkan ketenangan. Samudera raya, air terjun, gelora gelombang yang dahsyat (ay. 8) sering diidentikkan dengan kuasa besar atau kuasa setan yang tidak terkontrol, namun sungguh unik bahwa Mazmur ini menggabungkan langsung gelora dahsyat tersebut dengan cinta kasih Tuhan yang melingkupi (ay. 9). Ketika apa yang terlihat di depan mata kita seolah sungguh sedang menghimpit kita, kita tetap percaya bahwa segala hal tersebut tidak lepas dari kontrol Tuhan yang mengasihi kita. Prof Peter Lillback mengatakan dalam khotbahnya mengenai Mzm 139 bahwa ketika kondisi yang berat begitu menekan kita, ketika seolah seperti Daniel kita diperhadapkan dengan banyak singa di dalam goa singa, kita harus ingat bahwa singa yang sejati di dalam goa singa itu adalah sang Singa dari Yahuda (Kristus Yesus sendiri). Apakah yang akan kita katakan kepada jiwa kita, apakah seperti orang kaya yang bodoh kita menaruh bahagia kita kepada kekayaan dan berkata: “Jiwaku, ada padamu banyak barang, ... bersenang-senanglah!” (Luk 12:19) ataukah kita menaruh segala percaya kita hanya kepada Allah??? Mari kita melantunkan nyanyian iman:”Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!“ (KK)

GOD be Praised!!!