Tampilkan postingan dengan label 8. Ringkasan Khotbah PRII BSD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 8. Ringkasan Khotbah PRII BSD. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2009

Allah - Yunus, Niniwe, dan kita

Pdt. Rudy Pranoto

28 Juni 2009

Yunus 3:1-10

Dalam bagian yang kita baca, ada suatu perintah yang sama yang diulang kembali seperti yang ada dalam Yunus 1. Pada waktu itu Yunus melarikan diri dari perintah ini, dikatakan disini: “bangunlah, pergilah ke Niniwe.” Apakah waktu itu Yunus sedang dalam perjalanan ke Niniwe, seandainya demikian mengapa ada perintah lagi??? Disini ada penegasan lagi yang serius. Sebenarnya dalam ay 2 Yunus mungkin pergi ke Yerusalem untuk membayar nazar dan pulang ke rumahnya. Setelah itu mungkin terjadilah perintah ini. Disini ada jangka waktu, sehingga mungkin ada berita tentang kejadian Yunus ditelan di dalam perut ikan yang sampai kepada rakyat Niniwe. Yunus dingatkan kembali berita yang dahulu ditolaknya. Pekerjaan seorang hamba Tuhan seperti Yunus adalah menyampaikan apa yang diinginkan oleh Allah, sehingga semestinya dia tidak menentang. Namun Yunus adalah orang yang seringkali beargumen dengan TUHAN. Argumennya adalah bahwa bila Niniwe bertobat maka itu membahayakan Israel. Itu adalah alasan-alasan yang bersifat humanis. Allah pasti sudah mengerti. Ada perkataan bangunlah, namun dalam bahasa Inggris Yunus 1:2 ditulis against (menentang) namun dalam Yunus 3:2, cry unto (berteriak kepadanya) disini ada belas kasihan TUHAN. Ada hati yang mengasihi, kadang TUHAN berbicara keras namun terkadang lembut, disini ada perintah yang jelas. Seorang ayah biasa mewakili keadilan TUHAN, seorang ibu mewakili kelembutan TUHAN. Banyak wanita ingin menjadi pria, emansipasi wanita dsb. sehingga ada pertanyaan bernada tidak terima apakah Allah itu laki-laki, mereka bernyanyi she's got the whole world (lagu aslinya adalah He's got the whole world). Allah bukan monopoli laki-laki, ini adalah rasionalisasi yang keliru. Wanita itu sebagai istri yang lebih lemah namun sebenarnya equal. Orang merumuskan bahwa yang jantan harus itu laki-laki, Golda Meier (mantan PM Israel yang wanita) mengatakan mengapa yang jantan harus laki-laki??? Saya juga jantan, katanya. Ada yang menarik dalam lukisan Rembrant tentang anak yang hilang, tangan Bapa yang merangkul anak yang hilang itu satu tangan laki-laki dan 1 tangan perempuan, Allah itu memiliki kelembutan namun juga ketegasan. Kita harus mengenal Allah secara utuh.

Yunus sudah memberontak namun dia tidak dibuang oleh Allah, ini adalah kasih karunia yang sangat hebat, hal ini seharusnya membuat kita menghargai. Kalau kita bisa melayani bukan karena TUHAN butuh kita, namun itu adalah hak istimewa yang semestinya kita hargai. Ay 3-4 Yunus pergi ke Niniwe sesuai dengan Firman Allah. Mengapa Allah tidak membimbing Yunus langsung dari perahu langsung ke Niniwe, namun dia harus melalui perahu, ikan, baru ke Niniwe??? Ini menunjukkan bahwa bila Allah mau memakai maka Allah akan terus mendapatkan kita. Terkadang saya merasa mengapa begitu banyak tugas, ini adalah dosa karena bila kita bisa bertugas itu adalah anugerah TUHAN. Kesadaran anugrah adalah hal yang sangat perlu.

Niniwe adalah kota yang sangat besar. Mengapa orang-orang yang sangat jahat terus ditolong oleh Allah??? bandingkan Mzm 8:4-6, kita melihat siapa sebenarnya kita ini; Allah tidak butuh kita, ini semestinya menyadarkan kita bahwa kita adalah orang-orang yang mulia. Kota itu 3 hari perjalanan luas nya, lalu Yunus berjalan sehari perjalanan jauhnya, ada orang yang menafsirkan bahwa dia kurang serius, namun ada yang bilang itu serius karena pengalaman dalam perut ikan itu menyadarkannya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi itu untuk membuat kita bisa refleksi diri, apa yang mesti saya lakukan. Disini Yunus tidak takut lagi menghadapi Niniwe; makin orang merasakan kebahagiaan Allah, seharusnya dia makin berani melaksanakan tugas pelayanannya. Mereka bisa mengerti bahasa Yunus, bukankah Yunus orang Ibrani??? Yes 36:11-13 mereka mengerti apa yang dikatakan Yunus meski Yunus bukan orang Niniwe. Dalam pemberitaannya Yunus berkata bahwa 40 hari lagi Niniwe akan ditunggang balikkan. Bagaimana mungkin berita yang singkat itu bisa mempertobatkan Niniwe??? Kata menunggang balikkan itu pernah juga dipakai untuk Sodom dan Gomora, itu adalah khotbah yang sangat keras. Dalam khotbah yang keras ada kasih Allah yang ingin dinyatakan. Unsur kasih sering kita lihat hanya dalam satu segi saja, yaitu pemberian, padahal kasih itu mengajar dan menyatakan keadilan TUHAN. Kata-kata ini dikatakan untuk Sodom juga, disini mereka mengenal bahwa Sodom telah dimusnahkan, apakah pengertian seperti ini penting??? Waktu Musa membicarakan hikmat; hati yang bijaksana dihubungkan dengan murka TUHAN (Mzm 90). Bila kita bijaksana kita perlu mengerti murka Allah. Itu dikatakan kepada orang-orang Niniwe seolah seperti ancaman, namun ancaman itu perlu. Ada orang yang terus menolak Injil, dan ketika di neraka dia akan berkata mengapa kamu tidak paksa atau mengancam saya supaya saya percaya Tuhan??? Kita kadang sungkan untuk mengancam, padahal memang ada suatu hal yang menakutkan yang harus kita sampaikan. Hal ini mengingatkan kita, pernahkan kita menginjili teman-teman kita, bahkan “mengancam” mereka. Ancaman kematian merupakan orang tua dalam kehidupan. Disini ada sifat paradoks, dalam ancaman ada stimulan. Jangan segan untuk mengancam dia agar dia terus berpikir. Ketika orang yang kita Injili ada di neraka maka mereka sudah tidak ada alasan untuk menuntut lagi. Hal ini unik dalam pemberitaan sedemikian Niniwe bertobat.

Ketika mereka bertobat tidak ada jaminan pengampunan, mereka hanya berharap: siapa tahu Allah mengampuni (ay 9). Bagaimana dengan kita yang sudah mendapatkan jaminan akan pengampunan dosa tersebut??? ini sangat ironis, seorang yang tidak ada jaminan tetap mau bertobat, bahkan sampai semua diikut sertakan. Ada penafsir yang mengatakan bahwa binatang yang tidak berakal disuruh untuk mengerti mengenai hukuman Allah melalui rasa lapar; ini bukan kecerobohan raja, mungkin ini adalah kesadaran yang samar akan murka Allah. Orang-orang Niniwe percaya bahwa teriakan binatang yang lapar itu akan didengar oleh Allah dan hal itu nanti dikonfirmasi bahwa Allah menyertakan binatang ternak sebagai alasan pengampunannya (4:11). Pertobatan raja dan penduduk Niniwe itu menunjukkan bahwa penggungaan kain kabung tidak terbatas pada Israel saja (Yeh 26:16). Dalam 8b mereka bukan hanya melakukan hal-hal lahiriah, namun mereka benar-benar bertobat dari dosa-dosa mereka. Calvin menyatakan bahwa puasa, kain kabung, bila tidak disertai hati maka hal itu justru bisa membangkitkan murka TUHAN. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka bertobat, ini adalah suatu refleksi bagi kita, kita sidah tahu jaminan pengampunan, namun kita tetap tidak mau bertobat. Raja pun bertobat, bagaimana dengan kita. Ada yang berkata, ada orang ingin bertobat, namun tidak mau meninggalkan hal-hal lahiriah kebesaran, kenikmatan dsb. disini sang raja memakai kain kabung, dia tidak memakai kain ungu (pakaian kebesarannya). Sang raja menanggalkan kedudukannya dan mau merendahkan diri, karena dia takut kepada Allah yang adalah Raja diatas segala raja. Bila hal itu bisa terjadi, maka hal itu adalah karena Allah sudah memberikan benih iman kepada mereka. Kita harus merenungkan hal ini, mereka bertobat meski tidak ada jaminan pengampunan. Yoel 2:14 kalau mereka hanya medengar ancaman dan mereka bertobat, namun kita yang ada jaminan, kita jauh lebih berengsek dari pada Niniwe, biarlah ini menjadi perenungan buat kita. Niniwe ini dijadikan pembanding oleh Tuhan Yesus, ini adalah suatu hal yang penting sehingga Tuhan membandingkannya. Mat 12:41, khotbah Yesus ini membandingkan orang-orang pada zaman-Nya dengan Niniwe, Yesus lebih besar dari Yunus namun banyak yang tidak bertobat, padahal pada waktu Yunus berkhotbah, Niniwe bertobat. Kita mempercayai kedaulatan TUHAN, namun Alkitab juga mengajarkan mengenai tanggung jawab manusia. Maunsia melakukan berdasarkan tanggung jawabnya; siapa yang bersalah akan dihukum, kita tidak dapat mempersalahkan TUHAN. Pertobatan Niniwe dipakai untuk menunjukkan ketegar tengkukan bangsa Israel yang tetap tidak mau bertobat. Ini sangatlah ironis dan mengingatkan kita semua. Abraham yang tidak ada Firman (Alkitab seperti kita), dia taat tiap perkataan TUHAN, TUHAN berfirman sekali dan dia taat; namun kita yang sudah memiliki Alkitab, Dia berkata banyak kali namun kita tidak taat. Orang Israel tidak bertobat, pertanyaannya pertobatan Niniwe itu sejati atau bukan??? Tidak mungkin seluruh kota bertobat, karena segera kota itu bermusuhan dengan Israel dan Yehuda; namun ada yang bertobat juga dengan sungguh-sungguh sebab bila tidak bagaimana mungkin Yesus berkata bahwa mereka bertobat. Niniwe akhirnya memang jatuh lagi kedalam dosa, Niniwe dihancurkan oleh Cyaxares dan sekutunya pada tahun 606 SM.

Ay 10, menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya, dan Dia tidak jadi melakukannya. Menyesal bukan berarti Allah salah. Hal ini jelas menyatakan belas kasihan Tuhan. Dari menghukum menjadi tidak menghukum, disini ada satu dinamika yang merupakan keunikan dalam diri Allah. Dari apa yang kita sudah baca ini, kita melihat Allah menubuatkan kehancuran Niniwe. Secara esensi, Allah tidak berubah, namun dalam dinamikanya dia berubah. Apakah Allah mengampuni Niniwe karena pertobatan mereka??? Pertobatan mereka adalah karena iman (5), iman ini diperlihatkan dengan perbuatan pertobatan mereka, iman tanpa prbuatan adalah mati. Perbuatan bukan melengkapi iman yang belum cukup, namun iman itu ditunjukkan melalui perbuatan. Ini adalah renungan bagi kita semua untuk melihat diri kita agar kita belajar untuk mengenal Tuhan; bila Dia masih berbelas kasihan, janganlah kita bermain-main, namun serius.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah -KK)

GOD be praised!!!

Kamis, 25 Juni 2009

Kisah Injil Paulus (kita???)

Sdr. Eko Aria

21 Juni 2009

Galatia 2:1-10


Tidak disangsikan lagi, tema mengenai Injil menjadi warna yang sangat mencolok dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini. Kita akan melihat beberapa hal dari bagian surat ini. Paulus telah dengan begitu berani menyatakan identitas kerasulannya dengan otoritas dari Tuhan sendiri, sehingga berita keotentikan yang disertai dengan otoritas Injilnya juga tidak boleh ditinggalkan. Hal tersebut dilakukannya untuk memberikan penekanan sehingga dia mengeluarkan kata kutukan untuk “injil lain”. Kita akan melihat betapa pentingnya Injil tersebut, dan bagaimana Paulus menyusun rangkaian argumen dalam suratnya ini untuk memberikan penegasan pada berita Injil tersebut. Dalam bagian yang kita baca, kita melihat bagaimana Paulus seolah menceritakan hal yang biasa. Apa berbeda dari kisah Paulus ini dengan kisah-kisah yang lain, apa bedanya penuturan ini dengan apa yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul misalnya??? Kita percaya bahwa setiap penulis menyusun suatu kisah untuk membangun sebuah argumen tertentu. Sebuah kisah tidak pernah atau setidaknya sangat jarang yang berhenti hanya pada kisah tersebut sendiri, kisah memiliki makna yang memang dengan sengaja (meski tidak senantiasa disadari) diberikan oleh sang pemberi kisah. Kita lihat bahwa hidup kita dipenuhi dengan kisah, bahkan hidup kita ini adalah kisah. Dalam pembicaraan-pembicaraan kita, sangat sering kita berkisah, entah itu adalah kisah mengenai anak, pacar, suami, teman atau musuh-musuh kita. Waktu kita bercerita bahwa anak kita tadi bertanya jawab dengan gurunya, kita bukan hanya sedang ingin membuat orang lain tahu akan kisah tersebut namun kita (secara sadar atau tidak) sebenarnya ingin menyampaikan sebuah pesan saja, yaitu anakku itu pintar. Cukup mudah mengecek hal tersebut, seandainya orang bereaksi dan menjawab kita dengan penuh perhatian dan kata-kata yang tulus: wah anakmu itu susah menangkap pembicaraan yah sampai-sampai dia perlu untuk terus bertanya, mungkin IQ nya rendah, atau mungkin dia ada kelainan, coba deh periksakan ke dokter, saya kenal seorang dokter anak yang pintar. Kita mungkin akan buru-buru meluruskan “maksud” dari kisah kita: oh bukan begitu, anak saya itu sangat kritis sampai gurunya pun kewalahan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang sudah sangat tajam untuk anak sebayanya. Kisah tidak netral, kisah memiliki maksud dan tujuan. Hidup kita dibentuk dan membentuk kisah, dalam pembicaraan hidup kita, semuanya diwarnai oleh kisah. Mari kita berhati-hati dengan setiap kisah kita, termasuk kisah-kisah yang kita ucapkan. 10 pengintai memberikan sebuah kisah, kisah yang bukan menipu, kisah yang nyata, kisah mengenai penduduk Kanaan yang begitu besar dan kuat, kisah tersebut memiliki power yang begitu kuat sehingga membawa tawar hati bagi bangsa Israel dan membuat bangsa Israel ditimpa murka Allah yang besar (Bil 13:32), Husai memberikan gambar berwarna dalam kisahnya mengenai Daud yang bagai beruang yang kehilangan anak di padang, kekuatan kisahnya membuat Absalom mempercayainya dan meninggalkan nasihat Ahitofel (2 Sam 7:8), kisah mengenai kepahlawanan Daud oleh Husai bukan sekedar cerita tanpa maksud, namun dia bermaksud untuk menggagalkan nasihat Ahitofel. Dari cerita mengenai anak, mengenai restoran, sekolah, sampai gosip-gosip, kita sedang menceritakan “sesuatu” yang sering kali bukan sekedar rangkaian fakta yang kita ceritakan tersebut. Pemilihan kisah yang kita ceritakan pun sudah memiliki tujuan tertentu; dalam hidup kita ada banyak kejadian, namun kita memilih sebagian kejadian dari banyak kejadian yang kita ingat untuk menyampaikan sesuatu. Kisah memiliki kekuatan yang sangat besar dalam membentuk kehidupan manusia, sebaliknya kisah tersebut juga dibentuk oleh manusia. Perhatikan kisah-kisah yang kita tuturkan baik dalam kata maupun perbuatan kita, hal tersebut mencerminkan diri kita, komunitas kita, serta arah tujuan kita. Dalam keluarga, dalam gereja, dalam masyarakat, kisah apa yang kita kisahkan dan hidupi??? Apakah kisah bahwa uang banyak akan membawa kedamaian, ataukah kisah cinta dan kebesaran Allah??? Apakah kita mengajarkan anak kita untuk belajar giat agar besok menjadi orang sukses yang banyak uang, apakah kita sering ribut di rumah ketika dagang sedang kurang sukses??? apakah kita sering berselisih pandang dan bertengkar karena uang??? Hati-hati dengan kisah hidup kita, sekali lagi kita akan membangun hidup kita, anak-anak kita, komunitas kita dengan rangkaian kisah yang kita ceritakan baik secara verbal (dengan perkataan lisan) ataupun non verbal (dalam tindak tanduk kita).

Paulus menyajikan kisah dalam bagian ini untuk membawa pesan Injilnya. Sekali lagi dinyatakan disini bahwa dia pergi oleh suatu penyataan (2). 14 tahun in banyak dipercayai sebagai rentang waktu dari pertobatannya. Sebuah waktu yang cukup lama, hal in menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak perlu mengkonformasi Injilnya, sebab dia telah mendapatkannya dari Tuhan sendiri. Kita harus jelas untuk membedakan hal dengan fenomena orang-orang yang mengaku pergi naik turun sorga dan membawa sebuah berita yang diakui dari Tuhan Yesus sendiri, sementara pemberitaan yang dibawa sering kali berbenturan dengan Alkitab. Pada zaman Paulus tersebut, kanon Alkitab belum lengkap sementara kita sekarang sudah, ini menjadi pembeda yang sangat signifikan. Pada zaman sekarang Alkitab telah lengkap, dan segala hal yang kita perlu ketahui mengenai Allah dan karya-Nya sudah tertera di dalam Alkitab, jadi kita harus membubuhkan tanda tanya yang besar ketika ada orang mengaku lagi mendapatkan “penyataan dari Allah” terlebih lagi bila beritanya bertabrakan dengan Injil. Selanjutnya kita sekali lagi melihat bahwa Paulus tidak berhenti pada pengukuhan berita Injilnya. Dia menyampaikan bahwa Injilnya adalah benar, berasal dari Tuhan sendiri, namun dia juga siap untuk mengkonfirmasikannya dengan ajaran para rasul yang lain. Paulus pergi ke Yerusalem, sangat mungkin ini bukan kunjungannya ketika diadakan sidang di Yerusalem (Kis 15) sebab dikatakan disini bahwa dia mengadakan percakapan tersendiri. “Mereka yang terpandang”, merujuk pada kredibilitas rasuli orang-orang yang ditemui Paulus dimana dihadapan mereka Paulus memaparkan Injilnya. Hal in menjadi sebuah konfirmasi bagi orang-orang yang meragukan kerasulan Paulus dan berita Injil yang dibawanya. Paulus menambahkan cerita mengenai bagaimana Titus yang adalah orang Yunani tidak perlu disunat. Sekali lagi kita melihat bagaimana Paulus mengambil kisah tersebut untuk memberitakan Injilnya. Paulus tidak memasukkan berita mengenai Timotius yang disunatkan, ini bukan menjadi inkonsistensi dalam diri Paulus namun dia sengaja memasukkan bagian tidak disunatnya Titus untuk menunjukkan bahwa Injil sesungguhnya bukan masalah menjadi Yahudi secara etnis. Menerima Kristus sebagai Mesias bukan berarti harus “menjadi Yahudi” dahulu dengan disunat, hal itu dikatakan Paulus hanya akan memperhambakan kita.

Injil merupakan “kabar baik”, Injil memiliki latar belakang, baik dalam budaya Yahudi maupun Yunani. Orang-orang Yahudi menantikan berita baik, seorang pembebas yang akan membawa kelepasan bagi mereka, sementara dalam latar belakang Yunani Injil berarti berita kemenangan, dimana hal sering dimengerti sebagai kelahiran atau kenaikan seorang penguasa. Dalam kedua budaya ini, kata Injil tetap memiliki nuansa sebagai berita baik. Hingga masa kini Injil juga tetap merupakan kabar yang baik; Injil tidak dikurung hanya berita mengenai nanti kita akan pergi ke sorga, sebuah tempat yang non historis, dan bersifat non materi. Injil adalah berita kemenangan, Injil adalah berita akan datangnya sang penguasa, sang pembebas. Injil berbicara mengenai kelepasan dari satu perbudakan menuju kepada kemerdekaan dibawah penguasa baru. Dengan demikian kata Injil meliputi juga invasi; kemerdekaan bukan berarti bebas tanpa kekangan, pembebasan ini berarti pembebasan dibawah penguasa baru yang telah melepaskan kita dari penguasa yang lama. Injil yang diberitakan menyodorkan kemenangan TUHAN dan penobatan sang raja, yaitu Yesus dimana hal ini berarti juga kekalahan allah-allah asing dan penundukan diri yang sepenuhnya kepada Allah. Namun kemenangan apa yang didapatkan, Raja itu akan membebaskan kita dari apa??? dalam bagian salam surat ini (1:4) Paulus menyatakan bahwa Dia melepaskan kita dari dunia jahat. Melepaskan bukan berarti kita akan dipanggil keluar dari dunia ini, melainkan kita dibebaskan dari tirani kejahatan yang telah lama memperbudak kita. Ini adalah berita baik. Apakah kita sungguh merasakan bahwa ini adalah kabar baik??? Sungguh ironis, kita telah sangat menganggap remeh dosa, kejahatan semakin lama menjadi hal yang semakin biasa, seiring dengan maraknya dosa, kita mulai beradaptasi dengan dosa dan tidak merasa janggal ketika kita berdosa. Karena itu tidak heran bila ita tidak merasakan dorongan yang sangat kuat untuk memberitakan Injil, sebab kita sendiri tidak merasa bahwa kelepasan dari dosa dan kejahatan adalah suatu kabar baik. Jauh lebih mudah mengidentikkan kabar baik (Injil) dengan “sorga” yang di dalmnya penuh dengan kesejukan dan kemudahan ketimbang mengidentikkannya dengan kelepasan dari dosa. Ini satu hal yang sangat mengkhawatirkan. Surat Galatia ini tidak berbicara mengenai “sorga” yang non material dan non historis, sorga yang hanya diisi oleh “jiwa-jiwa”, sorga yang dipenuhi dengan warna putih, plus malaikat yang bermain harpa. Injil berbicara mengenai pembebasan, kelepasan dari tirani kejahatan. Inilah berita baik, dan mari kita sadari natur sukacita dari berita ini. Sering kali ketika memberitakan Injil, kita sudah keder sendiri, ketakutan, mood kita sangat berhati-hati takut menyinggung perasaan dan lain sebagainya. Injil adalah berita baik, berita sukacita. Sukacita seperti ini mestinya bisa kita beritakan dengan gairah yang lebih besar dari pada seorang anak kecil yang dengan sangat ceria bercerita mengenai mainan barunya. Tentu ada sifat konfrontasi dari Injil ini, namun Injil tetaplah berita sukacita.

Paulus menceritakan bahwa berita Injilnya sejalan dengan pengajaran rasuli, yaitu mereka yang terpandang itu. Paulus menambahkan kembali bahwa dia tidak memandang “keterpandangan” para rasul yang lain sebagai kredit yang besar kecuali panggilan Tuhan sendiri. Ini menjadi kekuatan yang sangat besar dalam pelayanan, yaitu ketika kita tahu bahwa Allah yang memiliki pekerjaan, dan Allah yang mengutus. Paulus menyadari panggilannya untuk memberitakan Injil kepada orang-orang dengan latar belakang non Yahudi (tidak bersunat), seperti halnya Petrus untuk orang-orang bersunat. Ada bagian, ada porsi yang memang telah diberikan Tuhan kepadanya. Ini adalah suatu dasar pelayanan yang sangat penting, setiap kita dipercayakan bagian tertentu oleh Tuhan, tugas kita adalah dengan setia menjalankannya. Mereka, yaitu Yakobus, Kefas, dan Yohanes berjabat tangan dengan Paulus sebagai tanda persekutuan. Mereka bekerja untuk Tuhan yang sama, untuk tugas yang telah dipercayakan masing-masing bagiannya oleh Tuhan. Mereka sama sekali tidak beroposisi dengan Paulus mengenai berita Injilnya, mereka mengingatkan Paulus untuk memperhatikan orang-orang miskin, sebuah hal yang Paulus pun sudah berkomitmen untuk melakukannya. Sangat menarik bahwa dalam pertemuan yang tersendiri (2), ketika Paulus memberikan pertanggung jawaban Injil, sebuah berita yang begitu penting - yang membuatnya berani mengusung kata kutukan yang begitu tajam (1:8-9), dan tidak sungkan-sungkan memasukkan sebuah kisah perseteruannya dengan Petrus (1:11-14) - ada nasihat untuk memperhatikan orang-orang miskin, dan Pauluspun memasukkan hal ini di dalam bagian suratnya ini. Hal ini terlihat seolah sebagai satu hal yang sangat minor dan kurang terlalu perlu dalam rangka untuk mengokohkan berita Injil, namun Paulus menuliskannya bagi pembaca Galatia. Pelayanan gereja, berbicara mengenai kemurnian Injil, tidak pernah terlepas dengan kehidupan sehari-hari. Injil bukan sekedar “nanti” pergi ke sorga, Injil adalah mengenai dominasi Allah yang dinyatakan, dan pada saat yang bersamaan pengguguran allah-allah asing yang disembah secara tidak sah, dan hal tersebut meliputi segala hal hingga elemen sehari-hari, elemen yang terkecil dalam hidup kita. Inilah kisah yang dituturkan oleh Paulus, yaitu betapa dia berpadanan dengan berita rasuli (nanti kita akan melihat bagaimana dia berkonfrontasi dengan Petrus, salah satu orang yang dikatakan terpandang), dan kisah tersebut dituturkannya untuk menjaga iman yang benar, untuk kemurnian berita sukacita yang diembannya.

Setiap kita dibentuk dan membentuk kisah. Dan setiap kita sudah diberikan peran yang jelas, setiap kita menyandang nama Kristus, sebagai Kristen, dan setiap kita dipangil untuk membawakan berita tersebut. Berita yang berisi seruan bahwa Kristus sudah datang, masa penjajahan telah usai. Kristus bukan nama keluarga atau nama alias dari Yesus, namun Kristus sudah dinantikan sebagai sang Pembebas. Kepenguasaan Yesus sebagai Kristus yang sudah datang, invasi dan dominasi-Nya harus diproklamirkan. Paulus dipanggil untuk memberitakannya kepada orang-orang tak bersunat, Petrus untuk orang-orang bersunat, mereka melakukannya dengan memberitakan Injil di tempat-tempat ibadah orang Yahudi, di tempat-tempat yang lain dengan jalan berkhotbah, berdebat dan lain sebagainya. Kita dipanggil untuk memberitakan berita yang sama, kepada zaman dan orang-orang yang berbeda, dengan cara yang mungkin sama dan mungkin berbeda, mungkin dengan berkhotbah, berdialog, bekerja, namun biarlah kisah kita nyata dibaca orang. Sebuah kisah berbahagia mengenai kebebasan yang sejati dari belenggu kejahatan, sebuah kebebasan dibawah perintah Yesus sang Kristus. Ini adalah kisah suka, biarlah kita beritakan kesukaan besar ini dengan gairah cinta Tuhan sang Pembebas kita.


GOD be praised!!!