Tampilkan postingan dengan label 6. Ringkasan khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 6. Ringkasan khotbah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juli 2009

Apakah hidup manusia itu???

Pdt. Rudy Pranoto
05 Juli 2009
Mazmur 8, Kejadian 5:21-32


Ketika kita membaca Kejadian 5, apakah hidup manusia hanya seperti itu. Waktu Allah mencipta, Dia mengatakan bahwa hal itu baik, namun ketika Dia selesai menciptakan manusia Dia mengatakan bahwa hal itu sungguh amat baik. Manusia adalah mahkota ciptaan, mahluk yang dicipta begitu mulia, supaya melalui manusia segala kemulian dikembalikan kepada Allah. Manusia harus menguasai alam untuk memuliakan Allah. Pada ay 1 kita melihat ada doxologi yang dinaikkan, dengan tujuan itulah manusia mengisi hidupnya. Katekismus Westminster pada pertanyaan dan jawaban pertama mengatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah. Dalam Kej 5 kita melihat tidak ada suatu yang patut dicatat, manusia hanya hidup beranak, dan mati. Kita kadang tidak berpikir, bila kita lihat, apa sebenarnya hidup kita, kita hidup menjadi besar, sekolah, kerja, menikah dan pada akhirnya mati. Hidup kita hanya mengulang siklus seperti itu, bila kita tidak mengerti hidup seperti ini sangat kering dan membosankn. Apa yang dapat di-share-kan (dibagikan) dalam hidup seperti ini??? Namun dalam ay 21-23 ada catatan yang beda dengan yang lain. Henokh bergaul dengan Allah selama 300 tahun, kita melihat suatu yang berbeda, yaitu hal yang sangat penting dalam hidup, yaitu bergaul dengan Allah. Henokh dibanding yang lain justru umurnya paling pendek. Yang paling panjang adalah Metusalah (969).

Bergaul dengan Allah, ini sangat menarik.Henokh adalah keturunan ke 7; 7 adalah angka sempurna, disini kita melihat puncak kesalehan hidup manusia. Ini bukan berarti dia orang baik, surat Ibrani menyatakan bahwa Henokh adalah orang beriman, iman adalah pemberian Alah, dan iman itu menghasilkan buah (Yak 4). Kita melihat Henokh merupakan puncak kesalehan; Lamekh juga merupakan keturunan ke 7 dari Kain, namun dari Lamekh ini justru menjadi puncak kebejatan manuia. (Kej 4). Lamekh adalah orang pertama yang mulai melakukan poligami. Keturunan Henokh menurunkan Nuh. Henokh melairkan Metusalah, pada umur 187 dia memperanakkan Lamekh, sehingga dia hidup 782 tahun lagi setelah memperanakkan Metusalah. Waktu Lamekh melahirkan Nuh, dia berumur 182 tahun. Pada waktu Lamekh melahirkan Nuh umur Metusalah tinggal 600 tahun. Pada akhir hidupnya itulah air bah muncul. Apakah Metusalah mati sebelum atau mati karena banjir??? Kalau dia mati sebelum banjir, berarti dia diselamatkn, namun jika dia mati karena banjir, maka adalah orang yang tidak beriman karena yang beriman hanya 8 orang. Apakah manusia itu??? Ketika orang non Kristen berespon secara baik terhadap wahyu umum, kita orang Kristen bahkan bisa memiliki hidup yang lebih buruk. Ironis sekali bila kita sebagai orang percaya hidup kita berantakan, apakah yang kita pakai untuk mengisi hidup kita??? Henokh umurnya paling pendek dari yang dicatat pada bagian tersebut, namun hidupnya lain, dia dicatat bukan lebih sukses atau kaya, tapi hidupnya bergaul dengan TUHAN.

Dalam Teologi Sukses diajarkan bahwa orang yang diberkati adalah orang yang sukses, yang kaya dsb. padahal hal itu tidak ada dalam Alkitab. Ada kebahayaan disini. Bergaul dengan Allah berati dia akrab dengan Allah. Kalau dia bergaul berarti dia memfokuskan hidupnya untuk Allah, kalau kita hanya arahkan hidup kepada materi, maka hidup kita kecil sekali dan tidak berarti. Kristus adalah contoh, hidup dari makna, bukan dari rentang waktunya. Umurnya hanya 33,5 tahun namun hidupnya berkait senantiasa dengan Bapa yang di sorga. Apakah hidup kita sudah dikaitkan dengan kehendak Bapa yang di sorga??? Ini sangat penting. Kaya tidak salah jika kaya itu bisa dikaitkan dengan kekekalan, dengan kemuliaan Allah. Maka sekaya apapun kita, hidup kita nothing dihadapan Allah. Kita mungkin kaya raya, namun tidak ada artinya. Apa artinya merayakan ulang tahun tiap hari, apa artinya panjang umur bila hidup itu tidak ada bobotnya??? Seandainya kita tahu, kita akan mati pada umur 33 tahun apa yang akan terjadi; kita takut belum menikah, anak masih kecil; pikiran kita hanya takut mati. Kita tidak takut kalau hidup kita tidak punya makna, sebenarnya sepanjang-panjangnya umur, satu hari umur itu akan habis. Musa menyatakan bahwa tahun-tahun umur kita itu pendek, dan hidup itu adalah kesengsaraan (Mzm 90:10). Orang tua seing dihantui dengan ketidak bergunaan dsb. Dalam Ef 5: 15-16 Paulus berbicara mengenai waktu. Waktu berjalan secara linier, bukan sirkular. Waktu, menurut Agustinus seperti tali yang terus dibakar, waktu tidak berulang-ulang. Ada film yang diperankan oleh Michael J Fox mengenai mesin waktu; disana waktu bisa diulang-ulang, di timur juga ada konsep seperti ini. Namun waktu tidak bisa diulang. Kita manusia yang terbatas, hidup kita bukan masalah panjang pendeknya. Musa berkata, Tuhan ajarilah kami menghitung hari kami sedemikian agar kami beroleh hati yang bijaksana. Musa berpikir bahwa ketika waktu-waktu itu lewat, hidup harus makin bijaksana. Mzm 90:11 Musa mengaitkannya dengan murka Allah. Tanpa berkait dengan Allah, hidup kita adalah nothing.

Mengapa kita sulit mempermuliakan Allah??? Karena kita sudah menempatkan diri kita dalam posisi yang tidak tepat. Allah harus senantiasa diatas; manusia menguasai alam untuk memuliakan Allah. Namun manusia seringkali mau diatas Allah namun dibawah alam. Aneh, kadang kita mau mengatasi Allah, namun kita rela dibawah alam. Kita tidak sadar bahwa ketika uang, kesuksesan jadi sasaran kita, berati materi (alam) ada di atas kita; ini ada keterbalikan. Pada waktu kedudukan, kekayaan, pengetahuan, kuasa politik jadi tujan hidup manusia, segala sesuatu yang dalam kesementaraan jadi tujuan hidup kita, maka kita sudah bergeser kebawah, kita dikuasai oleh alam.

Dalam gereja-gereja tertentu, ada orang yang mau mengatur Allah, kita mau mengatasi Allah. Allah seolah bisa disetir oleh kita, berarti kita lebih berkuasa dari Allah. Konsep yang mengatakan bahwa dengan sogokan, upeti (apapun itu: uang, persembahan, pelayanan) Allah bisa kita perintah, adalah konsep agama yang salah. Kita harus membidik sasaran kita, yaitu Allah semata. Kristus adalah sasaran kita, Allah sebagai fokus hidup; kalau bidikan kita meleset, mungkin kita bisa jatuh, namun kalau meleset masih dekat. Jika fokusnya kita tidak tahu, maka segalanya menjadi kacau. Kita hanya pikir apa yang bisa kita nikmati; kita rasa sayang kalau ada orang mati muda, kita hanya mengukur umur orang berdasarkan panjang pendeknya, ini berarti berfokus pada kesementaraan saja. Paulus menyatakan bahwa kita adalah orang yang paling malang bila kita hanya meletakkan pengharapan kita pada kesementaraan (1 Kor 15:19 ). Lebih baik punya hidup yang mungkin tidak panjang namun bermakna; dari pada panjang namun tidak bermakna. Kita tidak bisa memilih kita dilahirkan seperti apa, namun kita bisa mengisi hidup kita untuk mempermuliakan Allah. Kristus mengarahkan seluruh hidup-Nya kepada seluruh kehendak Bapa.

Satu kali ada orang meninggal yang belum percaya namun keluarganya Kristen, dan waktu meninggal dia pakai ayat 2 Tim 4:6-7 di koran. Saya pikir kapan dia menyelesaikan pertandingan dengan baik, dia bahkan mungkin belum percaya, iklan itu cuma slogan belaka. Waktu kita berlari, kita ada tujuan, yaitu memuliakan Allah (1 Kor 9:24-26, Filipi 1:21; 3:13-14). Teman saya berkata kalau Kristus datang pada waktu nonton sinetron dia akan bilang wah sebentar saya habiskan dulu sinetronnya ya Tuhan, karena sinetron ini sungguh menarik. Mana yang kita pikir lebih baik, sekarang pergi ke sorga atau hidup dahulu baru nanti ke sorga. Hizkia ketika diperpanjang umurnya maka kerohaniannya merosot. Bertemu dengan Kristus sangat mulia, namun Paulus rela untuk terus hidup untuk memberi buah. Waktu Tuhan menyuruh Yunus ke Niniwe ada ancaman; ancaman itu terkadang perlu. Ancaman yang keras sering perlu. Ketika mati, kita dapat memilih apa saya tinggalkan, dan kemana saya pergi. Hidup penuh pergumulan, apakah saya sungguh-sungguh percaya pada Tuhan??? Bila bertemu Allah, apakah kita berani datang dengan suka kehadapan-Nya??? Henokh meningalkan catatan keturunan yang baik.Bila kita mati apa yang kita tinggalkan, pabrik, deposito??? Yang ditinggalkan adalah keturunan, anak, menantu. Kita diingatkan bahwa yang paling berharga adalah keturunan kita. Keturunan adalah estafet yang akan meneruskan iman. Saya pernah mendengar mengenai seorang bendahara yang sangat sibuk, dan setiap anaknya yang mau perlu sesuatu harus menulis di kertas dan dia akan memenuhi semua, bolehkah kita berbuat demikian??? Sering kita terlalu sibuk cari uang, uang perlu kita pikirkan, namun bergaul dengan anak-anak kita dan memberikan teladan jauh lebih penting. Henokh meninggalkan keturunan, dari Metusalah ada keturunan yang baik. Ada seorang yang benar-benar berpikir tentang masalah ini, Monica, ibu Agustinus, dalam confessions (Agustinus), Monica adalah ibu yang sangat dikagumi, ibu yang mencucurkan air mata untuk anak-anak. Istri saya ketika akan meninggal terus mau membekali anak-anak saya satu hal, yaitu takut akan Tuhan. Bagaimana kalau anak-anak kita jadi berandal??? Pdt. Stephen Tong bersaksi bagaimana ibunya terus mendoakan dan mendidik anak-anaknya untuk takut akan Allah. Seorang pengkhotbah bertanya pada anak-anaknya, siapa pengkhotbah yang terbaik, semuanya mengatakn: ibu. Ibu itu memiliki peran yang sangat mulia. Setelah anak-anak saya ditinggal mamanya, anak-anak saya sering bercerita tentang mamanya, hal ini menunjukkan bahwa peran ibu sangat penting. Ada 2 tempat dalam Pkh 1:7, rumah pesta dan rumah duka. Pengkhotbah menasihatkan kita bahwa pergi ke rumah duka lebih baik dari pada ke rumah pesta. Ini terbalik dari yang sering kita pikirkan. Mengapa demikian??? Di rumah dukalah ada akhir hidup manusia, disanalah kita diingatkan, suatu hari kita akan meninggalkan dunia ini, bagaimana hidup kita??? Di rumah duka kita diingatkan lagi apa yang ditinggalkan oleh orang yang mati itu. Kita merenung seperti teman David Livingstone yang terus menangis, dia mengingat bahwa mereka berdua dipanggil Tuhan untuk menjadi Hamba Tuhan, namun dia lalai terhadap panggilan tersebut, sementara David Livingstone telah setia sampai akhir hidupnya.

Saya harap kita merenungkan hal ini, apakah hidup kita ini, kemana kita akan pergi dan apa yang kita tinggalkan. Amin.

(Ringkasan khotbah sudah diperiksa oleh pengkhotbah – KK)
GOD be praised!!!

Selasa, 30 Juni 2009

Sabda Bahagia

Pdt. Rudy Pranoto
28 Juni 2009
Matius 5: 1-12

Khotbah di bukit sudah sangat terkenal bahkan perikop ini juga terkenal di kalangan orang non Kristen, Mahatma Gandhi sering membaca khotbah ini, dia adalah orang yang punya cinta kasih persaudaraan yang sangat dalam dan sangat dipengaruhi oleh khotbah ini. Namun banyak orang yang mengerti kebenaran itu baru ada dalam ruang lingkup wahyu umum. Nilai-nilai Alkitab lebih dari itu, bila kita tidak dilahir barukan, sampai kapan pun kita tidak akan mengerti. Gandhi waktu membaca bagian ini memang dipengaruhi namun dia tetap tidak bisa menjadi Kristen karena dia kecewa dengan orang Kristen. Dalam suatu perjalanan dia direndahkan oleh orang Inggris yang Kristen. Paulus berkata bahwa kita adalah surat terbuka, karena itu kita harus menjadi teladan agar orang melihat kemuliaan Allah. Orang Kristen disebut Kristen justru oleh orang kafir yang melihat suatu perbedaan dalam diri orang Kristen, setiap mereka bertanya mereka diberi tahu bahwa mereka adalah pengikut Yesus Kristus. Kemarin di Persekutuan Wanita dikatakan bahwa hidup kita dikontrol pikiran, namun kita harus tahu bahwa pikiran kita harus dikendalikan oleh Firman. Dalam bukunya, Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa rasio bukan penentu, rasio harus tunduk kepada kebenaran Firman

Banyak yang berkata bahwa khotbah di bukit itu adalah inti khotbah Yesus. Injil Matius sangat sarat dengan tema Kerajaan Allah. Yesus Kristus memanggil murid-murid-Nya, ini adalah persiapan untuk membangun Kerajaan Allah. Tuhan memanggil mereka untuk mendirikan Kerajaan itu. Mat 4 Yesus mengajar, memberitakan Injil (peresmian Kerajaan Allah), lalu Mat 5 ini ada 8 sabda bahagia. Kalimat yang pertama, datanglah murid-murid kepada-Nya. Yang mendengar adalah orang banyak dan para murid. Matius mengatakan bahwa murid-murid-Nya datang kepada-Nya. Dalam mengajar Yesus membangun relasi dahulu dengan murid-murid, setelah orang-orang itu memiliki hati yang mau belajar barulah dia mengajar. Hal in menekankan bahwa ini seolah bersifat eksklusif. Bukankah eksklusifitas sering diserang??? Suatu hari ada orang yang beragama lain datang ke gereja saya, dulunya dia biasa-biasa saja, lalu sekarang dia ikut STRIS. Dia memikirkan kata eksklusif, jika ada orang sungguh memberitakan Injil, berpuasa, orang tersebut sering dikatakan eksklusif. Kita bukan mengeksklusifkan diri kita, namun Tuhan Yesus yang memisahkan kita. Kita ini dibedakan dari yang lain, itulah yang disebut Qados (kudus), yaitu dibedakan/dikhususkan dari yang lain. Kita sering tidak sadar siapa kita dihadapan Tuhan. Ada gejala yang tidak baik diantara orang Kristen, sering kali kita tidak sadar hal yang basic (dasar), kita sering mengajak orang untuk berdoa untuk melayani, namun sebelumnya orang yang diajak itu harus sadar bahwa dia menerima anugerah, dia diangkat menjadi anak, bila dia sadar hal ini maka dia akan menghargai anugerah Tuhan, bila dia tetap tidak menghargai anugerah tersebut berarti dia adalah orang bebal dan mungkin dia belum menerima anugerah Tuhan. Orang yang banyak diampuni adalah orang akan banyak berbuat kasih, sebenarnya setiap orang Kristen adalah orang banyak diampuni, kita harus sadar bahwa kita sudah banyak diampuni, hal in harusnya memicu hidup kita untuk semakin mengasihi dan memuliakan Tuhan.

Dalam perumpamaan tentang menabur benih, ada orang yang takjub namun benih Firman itu mati dan tidak bertumbuh, bila kita mengatakan bahwa suatu khotbah itu bagus, namun hal itu tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam hidup; sebenarnya mungkin memang bukan orang Kristen sejati (Ibrani 6). DalamYoh 2:24 dikatakan bahwa Yesus tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena mereka cuma mau mujizat, mau apa yang keluar dari Tuhan, namun bukan Tuhan sendiri, bukan sang Pemberi namun pemberiannya. Dalam pelayanan kadang kita mengalami pergumulan, dan kita harus mengerti dan memiliki interaksi dengan orang yang kita layani. Saya berkata pada orang yang saya layani bahwa setiap masalah yang terjadi dalam hidup kita adalah ujian iman, seringkali Tuhan menguji orang yang dikasihi-Nya. Hidup ini adalah proses pergumulan yang panjang.

Ay 2, Yesus mulai mengajar, disini ada satu yang harus didengar. Lidah itu berbahaya, bisa membangun dan bisa merusak juga. Yang dikatakan Yesus adalah sesuatu yang sangat penting. Kita terlalu sering berbasa-basi, tanya apa kabar dan lalu menjawab baik. Suatu hari ada orang bertanya apa kabar, dan saya jawab ada baik ada buruk, dan dia kaget karena terlalu sering mengeluarkan kata-kata klise dan mendengar jawaban basa basi. Apa yang kita katakan harus menjadi message. Richard Baxter berkata bahwa setiap dia berbicara, dia berbicara seolah saya sekarat dan berkhotbah kepada orang yang sekarat yang mungkin tidak akan bisa bertemu lagi dengan dia. Setiap kita berkhotbah kita harus serius, apa yang dikatakan oleh Yesus Kristus bukan sekedar basa-basi, namun itu menjadi berita (message). Waktu membaca ayat 8 sabda bahagia ini kita berpikir bahwa ini adalah ideal yang kita tidak bisa lakukan. Yang kedua berpikir bahwa ini adalah sangat praktis dan gampang dilakukan, namun keduanya salah. Hal tersebut sulit namun bukan tidak bisa dilakukan.

Tuhan Yesus memulai dengan kata berbahagialah. Kita harus belajar spirit paradoks, suatu hal yang seolah bertentangan. Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, yang miskin di dalam roh. Terlebih lagi kata berbahagialah orang yang berduka cita, ini adalah paradoks. Dalam Mzm 51:18,19 dikatakan bahwaTuhan tidak suka dengan korban, Tuhan tidak menerima pelayanan namun dia berkenan pada hati yang hancur. Bila orang rajin pelayanan justru membuatnya congkak, maka dia akan dibuang Tuhan. Saya terkadang ingin marah bila pengurus-pengurus tidak memberikan teladan, namun disisi yang lain saya bersedih hati dan berdoa untuk mereka semua. Saya belajar terus, pelayanan itu berani memperhadapkan diri di hadapan Tuhan apa adanya. Saya tidak punya andil atau jasa, namun anugerah Tuhan itu sangat besar. Karena itu kalimat pertama adalah berbahagialah orang yang merasa rendah, tidak cinta Tuhan, bobrok, dan rapuh. Pengakuan dan kesadaran bukan sekedar sadar dan tahu namun ada langkah lanjutnya. Pada orang yang berzinah Tuhan berkata: “Akupun tidak menghukum kamu, tetapi jangan berbuat dosa lagi”. Bila saya tahu anugerah Tuhan itu besar, maka saya tidak bisa mempermainkannya. Bila Tuhan mau memakai itu adalah anugerah. Karena itu berbahagialah orang yang tidak mempunyai apa-apa, ini memakai kata ptochos, ptochos diartikan orang yang benar-benar tidak punya apa-apa, seperta janda miskin yang yang cuma memiliki 2 peser dan ketika dimasukkan uang itu maka dia sudah tidak punya apa-apa lagi, inilah arti miskin disini. Kebangunan rohani yang sejati selalu dimulai dengan hancur hati; kita tidak dipanggil untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita perlu memiliki kesadaran akan kemiskinan diri kita sendiri. Jemaat Laodikia merasa kaya, namun Tuhan mengatakan bahwa mereka miskin. Kita perlu untuk memiliki kesadaran akan hal ini. Waktu saya masih muda ada seorang coach (pelatih) dari luar negri yang berkata bahwa sepakbola Indonesia tidak bisa menjadi juara dunia karena tidak mengerti basic nya. Mat 7 mengatakan sama-sama bangunan namun beda basic, akhirnya yang dibangun diatas pasir akan roboh. Ini adalah basic, tidak ada yang kita bisa berikan kepada Allah, dan bila kita sekarang bisa melayani, itu hanyalah anugerah Allah. Orang Farisi berdoa membanggakan diri, menganggap diri benar dan mengganggap rendah yang lain, kontras dengan pemungut cukai yang memohon belas kasihan Tuhan. J.M Boyce menyatakan bahwa dia sudah melihat mengenai darah yang dipercikkan - kata hilastheti adalah bentuk kata kerja dari perkataan “tutup pendamaian” yang terdapat diatas tabut perjanjian TUHAN di dalam kemah (hilasterion) . Abraham belum tahu bahwa Kristus mati, namun dia memiliki iman yang melihat jauh, ini adalah iman penebusan (Allah yang menghidupkan orang mati) (Rm 4:17), padahal Abraham hanya tahu bahwa Allah adalah Pencipta (menjadikan dengan Firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada), dia memiliki iman yang menerobos. Pemungut cukai itu memiliki kesadaran akan penebusan itu, bila kita bisa baik maka hal itu adalah anugerah Tuhan.

Ay 4 berbahagialah orang-orang yang berduka cita karena mereka akan dihibur. orang yang merasa bahwa dia tidak bisa mengandalkan apapun dari dirinya, maka dia berduka cita. Taurat seharusnya menyadarkan bahwa kita tidak mampu melakukan Taurat itu dan memohon belas kasihan Tuhan. Namun sebaliknya orang-orang Israel justru sombong karena itu mereka dibuang Tuhan. Orang Kristen harus berduka cita karena kita tidak selalu berada dalam kondisi rohani yang baik. Pergumulan semacam ini sangat indah. Dalam kasus Ayub, Tuhan ingin supaya Ayub semakin mengenal Dia, bukan sekedar melalui kesaksian orang lain. Kta senang mendengarkan kesaksian orang lain, namun kita perlu untuk mengalami sendiri. Saya harap siapapun kita, kita memiliki pergumulan yang jelas, disitu iman kita benar-benar ditempa oleh Tuhan. Ini bukan suatu hal yang gampang. Bahagia itu tidak identik dengan senang-senang, bahagia itu bukan berarti tidak ada kesulitan. Pemimpin pujian sering salah dengan mengatakan bahwa kita harus bersuka cita, hal ini hanya pembiusan diri. Bila ada diantara kita yang menderita, saya menghargai pergumulan. Biarlah dengan hati yang apa adanya kita persembahkan diri kita dihadapan Tuhan. Biarlah kita bergumul. Mungkinkah seorang yang berduka cita berbahagia??? Dunia menjawab tidak, namun Tuhan menganggap kita berbahagia. Biarlah segala sesuatu yang bersifat dasar ini kita mengerti, dengan hati yang hancur kita bergumul, biarlah kita dipakai Tuhan demi kemuliaan-Nya. Amin.
(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – KK)

GOD be praised!!!

Kamis, 25 Juni 2009

Bercermin melalui Lot

Pdt. Rudy Pranoto

21 Juni 2009

Kejadian 13:5-13


Ketika kita berbicara mengenai Lot maka hal itu menjadi suatu cermin bagi kita. Waktu Abraham meninggalkan Urkasdim dia membawa Lot, keponakannya. Abraham dan Lot punya harta yang sangat banyak. Waktu itu terjadi pertengkaran antara hamba-hamba mereka karena banyaknya ternak mereka. Abraham mengambil solusi untuk berpisah dan Abraham memberi kesempatan untuk memilih bagi Lot. Ada kebesaran hati Abarham yang kontras dengan Lot. Abraham adalah orang tua yang mestinya lebih berotoritas namun dia memberi kepada Lot, tetapi Lot yang lebih muda dan mengikuti Abraham menunjukkan sikap ketidak tahuan dirinya. Masalah budi pekerti ini kurang diperhatikn orang, bahkan sampai pada zaman sekarang. Banyak orang berkata bahwa sekarang manusia diajar untuk makin pintar, namun sayangnya sangat kurang dalam hal sopan santun. Biasa kalau saudara bertamu paling tidak kita berkata kepada orang yang lebih tua: “Selamat pagi pak, apakah saya bisa bertemu dengan Joni???”. Namun ada orang yang mengeluh pada saya, karena setiap ada teman anaknya yang datang langsung berkata tanpa sopan santun : “Joni ada??? Benar-benar tidak tahu sopan santun.

Ay 11 (sangat mengagetkan saya), Lot tidak bertanya apa boleh saya mengambil tempat ini, dia juga tidak membiarkan Abraham, pamannya untuk memilih terlebih dahulu karena Abraham yang lebih tua. Masalah ini bukanlah hal yang baku, ini adalah masalah etika. Lot benar-benar tidak tahu diri. Dia bisa menjadi kaya juga karena belas kasihan Abraham, namun dia tidak sungkan untuk memilih tempat yang terlihat lebih subur. Kita tidak mendapat contoh disini, sebab Lot menempatkan harta sebagai hal yang utama. Harta memang perlu, namun kalau itu dijadikan orientasi, maka hal itu akan membawa kecelakaan. 1 Tim 6:10 mengatakan bahwa orang yang cinta uang akan menyiksa dirinya sndiri. Jangan kita hanya berpikir mengenai kesementaraan. Lot sangat mementingkan kekayaan dan itu menjadi orientasi hidupnya. Dengan demikian dia berani mengorbankan segala hal hanya untuk kekayaan. Lot berkemah di dekat Sodom, dan Alkitab langsung memberikan catatan bahwa Sodom telah sangat jahat dan berdosa. Tapi bagi Lot hal itu tidak masalah, yang penting baginya adalah itu wilayah yang paling makmur. Lot bukan menjauhkan diri dari Sodom yang jahat, namun pada pasal 14 dia malah pindah ke sana. Apakah Lot tidak tahu bahwa itu kota yang penuh dengan kejahatan??? Dia tahu karena dia pergi mendekat kesana sedikit demi sedikit. Dia bukan tertarik kepada dosa-dosa orang Sodom namun pada kemakmurannya. Lot dikatakan oleh surat Petrus (2 Ptr 2:8) bahwa dia adalah orang benar, karena itu hal ini menjadi cermin bagi kita.

Kata Sodom menjadi akar dari kata sodomi (sebuah hubungan seksual yang abnormal). Pada Kej 19 kita membaca mengenai orang-orang Sodom yang berkata mengenai tamu-tamu Lot, kata “memakai” itu berarti mereka mau memerkosa. Semua pria di kota itu mau “memakai”, tidak peduli orang tua, dewasa ataupun anak-anak, disini kita melihat kebejatan yang begitu jahat. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Lot, bagi dia, bagaimana dia mendapatkan sesuatu adalah hal yang lebih penting . Kita melihat solusi Lot kepada orang-orang itu yang sangat tidak etis, dia menawarkan anak-anaknya sendiri yang masih perawan untuk “dipakai” mereka. Disini kita melihat kerusakan yang begitu susah untuk dimengerti. Orang yang hanya melampiaskan seks benar-benar mirip binatang. Di dalam persetubuhan sebenarnya ada saling keterbukaan dan menikmati keindahan ciptaan yang paling indah, yaitu manusia, dalam hubungan suami istri yang kudus. Dlm Kej 19:34 kita melihat incest, seorang anak yang memperkosa ayahnya untuk mencari solusi mengenai keturunan. Dalam dua malam kakak dan adik memperkosa satu ayah, ini sungguh sangat bejat, disini kita bisa melihat pengaruh Sodom terhadap keluarga Lot, yaitu anak-anaknya sendiri. Kita hidup dalam dunia yang sudah bejat. Kota Sodom sudah begitu bejat, ini membuat Tuhan tidak bisa mentolerir. Lot tahu semua itu namun dia tetap mengejar harta. Dlm Yeh 16:49 kita melihat bahwa kota ini sangat kaya, ini sangat menarik hati Lot. Lot sudah kaya, namun dia terus hanya ingin memperkaya diri. Bila kita seperti ini, kita harus bertobat. Pada 1996 saya berhenti bekerja, saya berhentikan perusahaan saya karena saya mau merawat isteri saya. Disini ada pergumulan dan pertanggung jawaban dihadapan Tuhan, saya tidak mau hanya mengejar kekayaan. Lot sangat kontras dengan Abraham. Ketika dia sudah mapan, namun Tuhan memanggilnya, maka dia meninggalkannya semua kemapanan hidupnya, pergi ke tempat yang dia tidak tahu. Pada Kej 14, Lot semestinya memiliki kesempatan untuk meninggalkan kota itu, namun dalam Kej 19 kita melihat bahwa dia tetap kembali ke Sodom. Kenikmatan dunia bisa membuat orang lupa diri.

Lot adalah orang yang tidak punya kesaksian hidup. Kej 19:14 mengisahkan Lot yang ketika memperingatkan kedua bakal menantunya dia dianggap berolok-olok (bercanda) saja. Dlm 19:15 dikatakan bawha kedua malaikat itu mendesak Lot, dan ketika dia berlambat-lambat maka melaikat-malaikat itu menarik Lot sekeluarga. Lot berlambat-lambat dalam mengikut melaikat tersebut, ini sangat ironis. Dia sengaja berlambat-lambat, kalau bisa dia tidak meninggalkan kota tersebut. Kalau dia sendiri tidak berniat meninggalkan, wajar bila dia tidak didengar oleh para bakal menantunya, sebab hidupnya tidak menjadi kesaksian. Bila kita tidak menjadi kesaksian bagi anak-anak kita, kita hanya akan dilihat sebagai orang yang becanda saja. Kemarin, waktu memberikan konseling pra nikah, orang bertanya kepada saya mengenai cara mendidik anak, hal itu sebenarnya simpel, tentu itu adalah anugrah Tuhan, dan kita harus menjadi teladan hidup. Kita melihat pada akhirnya istri Lot menjadi tiang garam karena dia menoleh kebelakang. Hatinya ada di Sodom sehingga akhirnya dia menjadi binasa, menjadi tiang garam.

Lot adalah orang benar, namun dia tidak menularkan imannya kepada istri dan menantu-menantunya. Kej 19:26 dikutip oleh Lukas 17:32 sebagai peringatan untuk mengingat isteri Lot. Dalam kedatangan Yesus yang ke 2 kali, kita disuruh untuk mengingat isteri Lot yang begitu mencintai apa yang dimiliki di dunia ini. ini sangat kontras dengan Tuhan Yesus yang berkata apa gunanya memiliki seluruh dunia tetapi kita kehilangan nyawa kita.

Setelah mereka keluar dari kota tersebut, maka kita melihat dosa lain, yaitu anak-anaknya memperkosa dia. Kita melihat dia gagal mendidik isterinya (yang menjadi tiang garam) dan anak-anaknya (yang memperkosa dia). Lot tidak memiliki hidup doa yang baik, waktu Tuhan berkata bahwa kota itu akan ditunggang balikkan dia justru berlambat-lambat, berbeda dengan Abraham yang berdoa bagi kota tersebut. Abraham tidak sekedar berdoa untuk Lot (keluarganya), namun untuk kota tersebut. Abraham tidak sekedar family interest. Abraham berdoa untuk satu kota tersebut, Abraham tahu sekali seperti apa murka Allah itu. Abraham tidak berkepentingan dengan Sodom, dia tidak tinggal disana, namun dia tetap berdoa untuk kota yang bejat tersebut. Inilah orang yang sudah bertumbuh di dalam Tuhan, inilah hidup yang berkelimpahan sehingga serius bergumul dihadapan Tuhan. Kontras sekali dengan Lot yang benar-benar tinggal disana namun tidak pernah berdoa bagi kota tersebut. Kehidupan doa biasa dibagi berbagai macam, syukur, permohonan, pengakuan dosa, dsb. Namun dalam berdoa, kita sering hanya seperti kaset yang diulang-ulang, tidak ada pergumulan di dalamnya. Lot adalah seorang percaya yang meninggalkan warisan yang sangat jelek. Mana yang kita pilih, mendapatkan warisan dari orang tua kita, harta yang melimpah atau teladan yang baik. Bila kita hanya mendapatkan uang yang banyak maka celakalah kita. . Warisan rohani apa yang kita tinggalkan bagi keturunan-keturunan kita??? Kiranya kisah Lot ini menjadi ceriman bagi kita untuk kita belajar untuk terus bergumul. Amin.

GOD be praised!!!

Sabtu, 20 Juni 2009

Filsafat Pendidikan

Ev. Ivan Kristiono

12 juni 2009

Ulangan 6:4-9; Amsal1:7; 31:10-31


Banyak orang Kristen memiliki filsafat pendidikan yang non Kristen. Semua orang memiliki cara pandang, sangat berbahaya kalau kita tidak menyadari apa dan asal cara pandang kita, ataupun efeknya. Gereja sebagai tiang kebenaran dalam dunia harus mengajar jemaat bagaimana jemaat memiliki filsafat pendidikan Kristen. Banyak orang yang konseling mengenai sekolah, dan mereka sangat kaget karena mereka tidak pernah mengerti mengenai filsafat pendidikan yang selama ini mereka anut. Banyak sekolah yang menganut liberation education, progressivism dsb, lalu muncul keminderan orang-orang Kristen kalau dia tidak mengikuti cara Amerika. Kita percaya Alkitab melampaui segala sesuatu, dan kita perlu bijaksana untuk mengerti kebenaran itu. Sama-sama Kristen, filsafat pendidikan bisa lain; ada yang bernama konservatifisime yang bersifat anti intelektual dari sayap Injili; disini anak semacam diindoktrinasi dengan saat teduh, membaca Alkitab dan lain sebagainya. Ada liberation education yang berasal dari liberation theology dsb. Kita sering mendengar pusat pendidikan bukanlah guru, tetapi murid. Tapi sesungguhnya pusat pendidikan adalah Tuhan. Tuhan itu real (nyata), bukan abstrak. Yang membuat manusia mengerti kebenaran adalah Roh Kebenaran. Waktu kita berpusat ke Tuhan, kita otomatis concern terhadap anak, waktu kita berpusat pada anak maka anak tersebut menjadi bos. Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia adalah guru, jadi tidak benar bila dikatakan bahwa kita tidak boleh memarahi anak. Sama-sama Kristenpun bisa sangat berbeda, terlebih lagi yang bukan Kristen. Hal tersebut sekarang diperparah dengan motiv marketing. Banyak orang yang mau mencari hal yang langsung dan praktis, padahal sesungguhnya pendidikan adalah proses .

Shema (LAI: Dengarlah; dalam Ulangan 6:4) adalah fondasi dasar bagi pendidikan. Sekarang ada yang bernama deschooling yang muncul dari seorang yang bernama Ivan Illich, dia mengatakan bahwa Martin Luther sudah membuat negara mencampuri bidang pendidikan, menurut dia anak-anak harus dibebaskan dari ideologi kapitalis, karena itu negara tidak boleh mencampuri urusan pendidikan. Alkitab sudah bicara bahwa pendidikan tidak netral. Waktu kita menyusuri dalam sejarah; Martin Luther menetapkan bahwa pendidikan harus dilaksanakan oleh negara. Alasan pertama adalah keterbatasan kemampuan, yaitu keterbatasan kemampuan orang tua dalam mendidik anaknya, kedua keterbatasan waktu yang dimiliki bagi seseorang untuk mendidikanak-anaknya, ketiga masalah surat penghapusan dosa. Luther mendorong orang untuk memberi uang kepada negara untuk pendidikan daripada memberikan uang untuk ketamakan kepausan untuk membeli surat penghapus salah.

Sebelum Luther, sebelum Aristoteles, sebelum Plato, di padang gurun, TUHAN sudah menetapkan lembaga pendidikan yang paling dasar, yaitu keluarga. Ini tidak bisa diganti oleh pendeta, guru dsb. Seringkali anak-anak lebih hormat kepada guru ketimbang orang tuanya. Orang tua seperti ini sangat kasihan, hak nya untuk mendidik anak sudah dicabut dan diberikan kepada orang lain. Sebagai unit yang paling dasar, keluarga harus menjalankan pendidikan. Semua bermula pada yang paling dasar / ontologi (be atau keberadaan dari “hal” tersebut). Semua bermula dari TUHAN, realita adalah kita hidup dihadapan Allah. Ontologi Kristen harus mulai pada credo atau pengakuan iman bahwa Allah itu ada dan Dia mencipta, dan itu disusul oleh etika. Etika dibangun diatas dasar realita (ontologi) yang benar. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa (kalimat tersebut ontologi), maka kasihilah Tuhan Allahmu (kalimat yang menyusul ini etika). Ada anak yang sudah hampir tidak naik kelas namun bermain sampai sore, sementara ada anak-anak yang pintar, nilainya bagus, justru semakin rajin belajar. Etika itu cara dia memandang sesuatu, dan hal tersebut tergantung pada presuposisi dia. Pintar/bijak berati mau diajar bukan IQ yang tinggi. Peperangan yang sangat besar adalah membuat orang bebal menjadi bijak. Makin bebal, makin dia menghina didikan, makin bijak makin suka akan didikan.

Behaviorism menyatakan bahwa orang dan kuda tidaklah berbeda, asal dia dipuji waktu melakukan yang baik maka dia akan menjadi baik. Manusia yang lahir itu bukan kertas polos (tabula rasa), manusia sudah berdosa. Realita / ontologi senantiasa berkaitan dengan etika yang mengikuti. Yahudi banyak memenangkan nobel; orang Yahudi sangat mengenal perintah taklukkanlah bumi... (Kej 1:28) dengan demikian maka dia bisa membelah katak, menelitinya sedemikian rupa; sementara itu orang-orang India akrab dengan konsep bahwa manusia dan alam adalah satu, kita bisa menjadi katak suatu hari kelak ketika berinkarnasi, maka mereka tidak berani sembarangan membelah tubuh katak, bisa jadi katak itu adalah nenek moyang mereka. Ontologi senantiasa berkait dengan etika/ sikap. Pertama tegakkan kebenaran, setelah itu tegakkan etika sesuai kebenaran tsb. Tanpa Firman/kebenaran maka liarlah rakyat. Dimulai dari ontologi lalu masuk ke pada etika.

Tujuan dari pendidikan adalah supaya anak-anak takut akan Allah, anak dekat dengan Tuhan. Kapan pendidikan dilaksanakan??? Pada ay 7 dikatakan agar pendidikan dilaksanakan secara berulang-ulang atau berkesinambungkan. Jadi, pendidikan untuk membuat manusia takut akan Allah menjadi tema utama dalam keluarga. Ini menjadi topik utama, dan sering dibicarakan. Namun sekarang, kita sangat susah dan jarang berbicara mengenai Allah dalam keluarga kita, kita sudah terjangkit sekularisme, kita memisahkan segala hal dari Tuhan. Tema utama pembicaraan yang utama semestinya adalah untuk mempermuliakan Tuhan, dalam setiap aspek pembicaraan senantiasa adalah bijaksana Firman Tuhan. Tema-tema tentang Firman senantiasa ada. Takut akan Allah adalah tujuannya. Dalam Ams 1:7 dikatakan bahwa orang yang takut akan Allah adalah orang yang bijak. Manusia dididik untuk takut akan Allah dan itulah orang bijaksana. Bijaksana yang paling puncak adalah mengenal Kristus. Dalam Alkitab, bijaksana tidak senantiasa dikaitkan dgn keterampilan akademis. Pendidikan Kristen menjadikan kita bijaksana yaitu menjadikan mereka takut akan Allah. Yang harus dididik bukan hanya orang muda, tetapi semua orang. Sudah bijak harus menambah kebijakan lagi, itu adalah karakter orang bijak.

Bijak yang pertama adalah bisa menerapkan Firman dalam hidup sehari-hari. Ams 31:10-31; ay 13-15 berbicara mengenai rajin. Ay 20 orang bijak peka terhadap kesulitan orang lain, ay 26 , 28 , 30 kita melihat bahwa yang bijaksana itu adalah ibu rumah tangga, bukan profesor dsb. Siapapun bisa takut akan Allah. Amsal dibuka dan ditutup dengan takut akan Allah. Yang disebut sebagai takut akan Allah bukan setiap saat bergidik, namun seluruh Firman Allah diaplikasikan dalam hidup, dan hal itu perlu dilatih. Itulah tujuan dari pendidikan Kristen.

Yang kedua, bijaksana adalah mengutamakan Kerajaan Allah; bijaksana berarti tahu mana yang dahulu dan utama dan mana yang terkemudian. Yang kedua adalah mengutamakan yang berharga. Mana yang berharga Allah atau mamon??? Ini dahsyat, Tuhan dikomparasikan dengan mamon, tiap kita memiliki mamon yang harus kita perangi. Mana yang berharga dan mana yang tidak berharga, ini adalah bijaksana kedua. Ketiga, bijaksana berarti mampu menyangkal diri; sepanjang sejarah, orang bijaksana adalah orang yang mampu mengerem kemauannya. Amsal 1 mengajarkan bahwa dimana ada pendidikan disana ada godaan. Disana pasti ada kesulitan. Sekolah bukan karantina, yang dikatakan baik bukan sekedar berarti tidak narkoba, tidak berjudi dsb. Jika hanya berhenti disana maka itu namanya tempat karantina. Ada kesenangan duniawi dan ada godaan dalam pendidikan. Dalam Alkitab, karakter bertumbuh dalam 3 hal, pertama dari buah-buah Roh, kedua, karena janji Firman Tuhan, ketiga, karakter muncul setelah orang menghadapi kesulitan. Tugas kita adalah senantiasa mentoring, biarkan anak menghadapi kesulitannya. Karakter yang agung sering muncul dari kesusahan yang begitu besar. Pendidikan Kristen bertujuan supaya orang takut akan TUHAN, untuk mengaplikasikan Firman dalam seluruh hidup, dan untuk itu pasti ada banyak halangan.

Biarlah suatu hal yang paling dasar ini terus kita aplikasikan dalam filsafat kehidupan dan pendidikan kita. Jangan kita minder, kita harus terus berani untuk dilatih belajar Firman. Kiranya seluruh hidup kita diarahkan seturut Firman Tuhan demi kemuliaan nama-Nya.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah – KK)

GOD be praised!!!

Sabtu, 13 Juni 2009

Pentakosta

Sdr. Eko Aria

07 Juni 2009

Kisah Para Rasul 2:1-47; 7-8:1a


Kita akan melihat khotbah yang dicatat Lukas berkaitan dengan peristiwa Pentakosta untuk kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai peristiwa fenomenal ini. Pertama kita akan lebih terfokus pada khotbah Petrus. Khotbah ini dicatat sebagai bagian yang menjelaskan peristiwa fenomenal tersebut. Alkitab tidak membiarkan kita berhenti pada pertanyaan-pertanyaan yang akan bergulir liar dengan membiarkan peristiwa fenomenal tersebut tanpa tafsiran. Ada beberapa jenis respon terhadap peristiwa besar tersebut. Ada yang tercengang heran, namun ada juga yang mencibir dan mengatakan bahwa mereka sedang mabuk oleh anggur. Ketika berhadapan dengan sebuah peristiwa kita akan melihat bahwa kita bisa meresponinya dengan sikap yang berbeda. Ada orang yang memang tidak percaya dan memutuskan untuk tidak percaya, namun ada mereka yang memang dikaruniakan Tuhan untuk mencari kebenaran. Disini kita melihat bahwa peristiwa spektakuler ataupun mujizat-mujizat besar tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk bertobat. Ev. Inawati Tedy menyatakan bahwa mujizat-mujizat yang diberikan sering kali tidak membuat manusia bertobat. Dan hal tersebut kita lihat konfirmasi secara jelas dalam bagian ini, setelah khotbah Petrus kita melihat bahwa banyak diantara mereka yang menjadi percaya, kalimat itu (bahwa banyak yang menjadi percaya pada ay 41) muncul bukan setelah mujizat besar tersebut terjadi melainkan setelah Petrus selesai memberikan khotbahnya. Iman muncul dari Firman. Iman yang tidak didasarkan pada Firman adalah iman yang salah. Apa yang kita imani, apa yang menjadi dasar iman kita??? Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah yang dimaksudkan bahwa iman kita berdasarkan Firman. Apakah kita pikir bahwa bila dalam otak kita ada beberapa proposisi ortodoks atau seperangkat kalimat Kristen seperti :”Yesus Kristus satu-satunya Juruselamat; Tuhan Yesus mati disalib dan dibangkitkandsb. itu berarti kita sudah beriman sesuai dengan Firman??? Ketika ada rangkaian kalimat dalam kepala kita apakah itu berarti bahwa kita sudah beriman berdasarkan Firman tersebut??? Saya percaya tidak, apa yang terjadi dalam orang-orang yang menerima khotbah Petrus bukanlah demikian.

Kembali kepada peristiwa besar yang tadi. Kita mungkin banyak mendengar mengenai peristiwa Pentakosta selalu dihubungkan dengan lidah-lidah api yang menyala, bahasa-bahsa lidah (bahasa-bahasa) sebagai hal yang menyertai peristiwa Pentakosta. Namun Alkitab tidak berhenti hanya sampai disana, peristiwa itu dilanjutkan dengan perwartaan berita mengenai Kristus. Disini kita melihat bahwa peristiwa turunnya Roh Kudus berkaitan langsung dengan direbut kembalinya penafsiran kitab suci yang benar. Ada ortodoksi yang dipulihkan, ada pewartaan Firman yang benar. Mujizat besar yang terjadi di sini adalah untuk memberikan konfirmarsi terhadap berita Injil yang selanjutnya diberitakan. Peristiwa tersebut mengkonfirmasi Firman, bukan sebaliknya, Firman berfokus kepada peristiwa besar. Dalam zaman kita sering terjadi keanehan yang luar biasa besar, yaitu bahwa Pentakosta lebih sering dikaitkan dengan lidah api, sementara khotbah dan Firman yang muncul dari mulut Petrus yang menjelaskan peristiwa itu justru disingkirkan. Ini sangat aneh namun tidak mengherankan. Kita memang hidup dalam zaman yang menggandrungi hal-hal yang spektakuler dan yang tidak biasa, dari iklan, model rambut, gaya berpakaian, group-group band, semuanya aneh, dan tidak heran di dalam gereja pun gejala keanehan juga sangat digemari. Pendeta memakai anting, khotbah yang aneh, pola kesembuhan yang aneh, tertawa, jatuh, bergetar-getar, kejang bahkan bersuara-suara seperti binatang, hal-hal aneh tersebut kita jumpai dalam gereja.

Khotbah Petrus mengarah kepada Yesus orang Nazaret yang telah melakukan banyak mujizat yang menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan, ternyata justru diapakukan oleh mereka. Manusia mengharapkan Mesias seturut dengan harapan manusia, ketika sang Mesias datang, dan itu tidak seturut dengan harapan mereka, maka Ia pun disalibkan. Ini sungguh ironis. Kita bilang bahwa kita merindukan Tuhan, kita ingin mengenal kehendak Dia, namun sesungguhnya kita lebih merindukan si tua berjenggot (sinterklas) ketimbang Mesias (yang dalam gambar sering juga berjenggot). Dalam hal ini kita mirip dengan orang-orang yang menyalibkan Yesus. Waktu berkata aku merindukan Tuhan, aku mengasihi Tuhan, sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah sinterklas yang akan membuat kaus kaki yang kita gantung menjadi menjadi kantong Doraemon yang bisa mengeluarkan apa saja seturut dengan apa yang kita mau. Karena itu ketika Tuhan datang, dan Ia menyatakan banyak hal yang kita tidak sukai maka kita cenderung untuk memakukan-Nya di atas kayu salib, kita marah kepada Tuhan. Mujizat ditujukan untuk menunjukkan siapa Dia sebenarnya, dan kita tidak suka akan hal tersebut. Kita menyukai mujizat hanya dalam nuansa bila mujizat itu mampu mengeluarkan apa yang kita mau. Ketika kita melihat orang yang kita tidak suka, yang telah melukai hati kita, dan orang tersebut menerima mujizat Tuhan, sehingga memiliki keadaan yang sangat baik, sementara kondisi kita seolah berada dibawah dia, kita tidak menjadi senang, karena mujizat itu bukan ditujukan untuk menyenangkan hati kita. Ini kecelakaan yang besar, kita salah menilai mujizat. Yunus mendapatkan mujizat Tuhan, pohon jarak atas perkenanan Tuhan tumbuh, dan akhirnya mati, bangsa Asyur yang sangat jahat kepada bangsanya (Israel) menerima mujizat Tuhan (yaitu mereka bertobat), dan hal tersebut adalah mujizat yang mengesalkan hati, karena hal itu tidak mengenakkan dia sebagai bangsa Israel yang sudah sangat kesal kepada orang-orang Asyur.

Dalam kedegilan hati mereka menyingkirkan Tuhan dengn hasrat yang jahat, namun Yesus tidak dibiarkan untuk terus mati, tidak mungkin hal tersebut terjadi. Yesus pun dibangkitkan. Sekali lagi kita melihat bahwa Petrus dengan jeli menggambarkan Perjanjian Lama dalam hal ini Kristus Yesus menggenapkan apa yang ditulis dalam PL. Untuk hal tersebut mereka adalah saksi. Inilah yang menjadi hal utama ketika Dia akan naik ke sorga, bagi Yesus murid-murid tidak perlu untuk mengetahui saat ataupun waktunya, yang terpenting adalah Roh Kudus akan memberi kuasa untuk menjadi saksi??? Reaksi dari khotbah Pentakosta ini sungguh luar biasa. Merka sangat remuk hati. Mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan. Inilah pekerjaan Roh Kudus, yaitu ketika kita dipulihkan, kita menjadi tremble (bergemetar) terhadap berita kematian dan kebangkitan Yesus, yang setiap Minggu telah kita lafalkan dengan latah (Pengakuan Iman Rasuli). Kita harus bertobat, sebab kita sudah menganggap sangat biasa berita besar ini, ini adalah berita klasik Kristen, bukan berita kuno yang bisa kita lafalkan secara sembarangan, Roh Kudus membuat kita bergetar ketika memandang kepada salib Kristus!!! Sebuah lagu American Negro Spiritual oleh JR Johnson & JW Johnson menggambarkan nuansa itu dengan sangat baik. Hadirkah kau waktu Tuhan disalib... oh itu membuatku gentar, gentar, gentar...

Efek khotbah Petrus ini berlanjut dengan kehidupan sehari-hari. Sekali lagi kita sering terjebak pada spektekularisme, dan menganggap sepi hal yang tidak spektakuler. Namun Pentakosta ini tidak berhenti pada kejadian-kejadian besar, namun berdampak pada hidup sehari-hari yang bersifat “biasa”. Semestinya hal ini membuat kita sadar akan tiap hal kecil yang adalah pemeliaraan Tuhan. Ketika kita melihat diri kita sedang dipelihara oleh Tuhan, setiap oksigen yang masuk ke paru-paru kita, yang mengalir di dalam darah dan masuk ke otak kita yang membuat kita bisa berpikir dengan baik, setiap butir nasi yang bisa diuraikan menjadi kalori, setiap sesapan susu yang masuk ke dalam tubuh bayi dan membuatnya bertumbuh, semua adalah hal yang biasa dan terjadi setiap hari, namun itu adalah pekerjaan Tuhan yang harus terus membangkitkan sense of awe, mendorong kita untuk terus terpesona pada karya pemeliharaan-Nya. Namun kita terbiasa melihat kontras, kita terbiasa melihat hal yang spektakuler, kita terbiasa melihat “hidup yang lebih hidup”, sehingga hal yang “biasa” membuat kita susah mensyukuri berkat Tuhan dalam hati kita.

Sekarang kita melihat lagi dalam diri kita, ketika tiap tahun merayakan Pentakosta, ingatkah kita bahwa Allah Roh Kudus memberi kuasa dan kita pun menjadi saksi. Bukan sekedar dalam bersaksi secara linguistik, namun dalam seluruh keberadaan diri kita. Calvin menyatakan bahwa dalam Injil itulah kita melihat penyajian Kristus yang benar. Pentakosta, peristiwa pencurahan Roh Kudus, hari yang mengkonfirmasi jati diri gereja Tuhan, sebagai komunitas yang merangsek ke dalam dunia ini dengan berita Injil dan pada saat yang bersamaan hal itu berarti menyajikan Kristus yang sejati. Hal itu terlihat dengan jelas dalam peristiwa sehari-hari yang sangat biasa. Khotbah Petrus pada bagian ini langsung disambung dengan kondisi jemaat, kehidupan sehari-hari mereka. Dan satu hal yang mencengangkan adalah bagaimana Lukas mencatat cara hidup jemaat, dimana mereka bersehati bertekun pada ajaran yang sehat, dan juga dalam praktek hidup yang sehat. Inilah penyertaan Allah Roh Kudus, merombak kehidupan orang untuk hidup seturut dengan apa yang dikehendaki oleh Allah sebagai komunitas umat Tuhan. Semestinya hal itu akan menggelisahkan diri kita, membuat kita berani menantang diri kita untuk melihat kedalam, merenungkan jati diri kita sebagai gereja Tuhan, yang dalam setiap segi hidupnya menjadi message (pesan) Injil, mempresentasikan Kristus, sehingga membuat gemetar dan heran orang-orang yang belum kenal Tuhan. Apakah hal tersebut ada dalam hidup kita, apakah hidup kita sudah menjadi deklarasi, menjadi pesan Injil (baik dalam kata-kata ataupun segala aspek hidup yang lain) yang mempresentasikan Kristus, sang Benar, sang Suci, sang Penebus, ataukah hidup kita benar-benar serupa dengan orang yang tidak kenal Kristus, dengan dibedakan hanya pada berbagai aktifitas khas agama, yaitu pergi ke gedung gereja setiap hari Minggu dan persekutuan pada hari-hari tertentu saja???

Inilah Pentakosta, didalamnya kita mendapati ada sebuah perombakan pola pikir, perombakan doktrin, ada penyajian Kristus yang asli, perubahan hidup; itulah yang menyenangkan Tuhan, itulah kedatangan Allah Roh Kudus, menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:8). Hal tersebut dikonfirmasi dengan tindakan Allah yang terus menambahkan jumlah orang yang bertobat dihadapan-Nya. Fokus dari kedatangan Allah Roh Kudus membawa orang untuk melihat kemuliaan Allah, mengabdi pada-Nya, dan hal tersebut dikonformasi sendiri oleh Tuhan, dengan cara konfirmasi yang berbeda-beda. Dalam Petrus, Tuhan menambahkan jumlah orang, namun kita melihat bahwa dalam khotbah Stefanus yang begitu berfokus kepada Kristus, konfirmasi Tuhan diberikan melalui reaksi negatif orang-orang yang mendengarkan khotbahnya.

Kisah Para Rasul 7:1-53 menjadi semacam trailer yang begitu indah dari karya penebusan Tuhan Allah. Disini kita melihat Stefanus sebagai orang yang sangat disertai oleh Tuhan, sehingga khotbahnya begitu jitu dalam memberikan highlight terhadap peristiwa-peristiwa dalam Perjanjian Lama sampai penggenapan-Nya pada Kristus Yesus. Sebelum khotbahnya, dicatat hal yang menarik mengenai Stefanus, yaitu bahwa dia adalah orang yang penuh dengan Roh Kudus, dan dikonfirmasi dengan berbagai tanda dan mujizat. Lukas (banyak dipercaya sebagai penulis Kisah Para Rasul) bahkan mencatat bahwa orang-orang melihatnya seperti malaikat. Namun hal tersebut tidak membuat mereka percaya kepadanya, bahkan sebaliknya mereka bahkan menghasut banyak orang untuk menyerahkan Stefanus ke hadapan Mahkamah agama dan disanalah Stefanus dituduh telah melakukan penghinaan terhadap bait suci serta hukum Taurat serta adat istiadat orang Yahudi. Sebuah trik memalukan dari orang-orang yang menjunjung tinggi agama, namun juga sebuah kesempatan pelayanan yang begitu berharga ketika kondisi tersebut justru memberi Stefanus ruang untuk menyampaikan khotbah fenomenal, sebuah khotbah yang benar-benar mewartakan Kristus dengan begitu jelas, sebuah khotbah oleh seorang diaken yang dicatat dalam Alkitab dan akan terus menerus dibaca orang. Mengapa mereka yang telah melihat Stefanus seperti malaikat tidak menjadi takut dan bertobat??? Hal tersebut telah memaparkan bahwa mereka sama sekali bukan sedang mencari Tuhan namun mencari kepentingan pribadi. Gairah yang besar dalam menaati Tuhan sudah sangat dipengaruhi oleh kepentingan politis manusia, setiap kita memiliki agenda-agenda tertentu dan kita berharap tidak siapa pun juga mengusik, dan tidak juga Tuhan.

Tuduhan yang dialamatkan secara sembarangan kepada Stefanus merupakan tuduhan yang begitu berat. Berkaitan dengan jantung religi mereka, yaitu mengenai bait suci dan taurat. Tentu orang-orang Yahudi masih mengingat pahitnya pembuangan di Babel, serta perihnya hati ketika Bait Suci yang dibangun Salomo, kebanggaan religi dan identitas bangsa mereka harus luluh lantak. Demikianlah tuduhan bahwa Stefanus memberitakan bahwa Yesus akan merubuhkan bait suci tersebut merupakan suatu tuduhan yang begitu berat, yang membangkitkan kembali luka yang masih belum sembuh dari bangsa Yahudi.

Stefanus memulai khotbahnya dengan memaparkan tidakan Allah terhadap Abraham dan bagaiana keturunannya kemudian. Bagaimana bangsa itu kemudian diperbudak oleh Mesir. Dan dengan tangan yang teracung Tuhan menuntun umat-nya keluar dari Mesir, namun selanjutnya umat Tuhan justru berdosa dan menyembah berhala. Perjalanan hidup kita seringkali mencatat kegagalan kita berbakti kepada Tuhan, sebuah ironi besar yang harus disetujui oleh mahkamah agama, karena dalam poin ini dia belum bertentangan dengan Stefanus, sebuah berita yang semestinya membawa manusia melihat kedalam dirinya, dengan segala kebangkrutannya yang seharusnya membawanya kepada penyesalandan permohonan belas kasihan. Namun sungguh ironis, ketika Stefanus menyatakan bahwa mereka telah mendengar berita tersebut namun menolaknya. Ketika kebenaran datang dan menelanjangi segala keboborakan diri, alih-alih bertobat mereka justru marah dan membunuh Stefanus. Manusia tidak mengharapkan kebesaran Tuhan dinyatakan, manusia hanya berharap sesuatu yang baik menurut definisi sendiri datang. Seberapa sering ketika anugerah Tuhan datang kepada kita dengan dinyatakannya kesalahan kita, kita justru menjadi marah besar. Bangsa Israel merupakan bangsa yang mengecap berkat Tuhan yang luar biasa besar; TUHAN, Allah semesta alam berkenan untuk menjadi Allah mereka. Namun ironis, ketika Allah menyatakan diri kepada manusia melalui para nabi (Ibr 1:2) yang menegur, menyatakan kesalahan, menyerukan pertobatan, para nabi tadi justru banyak yang disiksa bahkan dibunuh. Puncaknya adalah Kristus Yesus, sang Allah sendiri yang datang dan mewartakan Injil juga dibunuh.

Sangat tertusuk hati mereka (ay 54). Berita Injil yang diberitakan dengan benar akan menelanjangi segala kebobrokan kita. Membongkar segala kepalsuan, terutama di dalam memanipulasi Tuhan. Stefanus menikmati satu bahagia puncak ketika Dia diperkenankan untuk melihat Tuhan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah Bapa, satu hal yang dirindu-rindukan oleh orang-orang saleh (adakah kita mendambakan Allah???). Kerinduan terhadap Allah inilah yang mendorong Musa untuk berdoa supaya diperkenankan untuk melihat kemuliaan Tuhan (Kel 33:18). Betapa bahagianya Stefanus yang dalam masa hidupnya di bumi sudah diperkenankan untuk melihat sendiri KristusYesus yang telah dibangkitkan dan naik ke sorga. Dalam khotbah Petrus kita melihat kuasa Allah Roh Kudus yang begitu besar di dalam memulihkan kondisi orang Kristen sehingga banyak orang bertobat. Sekarang kita melihat karya dari Alah Roh Kudus yang sama, yaitu bekerja secara luar biasa dalam khotbah Stefanus. Namun hasil yang diraih seolah sangat berbeda. Ketika Petrus berkhotbah, ada 3000 orang yang bertobat, namun ketika Stefanus berkhotbah, dia mendapatkan konfirmasi Allah dengan kegeraman yang memuncak dengan diiringi lemparan batu yang menghancurkan badannya sampai dia mati. Sesungguhnya hasil dari kedua khotbah tadi (khotbah Petrus dan khotbah Stefanus) adalah sama, yaitu nama Tuhan dipermuliakan, Dia disenangkan. Inilah yang semestinya menjadi segenap cita-cita kita, yaitu dalam seluruh hidup kita, kita membawa Injil Tuhan, dan Diapun disenangkan melalui kesetiaan kita.

Para saksi meletakkan jubah Stefanus di depan Saulus, dan pada 8:1a kita melihat bahwa Saulus juga Stefanus mati dibunuh. Saulus yang dinyatakan sebagai seorang muda, telah menjadi saksi sebuah pembunuhan yang begitu kejam. Kekejaman yang dilegitimasi oleh semangatnya dalam membela agama (yang salah). Namun di sisi yang lain, kia melihat bahwa Paulus pun nantinya menjadi seorang yang begitu kukuh dalam memperjuangkan iman dan diapun beroleh kehormatan untuk mati sebagai martir, sebagai saksi Kristus. Satu hal yang telah dia saksikan dalam diri Stefanus, sang diaken, yang penuh dengan Roh Kudus, yang menggenapkan kehendak Allah, membawa berita Injil Tuhan, mempresentasikan Kristus, menyatakan dengan gamblang identitas gereja, menyenangkan Tuhan diatas segala-galanya. (KK)


GOD be praised!!!







Jumat, 05 Juni 2009

Pentakosta

Pdt. Rudy Pranoto

31 Mei 2009

Kisah Para Rasul 1:1-14

Dalam dunia ini banyak hal yang kurang dimengerti oleh murid-murid, bahkan merekapun tidak menyangka bahwa Kristus akan bangkit. Tuhan sudah berulang kali memberitahukan kepada murid-murid-Nya namun mereka terus gagal menangkap. Seringkali kita mendengar Firman, namun kita sudah memiliki pengertian dan kepentingan sendiri. Mereka pikir Tuhan gagal, Dia telah mati namun Tuhan memakai wanita (yang kurang dihargai) untuk menjadi saksi kebangkitan. Hal ini membuktikan Tuhan berdaulat, dan Dia berhak untuk memakai siapapun yang Dia mau, ketika Dia mau memakai kita jangan kita take it for granted (memandang sepele); jangan menyia-nyiakan, belum tentu Dia mau terus memakai kita. Kita harus belajar untuk menghargai anugerah Tuhan. Mungkin Petrus dan Yohanes tidak iri kepada Maria, namun mereka tidak percaya ketika Maria mengatakan bahwa dia telah melihat Tuhan (yang sudah bangkit), mereka tidak percaya sebab mungkin mereka pikir mereka itu eksklusif, mereka adalah murid-murid terdekat Tuhan Yesus semestinya mereka yang menyaksikan lebih dahulu bila Dia bangkit. Thomas bahkan perlu bukti dahulu sebelum dia percaya, dia ragu terlebih dahulu dan bergumul sebelum akhirnya menjadi percaya, orang seperti ini tidak dibuang oleh Tuhan. Namun ada jenis keraguan kedua, keraguan yang berbeda dengan keraguan Thomas, yaitu keraguan yang semakin membawa orang kepada ketidak percayaan, ketika mereka ragu, mereka sudah memutuskan untuk tidak percaya, orang seperti ini dibuang oleh Tuhan. Dalam Mrk 9:24 ada kalimat yang unik, “aku percaya tolonglah aku yang tidak percaya ini”. Dia mau untuk percaya tetapi dia tidak sanggup untuk percaya, mereka adalah orang yang rendah hati. Orang yang rendah hati tahu bahwa dirinya tidak bisa percaya. Yang menggerakkan orang untuk percaya adalah Tuhan. Roh Kudus berperan sangat penting. Ada 2 ekstrem dalam gereja, yang pertama mengatakan bahwa Roh Kudus hanya datang sekali dalam sejarah, yang kedua, tiap Petnakosta meminta untuk Roh Kudus turun lagi; mereka meminta jemaat untuk membersihkan hati, karena jika hati kurang bersih maka Roh Kudus tidak mau turun dan masuk dalam diri kita.

Keduanya salah, peristiwa Petnakosta hanya terjadi sekali, namun hal itu tidak berarti bahwa kita tidak perlu bergumul untuk dipenuhi Roh Kudus. Tuhan sering mengajar mengenai konsep kerajaan Allah yang nda dimengerti oleh orang-orang Yahudi. Ketika Dia datang, Dia merepresentasikan (mawakili atau menggambarkan) kehadiran Allah yang sempurna, Dia juga merepresentasikan manusia yang taat sempurna kepada Allah. Dan hal itu memberikan gambaran yang utuh mengenai Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kita sebagai hamba-hamba-Nya taat kepada Bapa sorgawi. Kerajaan Allah berbicara mengenai ketaatan yang penuh. Disini kita melihat paham transendensi. Kalau Dia Raja maka kita adalah hamba. Hal ini bukan berbicara bahwa bila Dia Raja maka kita adalah anak Raja. Yang pertama (Dia Raja dan kita adalah hamba), berbicara mengenai kewajiban, namun yang kedua (Dia Raja dan kita anak Raja) terus menuntut hak. Bagi orang yang mengerti, mereka akan menunt diri untuk bekerja dan taat bagi Tuannya. Sama-sama mengaku Yesus adalah Raja bisa memiliki 2 konsep yang sangat berbeda.

Disini dikatakan mengenai dibaptis dalam Roh Kudus. Waktu Yohanes Pembaptis mengatakan mengenai hal ini, dia berbicara mengenai kapak dan api, hal ini adalah mengenai penghakiman. Banyak gereja yang tidak suka berbicara mengenai penghakiman, mereka takut kehilangan jemaat. Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat tajam dalam menegur, namun hatinya sangat rindu untuk menaati Allah. Berbicara mengenai kapak, berarti berbicara mengenai pemisahan. Api dimaksudkan sebagai penghukuman, namun juga berarti sebagai pemurnian iman. Kita perlu untuk mengalami banyak sengsara dalam pendewasaan iman untuk mendapatkan kemurnian. Berlian hanyalah karbon, yaitu karbon yang ditekan dengan kekuatan yang sangat besar sehingga bisa berkilau. Proses pemurnian ini sangat penting, bukan sekedar jalan keluar atau hasil akhirnya. Setiap saat Tuhan membentuk kita dan saat pembentukan itu adalah saat yang indah. 1 Kor 10:13 sangat indah, pencobaan mungkin tidak hilang, namun kita diberikan kekuatan untuk menanggungnya.

Roh Kudus yang bisa membuat kita menjadi orang-orang yang penuh kemenangan. Kita tidak menanti Roh Kudus turun lagi, namun kita menantkan kepenuhan Roh Kudus. Waktu kita mengalami banyak pencobaan, kita mungkin bisa lelah, dalam kondisi seperti ini kita belajar untuk menanti dan belajar untuk menjadi semakin tekun. Mananti memiliki pengertian mengasihi. Orang yang tidak menanti Kristus berati tidak mengasihi Dia. Pekerjaan Roh Kudus adalah membaptis dan memberikan kuasa yang besar. Tanpa Dia pelayanan kita hanya akan menjadi pelayanan yang sangat kering.

Murid bertanya maukah Tuhan memulihkan Israel, namun bagi Tuhan yang penting bukan mengetahui kapan waktunya, namun yang diperlukan adalah bagaimana menunggu. Banyak orang Kristen ingin mengetahui masa dan waktu, banyak orang ingin mencari kehendak Tuhan hanya karena semangat egois yang takut salah. Namun Tuhan menekankan mengenai ketekunan untuk menunggu. Kepenuhan kuasa dikaitkan dengan bersaksi. DL Moody dalam buku Secret Power mengakhiri dengan witnessing in power. Agar berita dan kesaksian kita powerful kita perlu untuk dipenuhi Allah Roh Kudus. Kesaksian itu keluar, menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Gayanya bukan centrifugal (kedalam) namun centripetal (keluar). Mari kita menggumulkan hal ini dengan serius, Allah Roh Kudus turun agar kita menjadi saksi keluar, dan kita menantikan seluruh orang percaya benar-benar genap dikumpulkan, dan Tuhan Yesus akan datang kembali. Tugas bagi kita sementara kita menyongsong adalah terus memberitakn Injil.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah – KK)

GOD be praised!!!

Sabtu, 30 Mei 2009

Hal Kerajaan Sorga - Perumpamaan tentang Talenta

Pdt. Rudy Pranoto

Matius 25:14-35; Lukas 17:20,21

24 Mei 2009


Perikop yang kita baca ini berhubungan dengan perikop sebelum dan sesudahnya. Dalam kitab Injil, kita percaya penulis memiliki alur tertentu, kita tidak harus mengertinya secara kronologis; penulis Injil meletakkan susunannya secara berbeda-beda, jadi yang penting adalah bagaimana mereka menyusun alurnya. Perikop ini merupakan bagian dalam khotbah tentang akhir zaman. Ketika kita berbicara mengenai perumpamaan, Tuhan Yesus tidak memberikan definisi, tanda-tanda lahiriah, keterangan lokasi dsb. namun Dia menjelaskan pengertian didalam perumpamaan. Yesus berkata pada waktu mereka mendengar orang percaya akan makin paham dan sebaliknya bagi orang yang tidak percaya akan semakin tidak mengerti, disini ada penggenapan dari nubuat Yesaya. Orang yang melihat namun tidak melihat, mendengar namun tidak mengerti. (Yes 6: 9-10). Yang mengerti hanyalah gereja Tuhan, tubuh Kristus yang sejati. Bagi kita, perumpamaan semakin membuat kita mengerti. Kerajaan Allah memberikan definisi dalam hidup kita bukan kita mendefinisikan kerajaan Allah.

Disini sang tuan memanggil hamba-hambanya dan dipercayakan kepada mereka 5 talenta, 2 talenta, dan 1 talenta. Mengapa berbeda-beda, sepertinya Tuhan kurang adil, namun dalam ayat 15 kita melihat bahwa mereka diberi masing-masing menurut kesanggupannya. Tuhan bukan tidak adil, namun Dia mengetahui takaran yang tepat bagi seseorang. Dalam pelayanan, kita harus mengerti bahwa Tuhan mengerti takaran kita, dan kita juga harus mengerti takaran kita sendiri, sehingga kita tidak iri atau minder. Pemikiran bahwa Tuhan tidak adil membuat hamba ini merasa iri.

Komentar terpanjang justru diberikan oleh hamba yang ke 3. Hamba ke 3 hanya diberi komentar apa sebabnya dia melakukan sedemikian. Yaitu karena ada satu konsep pengenalan yang salah akan Tuhan. Tuan adalah tuan yang kejam, kata hamba yang ke 3. Kita perlu untuk memiliki pengenalan akan Tuhan yang benar. Dalam 2 Korintus Paul berkata mengenai Yesus yang lain, dalam Galatia dia berkata mengenai Injil yang lain, seringkali kita membaca Injil namun salah. Itulah sebabnya hamba ke 3 ini tidak sanggup menerima keberadaan diri yang hanya menerima 1 talenta, dia menjadi malas-malasan (sebuah dosa yang berbahaya), dan memendam talentanya. Inilah sebabnya pengajaran yang benar sangatlah penting, pengertian yang salah akan Allah sangat bahaya, semakin giat semakin jauh kita dari Tuhan. Seorang yang punya kuda yang sangat kuat lalu pergi ke arah yang salah, maka dia akan semakin jauh dari tempat yang semestinya. Dengan pengertian yang salah akan Allah, maka semakin giat semakin berbahayalah kita, sebaliknya orang yang punya pengertian yang benar semestinya tidak loyo, namun makin giat; namun sekarang semuanya terbalik. Orang-orang saksi Yehuwa, orang-orang Mormon sangat giat, sementara orang-orang yang doktrinnya benar, tidak bekerja giat bagi Allah. Padahal pengertian yang benar itu menjadi penggerak dalam pelayanan yang benar. Paulus sangat giat, ketika dia belum bertobat dia menganiaya orang Kristen dan dia merasa bahwa dia berbakti kepada Allah. Semakin giat semakin dia jauh dari Tuhan, dan secara ironis ternyata dia tidak mengenal Allah sehingga harus bertanya “siapakah Engkau Tuhan???”. Pengenalannya yang benar terus dibentuk Allah, sehingga dia berkata “Aku tau siapa yang kupercaya.” ketika dia mengenal Allah yang benar, diapun bekerja giat bagi kemuliaan Allah. Pengenalan yang benar akan Allah sangatlah penting. Ada lagu berkata trust and obey (percaya dan taat), selain itu kita juga perlu pengenalan (understanding) yang benar. Hamba ke 3 berpikir bahwa Allah mau mencari untung, dia merasa bahwa dirinya akan dieksploitasi oleh Tuhan, sesungguhnya ketika kita bisa pelayanan bukan Tuhan mengeksploitasi kita, namun sebaliknya itu adalah anugrah yang besar bagi kita. Dia takut diperalat, takut rugi. Dia takut tersisih, takut tidak mendapat pengakuan dan dia pikir bahwa tuannya tidak akan segera datang sehingga dia juga tidak merasa perlu untuk giat bekerja. Dalam 1 Yoh 4 dikatakan bahwa adanaya ketakutan menunjukkan bahwa dia tidak mengasihi Allah. Hamba pertama dan kedua bekerja dengan setia dalam mengelola talenta yang dipercayakan, karena mereka memiliki pengenalan yang benar akan tuannya. Hal itu mempengaruhi etos kerja seseorang. Pengertian yang benar akan membawa pengaruh dlm hidup kita sehari-hari.

Tuan itu sebenrnya sangup bekerja sendiri, namun hamba ke 3 (secara salah) mengerti bahwa sang tuan mau mengeksploitasi dirinya. Ketika Tuhan mempercayakan suatu hal kepada kita, hal itu justru menunjukkan keagungan Tuhan. Yang maha kuasa mempercayakan kepada kita yang tidak layak untuk dipercayai. Ketika mempercayai manusia, Tuhan meresikokan Diri dan pekerjaan-Nya kepada manusia yang tidak layak. Kita susah untuk mempercayakan hal yang penting kepada pembantu yang sulit untuk dipercaya, atau yang cenderung untuk gagal. Kalau kita memberi kepercayaan kepada orang yang sangat bodoh, hal ini justru merupakan kepercayaan bukan eksploitasi, ini adalah anugrah bukan pemerasan. Kita memiliki resiko yang sangat besar untuk gagal namun Tuhan tetap mempercayakan ini adalah anugrah yang besar. Hamba pertama dan kedua menyadari hal itu adalah hak istimewa, inilah yang membedakan ke 2 jenis hamba ini. Pdt. Stephen Tong sering menyatakan no one comes to help, no one comes to contribute, but everybody comes to learn and to serve (tidak ada yang datang untuk menolong atau untuk berkontribusi, namun semua datang untuk belajar dan melayani). Dlm ay 16 kita meliaht ada kata “segera”, mereka menangkap itu sebagai anugerah yang luar biasa, disini ada urgensi ada suatu perasaan yang mendesak, dan ketika ini dikaitkan dengan konteks akhir zaman, kita memahami bahwa waktu tidak banyak lagi. Artinya kita akan mengerjakan bagian kita dengan setia.

Pengharapan akan akhir zaman, membuat kita semakin hati-hati dan giat dalam hidup ini, waktu yang didalamnya kita hidup tidak pernah berulang, orang yang sadar bahwa hidup cepat berlalu, secara tidak langsung akan termotivasi untuk mengerjakan sebaik mungkin talenta yang dipercayakan. Karena itulah Paulus berkata, tebuslah waktumu. Ada orang membagi tahap-tahap dalam hidup sedemikian: bermain, bersekolah, bekerja, berkarir, dan tahap pelayanan kita letakkan paling belakang. Kalau bisa 15 menit sebelum meninggal baru kita bertobat, kita melihat biasa orang menjadi lebih religius waktu mau mati. Ada seorang yang mau besuk ke orang sakit lalu mencari buku untuk diberi kepada orang yang sakit itu, tukang buku menyatakan buku rohani saja, buku rohani dipakai untuk orang-orang yang mau mati saja. Jangan sampai kita terlambat, waktu kita singkat, penyesalan di dalam neraka sama sekali tidak berguna. Banyak hamba Tuhan terus melayani sampai tua karena adanya kesadaran eskatologis. Orang yang masih muda sering suka untuk menunda, ketika kesadaran eskatologis datang, kita akan mengecap relatifitas waktu. Ay 19. lama setelah itu. Namun kedua hamba yang pertama menganggap itu singkat, karena itu mereka segera pergi dan menjalankan talenta tersebut. Orang yang mengerti me-manage waktu, hidupnya akan berbeda. Apa yang kita lakukan ketika diketahui bahwa hidup kita tinggal 1 hari, apa yang akan kita lakukan??? Makan minum dan manfaatkan hari terakhir ini??? Atau kita akan penginjilan, pelayanan segiat mungkin??? Kalau mau pelayanan segiat mungkin, apa alasan kita??? karena selama ini tidak pernah pelayanan??? Agustinus mengatakan kalau Tuhan akan datang besok, dia mengatakan bahwa dia tetap akan menanam jagung, dia tidak mendadak bertobat, karena setiap hari dia jalani dengan sangat serius, dia memiliki kesadaran eskatologis.

Ada kontras dari komentar sang tuan terhadap hamba 1, 2 dan yang ke 3. Baik kontras jahat, dan setia dikontraskan dengan malas. Orang yang tidak setia tidak tentu menghujat Tuhan, namun dia malas. Ketidak setiaan menyatakan diri dalam bentuk malas; ketika kita tidak maksimal untuk Tuhan, kita tidak setia. Hamba ketiga ini tidak boros seperti anak yang hilang, 1 talenta itu 6000 dinar, upah sehari kerja itu adalah 1 dinar, jadi 1 talenta adalah jumlah yang sangat besar.

Dia berdiam diri, takut salah, tidak beriman dan tidak mengasihi; waktu Tuannya kembali dia dgn percaya diri mengembalikannya. Disini kita melihat stagnasi/ keberhentian rohani, ini sangat berbahaya, tidak bertumbuh dalam pengenalan, dalam kerendahan hati, dalam kesetiaan. Kita harus bertumbuh dan berubah makin seperti Kristus. Kita perlu mengenal talenta yang diberikan kepada kita dan kita perlu bertanggung jawab dan mengerti tempat kita. Kalau kita tidak tahu tempat kita, kita cenderung akan sangat suka mengritik orang laen, bukan untuk membangun namun sebagai kompensasi karena dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Siapapun kita, sudah diberi talenta oleh Allah, minimal 1 talenta, mari kita kenal diri kita, mengerti apa yang harus kita lakukan.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah-KK)

GOD be praised!!!

Jumat, 22 Mei 2009

Manusia menatap hidup

Pdt. Rudie Gunawan
17 Mei 2009
Pengkhotbah 3:16-22

Pengkhotbah mewakili pandangan umum manusia akan dunia ini. Kata “aku” disini bukan mewaklili pribadi penulis, kata “aku” seringkali mewakli pandangan-pandangan umum yang sering dibicarakan masyarakat waktu itu. Kita percaya bahwa hal itu adalah hasil kerja keras penulis atas bimbingan Roh Kudus. Dalam bagian yang kita baca, diperkenalkan sebuah degree comparison, perbandingan yang bertingkat, makin baik atau makin buruk. Pendapat umum mengajak manusia untuk melihat kehidupan ini makin turun dan makin pesimis. Ay 16. ditempat keadilan ada ketidak adilan. Pada waktu itu ternyata ada pandangan yang sudah begitu sinis mengenai pengadilan, tempat keadilan ternyata justru menjadi tempat ketidak adilan. Kalau masuk pengadilan, maka hal itu seringkali menjadi hal yang menakutkan sebab sering ada ketidak adilan. Yang salah bukan rumahnya (rumah pengadilan), juga bukan orangnya, namun yang berbahaya adalah pengaruh, dan spiritnya. Dunia ini adalah dunia yang dimenangkan oleh Kristus, namun juga adalah dunia yang belum terhukum, kesabaran Allah masih panjang, dan didalamnya kita melihat penduduk yang dibuang atau yang didekap oleh Tuhan. Penduduk yang setia atau terbuang dihadapan Tuhan.

Namun kita tidak tau siapa yang tertolak itu, yang kita tahu adalah bahwa masih banyak orang yang harus pulang (kembali ke Tuhan). Yang kita ketahui adalah ada tempat yang vital yang masih dipengaruhi oleh spirit yang jahat, ditempat pengadilan terdapat ketidak adilan. Ay 17. si “aku” mewakili lagi pendapat banyak orang yang meresponi keadaan yang tidak sesuai dengan yang mereka cari, sehingga dengan nada yang begitu berani dan sedikit frustasi serta geram, dia berkata Allah akan menghakimi. Masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh pengaruh animisme dan dinamisme, serta teori mengenai nasib ataupun karma sehingga hal tersebut sangat menyuburkan dunia santet dan perdukunan. Disini kita membawa-bawa yang ilahi untuk menghakimi menurut kepentingan dan dendam kita. Statement disini benar, Allah adalah Pengadil segala sesuatu. Banyak hal yang kita tidak bisa kontrol, termasuk alam. Ketika Allah ditempatkan dalam sebuah keputusan siklus, segala sesuatu ada waktunya, pertanyaannya adalah apakah hanya itu yang dikerjakan oleh Allah. Dalam konsep nasib agama timur, konsep ada yang baik dan buruk, konsep Yin Yang, maka hal itu mengunci kita.

Puji TUHAN ada Firman yang membebaskan kita untuk mengetahui bahwa segala sesuatu ada waktunya, Allah akan menghakimi. Namun jika ada motif dendam, maka yang ingin diselesaikan adalah objek dari kejengkelannya, bukan kejengkelannya sendiri. Inilah kesalahan yang sering kita lakukan. Kita harus menyelesaikan dulu diri kita (yang mendendam) bukan objek kejengkelan kita. Ada golongan orang yang sudah begitu biasa bermain sebagai allah, Allah pasti membalas, sering kali ini menjadi sebuah pernyataan dendam. Jika pendeta juga memiliki pandangan sepeti ini, maka pendeta akan menjadi dukun bagi jemaat. Ketika jemaat sakit, atau susah, dan pendeta pro kepada jemaat seperti ini, maka pendeta sedemikian pasti laku, dia berdoa untuk kesembuhan lalu dia mendapatkan mobil dsb. Ay 18. tentang anak-anak manusia, kita melihat degree comparison. Benarkah Allah melihat kita seperti binatang. Satu tema yang sangat saya suka ketika berbicara adalah ketika berbicara mengenai konsep kafir. Ending dari konsep kafir sering kali adalah membinatangkan sesama manusia. Dalam dunia karma ada 6 susun, bukan berhenti hanya sampai biatang namun sampai kepada setan. Kalau kita membinatangkan orang atau bahkan menyetankan manusia maka kita bukan orang Kristen lagi. Tadi kita melihat bahwa dia mengatakan Allah akan membalas, namun selanjutnya dia mengatakan bahwa Allah menganggap mereka binatang. Manusia tidak menyelesaikan dirinya sendiri, namun menyelesaikan objek kejengkelannya. ini berbahaya.

Ay 20. ketika manusia sudah tidak memiliki kesadaran akan yang baik, akhirnya dia memandang dirinya seperti binatang saja. Keduanya menjadi debu saja. Namun dalam ay. 21 ada sebuah sindiran Firman, ada perbedaan antara hidup manusia dan hidup binatang, manusia bukan sekedar berbeda dari pada binatang, namun dia memiliki sifat ilahi. Manusia memiliki kasih sayang ilahi. Apakah kita memandang orang lain seperti binatang, apakah kita mau bermain untuk menjadi seperti allah; jangan, sebab hidup kita sudah ditebus di dalam Kristus Yesus. Kiranya kita senantiasa menikmati bimbingan Firman, yang membuat hidup kita memiliki kualitas yang sebenarnya, menjadi berkat bagi sesama, dan mengabdi kepada Pencipta. Siapa yang memperlihatkan apa yang terjadi sesudah dia. Manusia tidak berhenti seperti binatang, namun dia terus berfikir dan berbahagia selamanya atau sebaliknya terhukum selamanya. Kiranya ini menjadi renungan dan dorongan bagi kita dalam menjalani panggilan kita sebagai manusia yang menjadi berkat bagi sesama dalam pengabdian kita kepada Allah.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah – KK)
GOD be Praised!!!

Rabu, 20 Mei 2009

Wahyu 2:8-11

Pdt. Rudy Pranoto
26 Oktober 2008
Wahyu 2:8-11

Smirna adalah suatu kota yang sangat unik. Kota ini terletak di sebuah gunung yang sangat tinggi. Penduduk kota Smirna sangat setia kepada Roma. Jemaat disini dikatakan untuk setia karena secara kehidupan sehari-hari mereka setia pada Roma dan bangga sebagai sekutu Roma karena Roma merupakan suatu kekaisaran yang super power. Namun jemaat ini dikatakan segaai jemaat yang menderita, mengapa demikian???

Penderitaan sangatlah penting, kita telah mendengar khotbah mengenai pencobaan, dan kita mengerti bahwa pencobaan itu harus ada. Ada yang bisa kita dapatkan dari penderitaan. Kita tidak bangga karena penderitaan, penderitaan belum tentu menjadikan kita lebih matang, bahkan terkadang kita bisa goncang iman karena penderitaan. Penderitaan bahkan bisa membuat orang menjadi apatis. Teologi penderitaan berbicara mengenai menderita karena nama Tuhan. Ini jenis penderitaan yang berbeda dari penderitaan yang lain, jadi yang membuat kita bersuka cita adalah bahwa melalui penderitaan itu kita dibentuk untuk menjadi serupa dengan Kristus. Inilah tujuan utama manusia. Hidup yang menjadi berkat, hidup yang mengasihi dsb. menuju kepada penyempurnaan untuk menjadikan diri kita menjadi seperti Kristus. Penderitaan yang dibahas disini adalah jenis penderitaan yangn sangat berbeda, penderitaan disini adalah penderitaan karena salib. Dlm Kis 14:22 dikatakan bahwa kita tidak bisa meluputkan diri dari penderitaan. Sejenis ajaran dispensasi mengatakan bahwa pada akhir zaman orang baik akan diangkat pada zaman penganiayaan besar (great tribulation) di akhir zaman. Namun sebenarnya iman seseorang justru dimurnikan melalui penderitaan. Iman seorang akan dimurnikan melalui penderitaan, dan kasih karunia yang dari pada Tuhan adalah cukup bagi setiap kita yang mengalami penderitaan. Tuhan tahu benar takaran kita.

Dalam jemaat Smirna, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah Alfa dan Omega, Yesus adalah Dia yang memegang kendali. Kita cukup menjalani hidup kita dengan normal, dan bila kita harus menderita karena kebenaran, maka kita harus setia. Pada waktu revolusi kebudayaan pada zaman Mao Zedong, banyak orang Kristen ditindas, namun dengan demikian kekristenan justru bertumbuh. Bila gereja tidak diberikan hak istimewa untuk menderita, maka gereja tersebut sangat berbahaya. Bila kita banyak mendapatkan penderitaan, maka kita harus bersyukur sebab itu adalah cara Tuhan untuk mendewasakan kita. Gereja di Eropa tidak ada pendritaan sehingga mereka terus menurun. Penderitaan bukan sekedar fisik, namun bisa juga mental dan spiritual. Bila kita tidak pernah mengalami penderitaan, bisa-bisa kita sedang berkompromi. Bila kita banyak kompromi, maka kita tidak merasakan perjuangan. Tidak benar bila kita baik-baik maka tidak ada hambatan yang menghalangi kita. Seringkali bila kita menegakkan kebenaran justru kita akan dibenci. Semangat humanis adalah semua orang saling menerima apa adanya. Yesus mengatakan bahwa Dia telah menang, Dia juga pernah menderita dan Dia telah bangkit dan menang. Pada ayat 9 ada penghiburan bagi orang yang menderita, yaitu perkataan Tuhan bahwa Dia tahu. Inilah penghiburan dari Tuhan, yaitu bahwa Dia mengetahui penderitaan tersebut. Bila kita menderita dan tidak ada yang tahu penderitaan kita, maka hal tersebut sangatlah berat. Kristus menyatakan bahwa Dia tahu dan pekerjaan mereka diakui oleh Tuhan. Diakui oleh Tuhan adalah hal yang sangat dan paling penting; kita sering mencari pengakuan dari manusia namun kita lupa mencari pengakuan dari Tuhan. Bila kita sadar bahwa Tuhan tahu, hal tersebut adalah penghiburan yang sangat luar biasa bagi kita.

Tuhan mengetahui penderitaan mereka berarti penderitaan mereka berada didalam kontrol Tuhan. Jemaat Smirna sangatlah miskin, secara finansial mereka sangat tidak mudah. Bila mereka bekerja didalam kekaisaran, lalu mereka menolak untuk menyembah kaisar mereka bisa dipecat. Dalam keadaan sepeti ini, mereka justru belajar untuk bergantung kepada Tuhan secara total. Penderitaan jemaat ini sangat mungkin jauh lebih berat dari pada penderitaan kita. Namun Tuhan mengatakan bahwa mereka tidak perlu takut sebab mereka kaya dimata Tuhan. Kita boleh miskin, susah dan menderita namun Tuhan mengatakan “berbahagialah kamu”, ini sangat paradoks, disini kita mengalami sukacita yang sangat penuh. Jemaat Smirna memang berbahagia, mereka menderita karena goncangan iblis, mereka miskin dan dianggap sedang mengalami kutukan Tuhan. Jemaat palsu memfitnah dan menuduh mereka, hal ini merupakan pekerjaan setan. Saya heran kalau ada hamba Tuhan yang senang bila ada hamba Tuhan jatuh, ini sangatlah mengerikan. Jemaat iblis terus menggoncang jemaat Smirna ini dengan menyatakan bahwa mereka sedang dikutuk Tuhan.

Jemaat Smirna adalah jemaat yang tidak ditegur oleh Tuhan, ini adalah jemaat yang baik, namun dalam kenyataannya mereka kelihatan sangat menderita. Kita harus berhati-hati dengan tuduhan-tuduhan, termasuk tuduhan diri kita terhadap diri sendiri. Tuhan telah menerima kita dan kita tidak berhak untuk tidak menerima diri, demikian juga dengan orang lain. Kita harus belajar dari jemaat Smirna ini. Jemaat Smirna didorong terus untuk belajar setia, setia didalam penderitaan sangat tidak mudah. Mother Theressa mengatakan bahwa dia dipanggil untuk setia kepada Tuhan, bukan untuk menjadi sukses. Kita harus setia dengan iman yang benar, jemaat Smirna diminta untuk terus setia sebagai hasil dari hidup yang beriman. Setia ini bukan sembarang setia, setia yang dimaksud adalah setia dalam iman yang benar. Iman yang benar adalah iman ynag berasal dari Firman. (Rm 10:17). Iman berbeda dengan keyakinan, iman berlandas kepada iman. Yesus meminta jemaat Smirna mengenal Diri-Nya, yang telah menderita dan menang. Yesus mau setiap orang yang mengikuti-Nya mengenal siapa Pribadi-Nya bukan sekedar apa yang telah diperbuat-Nya. Janji Tuhan bagi mereka yang setia adalah mahkota kehidupan, yaitu kehidupan yang melampaui apapun. Mereka boleh kehilangan nyawa karena kesetiaan mereka, namun mereka harus terus setia dan kemuliaan yang akan datang tidak bisa dibandingkan dengan penderitaan yang telah mereka alami. Penderitaan tersebut bukan penderitaan yang mudah. Polycarpus dalam masa tuanya ketika dia diperhadapkan pada pilihan antara kematian dengan dibakar atau menyangkali imannya dia mengucapkan kalimat: “sepanjang umurku aku mengikuti Tuhan dan Dia tidak pernah mengecewakan aku, akupun tidak mau mengecewakan-Nya”, dan diapun mati dibakar. Kita ingat bahwa Kristus telah menang, Dialah Alfa dan Omega dan didalam Kristus kita bisa menang dalam menanggung segala hal termasuk penderitaan yang paling dahsyat sekalipun.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah - KK)
GOD be Praised!!!

Paskah 2009

Pdt Rudy Pranoto
12 April 2009
Yohanes 20:1-18; Lukas 24:1-12

Pada peristiwa Paskah, ketika malaikat telah menggulingkan batu dan mayat Yesus tiba-tiba tidak ada lagi, maka semuanya telah berubah. Paskah berarti semuanya telah berubah. Hidup ini bukanlah hidup yang menjanjikan segala macam kenikmatan, namun karena Kristus sudah bangkit maka kita berani melangkah kedepan. Jika Kristus tidak bangkit sia-sialah iman kita (1 Kor 15:14). Saya teringat ketika anak saya masih kecil, dia pernah sakit parah pada pencernaannya, dia mengalami salit yang begitu menyiksa selama 3.5 tahun, dia selalu kesakitan, hal itu membuat kami putus asa. Pada suatu hari Paskah, Tuhan menyembuhkan dia, namun hal ini adalah pengalaman yang bukanlah ukuran kebenaran. Tuhan itu tidak bisa kita bakukan dalam suatu sistem atau rumusan tertentu. Namun memang seharusnya semua hal berubah ketika Paskah.

Dalam Yoh 20:11-18, Maria Magdalena adalah orang pertama yang diberikan hak istimewa untuk pertama kali mendengar berita kebangkitan Yesus. Hal itu adalah anugerah; pelayanan adalah anugerah Tuhan, bukan kita yang berkontribusi, namun kita bersyukur karena diberikan hak untuk melayani Tuhan. Maria bukanlah orang yang penting, dia hanya seorang perempuan - yang mana pada waktu itu kurang dihargai dibandingkan laki-laki. Namun Tuhan tidak memilih Petrus,Yakobus, ataupun Yohanes, murid-murid terdekat Tuhan Yesus; Tuhan justru memilih orang yang diremehkan kedudukannya. Kita meliaht hal tersebut sebagai kedaulatan Allah, dan anugerah yang besar.

Maria bukanlah orang yang diberi hak untuk sekedar menjadi saksi kebangkitan, namun dia bahkan juga diberi hak untuk menjadi saksi sengsara dan kematian Yesus. Dia adalah pengikut yang setia. Dia masih teringat akan kengerian peristiwa salib sehingga ketika malaikat menanyainya dia tidak sadar, dia tidak mengerti bahwa Yesus telah bangkit, bahkan ketika Yesus sendiri menanyainya dia masih tidak sadar. Sering kali ketika kita dalam kondisi yang begitu susah, kita gagal dalam melihat karya Allah dalam hidup kita.

Pada pertanyaan yang kedua, Yesus bertanya “siapa” yang kamu cari. Pada pertanyaan kedua sudah ada indikasi kebangkitan yaitu bahwa “siapa” yang dicari. “Siapa” sudah mengidikasikan bahwa yang dicari adalah manusia yang hidup. Kita berurusan dengan satu pribadi yang hidup. Maria berorientasi kepada”apa” yaitu mayat Yesus; kita seringkali juga hanya berorientasi kepada “apa” (pemberian) bukan “Siapa” (Pribadi/Pemberi).

Pertanyaan Yesus ditanggapi dengan yang lain. Dia menganggap Yesus sebagai tukang kebun, dan dia masih mencari “mayat” Yesus dan Yesus menjawabnya dengan memanggil namanya: “Maria”. Sapaan ini mengingatkan kita bahwa Dia adalah Gembala yang baik, Tuhan memanggil kita per pribadi. Ketika Tuhan Yesus memanggilnya, dia langsung teringat akan suara Tuhan dan langsung mengerti. Tuhan memanggil kita secara pribadi agar kita percaya akan fakta kebangkitan yang objektif ini. Ada orang yang berkata bahwa Yesus sebenarnya tidak dibangkitkan, namun diraibkan, Dia digantikan oleh Yudas. Hal ini sangat tidaklah mungkin, dari mulut Yudas yang jahat tidak mungkin mengeluarkan kalimat pengampunan. Dalam kalimat pengampunan Yesus, Dia menutupi orang yang di doa-Nya. “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, doa ini menunjukkan bahwa Dia menutupi ( cover) orang yang berdosa, hal ini tidak mungkin dilakukan oleh Yudas.

Kebenaran bersifat Pribadi. Berita kebangkitan berhubungan dengan pribadi. Luther menyatakan bahwa dia tidak mau memikirkan kebangkitan yang tidak berhubungan dengan dirinya. Kebangkitan bukan sekedar berita objektif, namun juga bersifat pribadi bagi kita.
Dalam sukacita yang besar, Maria ingin menahan (hold) Yesus Kristus. Namun Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia harus pergi kepada Bapa-nya dan juga Bapa setiap orang percaya. Kalimat ini juga pernah diucapkan oleh Rut ketika dia mau terus mengikut Naomi :”...Allahmulah Allahku...” (Rut 1:16), hal ini menunjukkan bahwa Rut yang adalah orang non Israel juga telah percaya kepada Allah yang sejati; dalam Matius 1:5 bahkan nama Rut masuk dalam silsilah Yesus Kristus meskipun dia adalah orang kafir. Allah adalah Bapa dari Tuhan Yesus dan Bapa setiap orang percaya juga. Pada bagian Injil yang lain, kita melihat ketidak percayaan para murid. Ketika kita memberitakan Injil, kita sering kali ditolak, hal ini bukan hal yang aneh. Para murid pun pada awalnya sangat sulit untuk percaya. Thomas yang paling sulit untuk percaya. Dia pernah meminta untuk ditunjukkan jalan kepada Bapa, sebuah pertanyaan yang berfokus pada proses bukan sekedar pada tujuan, dan Yesus menjawabnya bahwa Yesuslah jalan. Namun dalam hidupnya yang fluktuatif (mengalami gejolak naik turun) itu Thomas yang paling sulit untuk percaya akan berita kebangkitan Yesus. Namun akhirnya dia sadar bahwaYesus benar-benar telah bangkit, dan dia berkata : “ya Tuhanku, dan Allahku”. Setelah peristiwa kebangkitan kita melihat bahwa murid-murid yang tidak percaya menjadi rasul yang dengan berani terus melayani Tuhan, memberitakan Injil. Menurut tradisi Thomas pergi memberitakan Injil hingga ke India, Petrus menjadi martir dengan disalibkan secara terbalik karena dia merasa tidak layak disalibkan sepeti Tuhan Yesus.
Paskah semestinya memberikan sebuah perubahan yang besar bagi kita. Bagaimana kuasa Paskah ini dalam diri kita??? Polycarpus memilih untuk dibakar ketimbang menyangkali Tuhannya, Jan Hus mengalami ketakutan dalam menghadapi kematian, ketika dia akan dibakar. Pada malam harinya dia menaruh tangannya pada lilin dan dia sangat ketakutan karena rasa panas yang begitu menyakitkan. Namun ketika hari eksekusi esoknya, dia menuju tempat pembakaran tersebut dengan begitu tenang. Bahkan ketika kita harus mati dibakar kita harus mengerti bahwa hal tersebut adalah anugerah Allah. Berita Paskah, harus merubah diri kita untuk menjadi orang yang menyenangkan Tuhan.

(Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah - KK)
GOD be Praised!!!